Sabar Menanti

My Surya

Sungguh, kita tidak pernah tahu, apa yang akan kita lakukan sedetik lagi. Sungguh. Walau kita sudah merencana, bisa saja gagal. Meski kita sudah menjadualkan dengan tepat, bisa saja batal. Inilah hikmah yang ku peroleh, sampai akhirnya menanti pun ku alami.

Hari ini, hujan turun ke bumi. Ku sabar menantimu reda dengan senyuman.  Karena pasti ada hikmahnya. Saat ku belum dapat meneruskan perjalanan sesuai jadual yang ku rencanakan.  🙂

***

Kemarin sore yang cerah . . .

Catatan ini tentang kemarin sore. Ketika aku sedang menanti. Menanti seseorang untuk ku temui. Selanjutnya, kami akan melanjutkan perjalanan bersama. Menjemput sebuah harapan untuk kami bagikan. Menjemput impian untuk kami tebarkan. Menjemput kebaikan untuk kami berikan. Supaya bukan hanya kami saja yang merasakan bahagianya hidup bersama harapan. Bukan juga hanya kami saja yang merasakan betapa senang menjalani proses menjemput impian. Dan juga bukan kami saja yang merasakan, bahwa bersama-sama dengan kebaikan itu, mensenyumkan.  Sehingga bukan kami saja yang tersenyum, namun membuat senyuman lebih banyak menebar di sekitar kami.

Aku bahagia, mengenalnya. Seseorang yang sering mengingatkanku lagi tentang harapan, impian dan juga kebaikan. Baik secara langsung atau pun tidak langsung. Sehingga kebersamaan kami adalah dalam rangka menebarkannya. Mulai dari orang-orang terdekat yang sering bertemu. Seperti kebaikan pada teman-teman dan saudara.

Aku yang memilih menanti di sini. Walau ia sudah menawarkan untuk masuk saja. Namun aku ingin menikmati suasana. Sehingga menantilah aku di sebuah titik kumpul di bawah sebatang pohon rindang. Karena dari sini ku dapat menyaksikan sinar mentari sore dengan jelas. Di manakah aku menanti…?? Seseorang pasti tahu. Siapakah dia…?? Ku pikir menanti ini tidak lama.

Ya, aku menghadap ke sisi langit Barat. Duduk di kursi panjang yang harusnya diisi oleh lima orang gemuk-gemuk. Namun saat ini, aku hanya duduk sendiri. Akan tetapi aku tidak benar-benar sendiri. Sebab tepat dari arah depanku, ada senyuman yang memantau. Senyuman mentari sore yang hangat. Cemerlangnya yang sempat ku tantang dengan bola mata ini, membuatku silau. Silau yang membuat mataku tidak dapat menatap jelas beberapa detik berikutnya. Sungguh, aku suka momen seperti ini. Supaya selanjutnya, aku dapat memejamkan mata atau mengucek-ngucek kelopaknya. Detik berikutnya, lagi dan lagi, ku ulangi menatap sinar mentari sambil mengintip-intip dari balik jemari yang ku dekatkan ke alis. Mentari sore yang menghangatkan lembaran pipiku.

Ya, aku masih menanti sampai detik berikutnya. Dengan terus merangkai kata. Aha! aku pun tertawa. Karena ku pikir kurang kerjaan sekali ya? Ah, tidak mengapa. Karena aku sangat suka mengabadikan semua tentang duniaku di sini.

Nah, sampai paragraf ini, aku mulai merasakan pegal pada jempol. Karena sejak tadi ia saja yang berlari. Menekan keypad hape yang tersusun rapi. Hape warna biru. Karena hanya dia yang bersedia ku kulik-kulik untuk saat ini. Sedangkan hape lainnya yang biasa ku gunakan untuk mengabadikan alam sedang kehabisan baterai. Sehingga sinar mentarinya yang cantik, tidak dapat ku abadikan. Hanya ku pandang penuh kekaguman.

Aku pun hentikan gerakan jempol sejenak. Berikutnya melirik ke kiri dan kanan. Kemudian ke kanan lagi untuk memperhatikan sekitarku. Di sebelah kanan ada jalan yang dilalui oleh kendaraan. Sejak tadi tidak henti kendaraan yang melaju saling mendahului. Sedangkan baru saja, ada pemandangan baru di sekitar jalan tersebut. Berbeda dari sebelumnya. Apakah itu?

Yups! Dua orang laki-laki sedang berjalan sambil menggiring sepeda motornya. Aku memperhatikan lebih fokus. Dan ternyata tidak terlihat kerusakan apapun pada sepeda motornya. Lalu ku berpikir, barangkali sepeda motornya kehabisan bahan bakar? Sehingga mereka tidak dapat mengendarainya? Bisa saja kan ya? Ah, buat apa pula ku pikirkan tentang hal ini? 

“Yang sabar ya, Bro. Tetap lanjutkan perjalanan dengan membawa keyakinan. Bahwa di depan sana, sedikit lagi, engkau akan menemukan penjual bahan bakar untuk sepeda motormu. Supaya engkau tidak berjalan lagi seperti ini,” lirihku.

Kasihaan mereka, ya.

Tapi sepertinya aku yang juga kasihan. Karena sampai sekarang seseorang yang ku nanti belum muncul juga untuk memperlihatkan diri. Haai, where are you actually? Karena aku mulai mengantuk, kalau harus menunggu selama ini. Maka aku pun berdiri. Lalu menggerak-gerakkan kaki. Berjalan maju dan mundur. Sesekali ke kiri dan ke kanan. Tentu saja masih menikmati waktu. Sure, aku benar-benar mengantuk. Kelopak mataku berat. Berat sekali. Sehingga aku harus memejamkan mata ini walau beberapa detik saja.

“Hoooaaaamm. Lihatlah, aku benar-benar mengantuk, kan? Hayolah cepat ke mari, wahai engkau yang ku nanti. Please. Aku mohon ya.”

Walau ku coba mengalihkan perhatian dari kantuk yang menyapa, namun aku masih kalah olehnya. Maka, aku benar-benar mau tidur sekejap. Aku kembali duduk.

Dua Menit Kemudian . . .

Aku pun terbangun dan terjaga. Saat ku membuka mata, lalu menatap ke depanku jauh di sana, di deretan ruko-ruko, ada seseorang yang memperhatikan. Aku pun segera pura-pura engga tahu dan pasang wajah polos. Kemudian melanjutkan catatanku. Catatan singkat tentang penantian dengan mentari sebagai saksi.

Sungguh, aku tidak percaya. Semua ini masih ku rasa seperti mimpi tapi dalam kondisi terjaga. Oleh karena itu, aku pun tersenyum. Tersenyum pada orang yang memperhatikanku dari depan sana. Eh, mereka sudah bertambah jadi dua orang. Lalu ku perhatikan benar-benar sosok mereka. Siapakah di sana? Ahaahaaa.. mereka masih muda rupanya. Dan aku pun terpesona. Keterpesonaan yang membuatku segera menepikan telapak tangan kiri di pipi. Aku merasakan kesejukkan di pipi. Karena ternyata sinar matahari sudah tidak menghangatkannya lagi. Aku pun mengangkat wajah ke arah langit di tepi Barat. Benar saja, mentari sudah tenggelam. Selama ini kah aku harus menanti? Sekitar satu jam saja.   😉

“Teman-teman bilang, aku penyabar. Benarkah aku sesabar itu? Aku pikir tidak salah kalau mereka bilang begitu. Karena sampai detik ini, aku malah semakin menikmati detik-detik waktuku dengan merangkai catatan. Tapi semua harus berakhir. Karena dari kejauhan mulai terdengar suara mu’adzin. Sayup-sayup terdengar adzan berkumandang syahdu. Aku rindu…”

Ya sudah, sampai bertemu teman, di penantian berikutnya. Saat ku masih harus menanti seseorang, lagi. Maka ku rangkai seuntai catatan sebagai teman. Supaya ku tahu, bahwa menanti itu dapat menjadi sangat menyenangkan, kalau kita tahu caranya.

Lalu engkau, apakah yang sering engkau lakukan saat mesti dan harus menanti, teman?

🙂 🙂 🙂

Advertisements

8 thoughts on “Sabar Menanti

        1. Iya Mba Cintaa, biasanya memang suka begitu juga. Asyik membaca saat menanti, tiba-tiba orang yang dinanti sudah di depan mata. Senangnyaaaa..
          Tapi akhir-akhir ini, stok buku-buku yang mau dibawa-bawa juga lagi ga ada. Hahaaa… 😀 Jadinya, saat harus menanti, aku suka melihat-lihat sekeliling aja. Membaca alam, ceritanya. He. 😉

          Liked by 1 person

  1. ” bahwa menanti itu dapat menjadi sangat menyenangkan, kalau kita tahu caranya” setuju bingits
    kalo cowok sih!, paling demen sama game, atau ngak, ndengerin musik kali..

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s