Mentari Bersinar Lagi

Sore hari kemarin. . .

My SuryaMelihat layang-layang menari-nari di udara, aku suka. Akhir-akhir ini memang begitu. Kebanyakan pemuda dan bapak-bapak suka bermain layang-layang.

Mulai sore hari hingga menjelang senja tiba mereka asyik mengulur dan menggulung tali layangan dengan senang. Terkadang ku lihat mereka tertawa, atau diam, atau ikut miring ke kiri dan atau kanan, mengikuti gerak layang-layang di atas sana.

Sejenak memalingkan wajah ke udara, maka terlihatlah pemandangan yang sama. Dari hari ke hari, di udara ada layang-layang. Sehingga aku pun membiasakan melihat-lihat langit sore, sepanjang perjalanan pulang. Supaya jauh berjalan tidak terasa. Tiba-tiba sudah dekat. Selain itu, juga untuk menyegarkan mata yang seharian menatap datar ke depan. Atau menunduk-nunduk mencari-cari surat cinta yang terselip-selip dalam kerumunannya. Supaya ia tersusun rapi lagi dan enak membacanya.

Pagi hari ini . . .

Ku sempatkan juga memandang ke langit timur. Untuk mengetahui, apakah mentari bersinar terang tanpa awan yang melingkupinya? Karena ku lihat cuaca terlihat terang. Tidak seperti biasanya, berselimut kabut putih. Ditambah pula dengan titik-titik embun sisa hujan semalam.

Sesaat setelah ku keluar mendekati teras, lalu mencondongkan badan ke depan melintas pagar, kemudian melirik ke kiri, surprised! Mentari pun tersenyum padaku.  Senyuman hangat, yang ku suka. Senyuman ramah, penuh semangat. Senyuman yang sama dengan dulu. Senyuman tertata, terjaga, dan terbiasa. Walau ia tidak selalu terlihat, namun ku yakin bahwa mentari selalu bersinar setiap hari. Ia tersenyum. Senyuman mentari yang ku suka.

Pagi ini pun sama. Aku masih suka sinar mentari. Mentari pagi yang membuat mataku kedip-kedip saat bertatapan dengannya. Mentari pagi yang membuatku ingin berlama-lama berada di bawah sinarnya. Namun aku tersadar, ada aktivitas lain yang harus ku lakukan. Tidak hanya duduk manis di rooftop, atau selonjoran di rerumputan. Karena aku perlu melangkah lagi. Untuk meneruskan perjalanan di dunia yang penuh kejutan.

Selain mengagumi mentari dan sinarnya yang berbinar, memandang layang-layang di udara pada sore hari, seperti yang ku lakukan akhir-akhir ini, aktivitas lain yang ku lakukan adalah menyusun huruf demi huruf menjadi kata. Hingga hadirlah kalimat yang berbaris-baris. Kemudian ku senyumi ia dengan bahagia, saat ku sukses merangkai kalimat yang membahagiakan. Atau bahkan tersedu ku terharu, ketika kalimat yang ku susun membuat deru gemuruh di ruang dada. Karena bagiku, menyusun kalimat adalah sarana untuk mengekspresikan diri, mengeluarkan uneg-uneg atau supaya ku tahu ada apa dengan diriku.

Nah, setelah tercipta sebaris kalimat, maka aku tahu yang ku alami, ku inginkan, ku pikirkan, juga yang ku rasakan. Ternyata, ada rupa-rupa kejutan yang muncul dari dalam diriku sepanjang proses penulisan yang ku lakukan. Semua tidak akan ku ketahui, tanpa menuliskannya. Dan tentu saja aku tidak mudah tersenyum seperti yang engkau saksikan, kalau sebelumnya dan sebelum ini aku tidak menulis. Maka, tertemukanlah salah satu motivasiku dalam menulis. Bahwa bagiku, menulis itu adalah merangkai senyuman.

Yes, sure. Sungguh-sungguh, menulis sangat membantuku untuk mau tersenyum. Apakah tersenyum karena aku suka dengan catatan-catatan di masa silamku yang berarti mereka adalah kisah perjalanan hidupku. Atau tersenyum karena ku tidak menyukainya, karena saat membacanya lagi, aku tidak percaya. Sebab baru tersadar, dulu aku begitu yaa. Oh, ternyata aku begini yaa. Ahaa.. 😀 Tapi, masa lalu tetaplah masa lalu. Ku jadikan sebagai pengalaman dan pelajaran. Atau cukup senyumi saja. Dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Karena hidup masih berlangsung.

Berjalan-jalan sejenak ke rumah tetangga lainnya di kota berbeda, aku suka. Walau beliau jauh di sana, namun ku cepat sampai. Tersebab dunia maya menjadi sarana. Sungguh, aku bersyukur, dulu pernah bercita seperti ini. Untuk dapat terhubung dengan dunia melalui tulisan. Alhasil, semua ku jalani kini. Sungguh masih seperti mimpi.

Pada sebuah kesempatan, aku meluangkan waktu untuk mengintip-intip coretan Mas Nur, tentang Bagaimana Memotivasi Diri Untuk Tetap Konsisten Dalam Menulis. Beberapa cara beliau sampaikan. Beberapa tips beliau tuliskan. Lalu, aku pun tersenyum lagi. Sebab ternyata pertemuan kami di dunia maya, adalah karena salah satu konten yang beliau ungkapkan dengan jelas. Aku terharu. Lebih tepatnya tersenyum lagi. Sebab, kalau tidak menulis, maka aku belum tentu menjalani hari-hari penuh senyuman seperti ini.

Sukses menjalani dunia nyata dengan hari-hari yang penuh uraian airmata, tidak mengurangi niatku untuk melanjutkan merangkai tulisan. Bahkan saat kesedihan sedang dalam-dalamnya, aku pun menulis. Apalagi saat jauh dari keluarga dan menjalani hidup di perantauan dengan suka dukanya. Maka, menulislah aku segera. Tulisan yang pernah tidak ku baca-baca lagi, setelah ku tulis. Karena aku hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg saja dan tidak percaya ternyata keadaan termiris yang ku alami. Atau aku suka membuka dan membaca-bacanya lagi, sebab ku rindukan suasana silam yang mencekam, mengagetkan, atau mensenyumkan. Bahkan saat aku tidak bisa ke mana-mana lagi di waktu-waktu terakhir, pengalaman tentang perjalanan-perjalanan tanpa rencana yang ku lakukan dan kemudian ku tuliskan, dapat mengembalikan aura kebahagiaanku lagi. Maka, aku tersenyum saat duduk manis, sambil mengurai pengalaman lagi dengan tulisan yang berbeda. Namun temanya sama, tentang perjalanan. Yah, menulis bagiku adalah sarana untuk merangkai senyuman.

Selain merangkai senyuman, ternyata ada lagi tambahan-tambahan yang ku dapatkan dari menulis. Salah satunya adalah menjumpai orang-orang baru di sana . . . jauh di mata, berbeda kota, berbeda negara, bahkan berbeda dunia. Aku di dunia nyata, mereka juga di dunia nyata. Akan tetapi, kami dapat bersapa-sapa dan bersenyuman di dunia maya.

Sungguh berarti, makna menulis bagiku. Makanya, aku masih dan ingin selalu menulis dalam berbagai kesempatan. Baik aku mempunyai waktu luang, atau meluangkan waktu-waktuku untuk merangkai tulisan. Agar senyuman lebih sering menemani. Supaya hari-hari menjadi semakin berseri.

Hari-hari yang tidak selalu sama, namun ada-ada saja surprise dan kejutan di dalamnya. Seperti senyuman cerah sinar mentari pagi ini. Senyuman hangat yang ia teladankan untuk kita.

Kalau detik ini kita sedang mengurai airmata karena kesedihan, maka kita tidak dapat memastikan hal yang sama kita alami pada jam-jam berikutnya. Begitulah kehidupan. Kehidupan yang masih kita jalani hingga saat ini. Ia berharga, untuk kita lewatkan begitu saja, tanpa senyuman…    Bukankah begitu, kawan?

🙂 🙂 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Mentari Bersinar Lagi

  1. udah panjang gini kata yang terangkai… wkwkwkwk
    suka bacanya,
    bagi sebgian orang, mungkin menulis itu sebuah hoby yang membosankan,
    tapi bagi yang sudah jatuh cinta dengan menulis, menulis itu menyenangkan
    banyak hal yang bisa didapat dari menulis..
    ada rasa lega dengan kepenatan yang telah terjadi,
    Ada rasa bahagia saat kita mengukir kejadian indah yang telah berlalu.
    dan sebagainya..
    yuk terus menulis, bukan untuk apa2, hanya untuk bisa menghias senyum kita setiap saat 🙂

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s