Menjelang Senja di Kotamu

03-08-2017 06-09-31Setiap orang berbeda cara mengekspresikan cinta dan kasih sayangnya. Berbagai cara pun tercipta mulai dari yang sederhana tidak terbayangkan, namun bisa dilakukan. Sampai cara terumit tidak terpikirkan, namun mampu dilakukan.

Karena adanya niat. Sebab cinta dan kasih sayang itu ada.

Lalu engkau? Bagaimana engkau mengekspresikan cinta dan kasih sayangmu, teman? Apakah cinta dan kasih sayang pada keluarga, sahabat, teman, atau pasangan bahkan pada orang-orang yang baru engkau kenali atau belum engkau kenali sama sekali?

Mereka yang hadir dalam kehidupanmu, menjadi bagian dari waktu-waktu berhargamu. Karena mereka ada bersamamu dan engkau ada untuk membersamai mereka. Apakah berdekatan raga atau jauh di mata. Bagaimana, bagaimana caranya? #mautauajjaaa…

Tertakdir kita bersua dengan orang-orang yang akhirnya menjadi bagian dari hidup kita. Maka mereka pun kita cintai dan sayangi dengan sempurna. Dengan cara kita, dengan gaya kita. Ada yang rela menghabiskan dana berjuta-juta untuk menemui sang tercinta dan tersayang di negara berbeda. Supaya dapat berjumpa. Ada yang tulus mengorbankan waktu dan tenaga demi orang-orang yang mereka sayangi dan cintai sepenuh jiwa, meski harus berpisah sementara. Ada juga yang mau meluangkan waktunya mempersiapkan sebuah hadiah untuk mereka yang ia cintai dan sayangi tanpa sepengetahuannya. Lalu ketika momen bahagia itu datang, ia mempersembahkan pada yang tercinta bersama senyuman yang indah.

Ah, aku juga punya hadiah untuk beliau-beliau yang ku cinta dan sayangi sepenuhnya. Walau beliau tidak tahu. Meski mereka tidak menduga, aku memberikannya dengan caraku. Sekalipun dia baru tahu setelah ku tiada, tidak mengapa. Aku rela. Rela, rela, rela, aku rela…. #nyanyinyanyi.

Berkaitan dengan cinta dan kasih sayang, aku ingin menempelkannya juga di sini pada pigura hari ini. Karena aku sedang terpikir untuk membahas tentang hal ini. Sebab cinta dan kasih sayang membuat hidup lebih berwarna, menjadikan dunia semakin berdaya dan kita yang menebarkan atau menerimanya, pun berbahagia. Namun bagaimana halnya kalau ia tiada? Masih bisakah kita tersenyum? Atau hari-hari menjadi hampa tanpa makna? Aku bertanya. Pertanyaan yang hadir atas fakta-fakta penting yang ku perhati dalam sehari. Baik hari ini atau atas ingatan di hari-hari lalu.

Semua kita punya cinta dan kasih sayang. Nah, aku juga menerimanya dari seorang sahabat baik yang ku sayangi. Sebuah ucapan dan doa di hari spesialku. Doa tentang pernikahanku yang semoga segera berlangsung. Lagi dan lagi, ada yang mengingatkanku tentang hal ini. Aamin ya Allah, semoga doamu Allah kabulkan, teman… Dan engkau juga ya. Tersenyumlah lebih indah, hari ini dan juga nanti.  🙂

03-08-2017 06-19-56Pertemanan kami lebih dari sekadar sahabat. Namun sudah seperti kakak dan adik.

Bermula pertemanan, saat kami di perantauan. Sejak awal mengharungi hidup sesungguhnya. Bertemu suka dan duka tanpa terpikir. Berjumpa uji dan coba tanpa kami sadari.

Olalaaaa…. ternyata, semua itu membuat kami semakin akrab, sebagai teman. Kisah demi kisah pun tercipta. Tentang pertemuan, kebersamaan dan perpisahan. Lalu bertemu lagi setelah berpisah. Lalu berpisah lagi dan karena kami masih tertakdir bersama, maka bertemu lagi. Allah Yang Maha Baik, tentu punya alasan. Mengapa kami harus berpisah, mengapa Dia Mempertemukan lagi. Segera, segera ku kembalikan ingatan berlebih kepada-Nya. Ketika pada suatu hari, aku harus dan mesti berjauhan raga dengan sahabat baikku yang satu ini.

“Tyaaaaaaaaaaaaa… titip salam juga buat mama yaa,” ceriaku mempersembahkan rindu, untuk beliau dan keluarga yang jauh di sana. Karena Tya sudah harus kembali ke kampung halaman, ceritanya. Sebab mama tercinta dan penuh kasih sayang meminta beliau pulang. Untuk meneruskan bakti, pada orang tua. Setelah sekian lama menjemput ilmu dan pengalaman di negeri orang.

Pertemuan kami saat di Bandung. Bandung yang penuh cerita. Sehingga tidak dapat tidak, kami sama-sama merindukannya, setelah kami pun sama-sama jauh dari kota yang penuh cinta dan kasih sayang ini. Setelah anekaragam karakter kami temui di kota ini. Kami mesti harus meneruskan perjalanan lagi.

Walau sekarang sudah jauh dari Bandung, namun ia tetap teringat. Termasuk tentang pengalamanku pada suatu hari. Tentang pertemuan dengan seorang perempuan, ibu muda sebagai istri.

Aku memang belum menikah. Namun pergaulanku, juga dengan orang-orang yang sudah menikah. Sehingga sedikit-sedikit ku mempelajari kehidupan pernikahan. Baik yang bernuansa penuh kebahagiaan, mencengangkan, maupun berhias airmata menggenang di pelupuk mata. Lalu terjun bebas di lembaran pipi. Beliau-beliau pertontonkan padaku.

Ah, aku pun terharu, saat ada yang menangis di depanku. Ketika beliau, seorang ibu muda bercerita tentang liku-liku dalam rumah tangga yang penuh gejolak. Pun, tak asing lagi kalau senyuman mengembang di pipiku untuk merasakan kebahagiaan yang beliau alami, ketika ibu muda lainnya bercerita tentang rumah tangga mereka yang damai, tenteram nan adem.

“Dua sisi yang berbeda,” gumamku.

Pada suatu hari, di saat ku sedang meneruskan langkah-langkah kaki ini. Lalu mampir ku sejenak di sebuah masjid nan megah. Berhubung di sana akan berlangsung pengajian. Sehingga banyak orang datang dari berbagai penjuru. Termasuk aku, yang sedang melintas di dekat masjid tersebut. Aku mampir memenuhi panggilan jiwa. Ku teruskan perjalanan dengan langkah-langkah kaki yang menapak bumi. Yah, masih menapak di bumi. Sebab ku berjalan kaki.

Langkah demi langkah ku ayunkan dengan pasti. Bersama kepercayaan diri yang ku kumpulkan dari hari ke hari. Bersama keberanian yang ku rutinkan dari waktu ke waktu. Karena kalau sudah jauh di sini, tidak ada ceritanya untuk tidak berani.

“Berani, yaa…,” bisik ibu sesaat sebelum melepasku pergi. Untuk meneruskan perjalanan diri. Menjemput ilmu merengkuh cita. Meneruskan langkah menuju harapan. Untuk mewujudkan asa. Huuwwaaa… Sediyh awalnya.

Semakin dekat langkah-langkahku menuju masjid, semakin bertambah semangatku. Karena akan ada pengalaman baru yang ku peroleh, yakinku. Akan ada ilmu baru yang siap ku bawa pulang. Saat nanti ku kembali. Dan benar saja. Saat sudah masuk dan mengambil posisi di tempat yang benar-benar membuatku ‘nyaman’, maka aku pun siap menerima ilmu baru.

Beberapa puluh menit kemudian, …

Tanpa ku sadari, aku sedang duduk di depan seorang ibu muda. Beliau sedang terisak, ketika ku berpaling dan menoleh ke belakang. Karena aku penasaran, dari mana sumber suara? Beliau tersedu.

Aku tidak pernah tega melihat orang menangis di dekatku. Kalau pun tidak langsung menangis bersama mereka, aku pasti menangis beberapa saat kemudian. Entah mengapa, rasa yang beliau alami, seakan menyikut ruang hatiku. Sehingga aku pun tersentuh pula.

Aku beringsut dari posisi dudukku, mundur-mundur pelan. Sampai akhirnya kami pun sejajar. Dan untungnya, tidak ada sesiapa dekat ibu muda tersebut. Maka, kami dapat duduk bersebelahan, untuk menit-menit mencekam berikutnya.

“Ada apa gerangan…?,” aku menjadi penasaran.

Aku mau bertanya, namun tidak mampu mengucap kata. Maka langkah pertama yang ku lakukan adalah, menatap beliau dengan tenang. Ku perhatikan bulir-bulir airmata yang jatuh berderai ke pangkuan beliau. Air mata yang bening, selalu saja bermunculan dari sudut mata beliau. Airmata yang membuatku mesti dan harus mengeluarkan suara, untuk memberikan sapaan.

“Ada apa, Teh…,?” tanyaku pelan.

Supaya beliau mengerti yang ku rasakan dan aku mengerti yang beliau alami.

Tidak hanya diam, beliau memberikan tanggapan. Dengan masih tersedu, menahan perih di dada. Aku tahu beliau sedang terluka. Sungguh, engkau perempuan sama sepertiku. Mempunyai perasaan yang terkadang tidak terkatakan. Maka, meneteskan airmata yang mengguyur pipi dan membuyarkan tatapan, menjadi pilihanmu.

Beliau menyeka airmata, yang terus saja meleleh. Beliau menepuk-nepuk pelan sang buah hati yang ada dalam pangkuan. Seorang adik kecil yang tampan. Adik kecil yang sedang tertidur dalam dekapan. Beliau menenangkan diri, seraya memulai pembicaraan.

“Lagi sedih aja… bla, bla, bla,…,” beliau utarakan alasan kesedihan yang beliau rasakan. Sampai akhirnya, beliau bercerita tentang liku-liku perjalanan yang tidak sepenuhnya berhias kesenangan. Namun ada juga bumbu-bumbu yang membuat bibir mesti menahan suara. Supaya tidak terkatakan yang tidak seharusnya terucap.

“Teteh mau suami mengerti, begini. . .. . . begini. . .. . Supaya beliau mengerti, huhuuu…,” menderu lagi tangisan beliau. Aku mau nangis jadinya.

Lalu, beliau berpesan untukku tentang perjalanan, “Nikmati waktu dan teruslah berjalan…” Sedangkan aku hanya bisa mengangguk pelan, meresapi pesan yang beliau titipkan.

Dan kemarin sore menjelang senja, ibu muda lainnya meneteskan permata kehidupan di depanku. Lagi dan lagi, karena adanya perdebatan hebat dengan pasangan.

Apakah begitu adanya sebuah pernikahan? Aku bertanya dan masih bertanya. Semua membuatku penasaran. Ada apa di sana? Pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari siapa saja. Karena berbeda pasangan tentu berbeda pengalaman, bukan? Pernikahan itu, tidak semua tentang kesedihan, bukan? 

Sampai hari ini, beliau tidak ada di hadapanku. Kami belum dapat bertatap mata lagi, untuk ku perhati kebahagiaan dari dua bola mata beliau. Beliau seorang ibu. Kami belum bisa bertukar suara juga, untuk berbagi beberapa nasihat, yang biasa beliau titipkan padaku. Untuk itu, aku pun terus bertanya. Ada apa di sana? Apakah beliau baik-baik saja?

Semoga kebahagiaan membersamaimu, kawan. Bersama cinta dan kasih sayang yang menyatukanmu dalam keluarga kecilmu. Keluarga yang semenjak mula, engkau damba sakinah, mawaddah, wa rahmah, … hingga jannah.  Aamiin.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

2 Comments

  1. “Pernikahan itu, tidak semua tentang kesedihan, bukan? ”
    Ya kadang orang harus mengenal sedih dulu kan, baru bisa mengatakan bahagia..
    pernikahan itu sangat rumit saat di rumuskan, sangat berat saat di dengarkan, sangat menakutkan saat dikhayalkan.
    tapi ketika di jalankan dengan sebenar-benarnya pernikahan, InsyaAllah ada jalan menuju kebahagiaan.. 🙂

    Liked by 1 person

    1. Iya, betul-betul Mas Nur,
      Ooo . . . Sebegitunya kah?

      Baiklah, terima kasih atas pencerahannya, Hehe, dapat ilmu baru, 🙂
      “Menjalani dengan sebenar-benarnya yaa . Siip, sip. Siap-siap. Semoga kebahagiaan lebih sering menyerta sepanjang usia pernikahannya, mereka, dia, dirimu dan juga diriku (kelak), semuanya… aamiin.”

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s