Tersenyumlah Sekarang Juga

my-surya“Hapus air matamu kawan, dan tersenyumlah sekarang juga. Senyuman cantik nan menarik. Senyuman unik yang antik,” pintaku padanya. Setelah ku lihat ia mulai tenang.

“Hiks, hiks….,” masih tersisa sedunya yang ia coba tahan. Sampai akhirnya tangisnya pun reda.

Ku lihat ia mulai menempelkan jemari tangan kirinya di ujung mata. Lalu mengusap kelopaknya sambil memejamkan mata. Masih ada sisa-sisa airmata yang menempel di lembaran pipinya yang lembut. Ku bantu mengeringkannya dengan tisu yang semenjak tadi ku genggam.

Ya, menangisnya memang diam. Tidak teriak-teriak seperti anak kecil. Setahuku memang begitu. Ia menangis dalam hening, pelan dan tanpa suara. Kalau pun ada, hanya hiks hiks saja yang terdengar. Selebihnya, airmatanya yang bicara. Saat ia ingin meluahkan segala rasa. Ketika ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Maka ia pun menangis.

Dulu, begitu. Namun kini ia berbeda. Sesaat setelah airmatanya akan tumpah, maka ia meraih lembaran catatan. Untuk selanjutnya menepikan rasa dalam tulisan. Tentang sedihnya, tentang dukanya, tentang segalanya. Terkadang meneruskan tetesan airmata yang tidak mungkin ia tahan. Terkadang sambil tersenyum. Terkadang ia diam, masih bersama airmata yang menganak sungai di pipinya.

Ia sahabatku. Masih seperti dulu. Sahabat lama yang membersamaiku di dunia. Sahabat unik yang ku perhati segala gerak geriknya. Sahabat baik yang memberiku ruang untuk mengekspresikan diri bersamanya. Sahabat yang tidak ada di mana pun, yang sama dengannya.

***

Bermula dari niat, miliki tekad yang kuat, Allahu Akbar! “Tersenyumlah Sekarang Juga”. Begini judul buku yang tersimpan di antara buku-buku lainnya. Ia cantik dan menarik. Maka aku pun tertarik lalu mendekat dengannya. Ku rengkuh ia dengan senyuman. Karena ia memesankan begitu.

Senyuman yang menyertaiku dalam kebersamaan kami di toko buku. Yah! aku bertemu dengannya di toko buku. Saat ku sedang berjalan-jalan menghabiskan ‘me time‘ di akhir pekan yang sangat spesial. Tanpa sesiapa, teman, kawan ataupun kenalan. Aku melangkah sendirian menuju keramaian. But, I enjoy my time, yesterday morning until afternoon.

Hadiah terbaik yang dapat ku berikan pada diriku adalah mempertemukannya dengan kebaikan-kebaikan yang ia inginkan. Salah satunya adalah melakukan kunjungan ke tempat teman-teman kami yang baik hati. Mereka adalah buku-buku cantik yang tersusun rapi di toko buku.

Saat berkunjung ke toko buku, aku tidak selalu membeli buku. Namun sukses membaca di sana, dalam waktu lama. Berlama-lama, keliling-keliling, jalan-jalan. Membaca tema-tema yang ku suka. Sesekali juga coba-coba melangkah ke rak-rak yang belum pernah ku kunjungi dengan tema asing bagiku. Di sana ku temukan pengalaman baru. Namun seringnya, aku nongkrong di dekat rak-rak Pengembangan Diri. Begitu seringnya.

Nah, kunjungan kali ini juga, tanpa ku sadari, aku sudah menghabiskan waktu di pojok pengembangan diri. Dan bertemulah aku dengan buku cantik karya seorang dokter, dr. Florentina R. Wahjuni CQ. Phy., CHt. Aku suka buku ini, aku senang bersenyuman bersamanya. Terima kasih ibu… untuk sharing yang luar biasa. Sangat bermanfaat.

Untuk kembali mengingat pesan-pesan dalam buku ini, aku pun menulis sebuah catatan tentang pertemuan kami, di sini. Saat ini. Begini…  🙂

Tema bukunya tentang senyuman. Terlihat jelas pada sampul dengan tulisan yang penuh warna. Ya, seperti hidup ini, berwarna-warni. Terkadang biru menghampiri relung hati. Terkadang warna merah muda mengintip-intip di sana. Terkadang kelabu nyangkut di pelupuk mata, terkadang merah marun menyatu dengan kepala. Terkadang bening menepi di pipi, suatu hari hijau muda memamerkan pesonanya.

Yah, hari-hari pun penuh warna yang menampakkan semua keindahannya. Hidup yang sedang kita jalani hingga saat ini. Lalu, masih kah kita mau mensenyumi keadaan demi keadaan yang datang silih berganti? Seiring dengan warna berbeda yang mengiringinya. Karena dengan tersenyum, ada nuansa berbeda yang kita rasakan. Seperti ketika sedih, lalu tersenyum, maka pipi pun menjadi ringan. Pikiran tenang, hati juga tersenyum. Walau berat, mulailah dengan niat. Maka, menjadi mudah.

Aku ingin mensenyumi warna-warni hidup dengan mudah. Aku ingin mensenyumi keadaan dengan cara yang indah. Aku ingin meninggalkan jejak-jejak terbaik yang megah. Hingga kelak, saat ku tidak dapat lagi meneruskan langkah-langkah…  senyuman ku yang mereka lihat saat kami bersama, masih mensenyumkan wajah beliau-beliau saat mengingatku. Begini aku punya impian. Sejak dulu, sejak lama. Sejak ku mulai berkecimpung dengan dunia yang sesungguhnya. Dunia nyata yang penuh warna.

Di dunia ini. Tidak semua yang kita suka, kita temui. Memang. Pun, tidak semua yang kita harapkan, akan kita dapatkan. Sungguh. Lalu, kalau kita selalu berkeluh, kapan lagi kita bersabar? Kalau kita sering mengomel, kapan lagi kita bersyukur? Kalau kita sering-sering menangis, kapan lagi kita tersenyum? Kalau kita selalu menuntut, kapan kita memberi?

🙂 🙂 🙂

Love,
-My Surya-

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close