Mentari pun Tersenyum (31)

air-putihPagi ini, bangun tidur, Mentari langsung membuka pintu kamar. Selanjutnya melakukan aktivitas pagi dan setelah itu berjalan menuju ruang tengah. Dan kemudian membuka pintu depan yang mengantarkannya ke teras. Sehingga ia dapat terhubung dengan dunia luar yang sejuk. Sejuk yang menyambutnya dengan kesegaran. Kesegaran udara pagi yang masih bersih, belum berpolusi.

Aku mengintipnya tidak terlalu jauh, seraya mensenyumi aktivitas paginya.  Karena aku menyayanginya, lebih dari sayangku pada diriku sendiri. Sejak kami berkenalan satu windu yang lalu.

Aha! Sudah sewindu kami berteman. Pertemanan yang berujung persahabatan akrab. Keakraban yang kami rawat dari hari ke hari. Hari-hari yang menitipkan kami beraneka uji. Terkadang suka cita, terkadang duka. Saat ku berduka, ia mengingatkanku untuk tak larut. Saat ku bersuka cita, ia mengingatkanku untuk tak terlena.

Yes, sampai hari ini, kami masih bersama, berdekatan, menjalani hari ini.

Dari teras, ia layangkan pandangan ke depan, lalu ke atas menyentuh awan. Sehingga ia dapat melihat jelas kabut tipis sisa hujan semalam serta atap-atap rumah tetangga. Sampai beberapa menit berikutnya, ia masih di teras. Berdiri mengembangkan tangan, seraya menghirup udara pagi. Sesekali ku melihatnya memejamkan mata rapat-rapat dan menghembuskan nafas pelan.  Lalu, mentari pun tersenyum.  🙂

Terlihat Mentari benar-benar menghayati suasana pagi ini. Pagi yang kembali menjadi jalan syukurnya atas anugerah termewah dari Sang Pencipta. “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah… Aku masih bernafas pagi ini, dengan tenang. Ku siap menjalani hari, dengan senang. Sebagai nikmat terindah dari-Mu Yang Maha Penyayang. Selamatkan dan bimbingku dalam melanjutkan langkah, karena bersama-Mu ku tidak akan lelah…,” bisiknya perlahan. Dalam lirih, ia berdoa. Disaksikan oleh semilir bayu yang menepi di pipinya dan juga aku. Termasuk cericit burung gereja yang sejak tadi ramai meriuhkan suasana pagi. Kami mengaminkan bersama.

Selanjutnya, Mentari kembali ke dalam ruangan. Lalu duduk manis di kursi santai yang terletak di ruang tengah. Tidak berapa lama, ia bangkit lagi dari duduknya. Kemudian melangkah dan mengambil segelas air. Oh, ternyata ia mau minum. Siiip, aku juga haus, aku mau minum juga yaa. Ku dekati ia dan ia pun tersenyum padaku. Sebelah tangan kanannya yang sudah memegang gelas, kini beralih ke pipiku. Sedangkan gelas beralih ke tangan kirinya. Ia menepuk-nepuk pipi tirusku.

Upz! Dingin sekali tangannya.

“Mentari, adakah engkau baik-baik saja?,” aku mulai cemas.

Mentari mensenyumiku. Tanpa suara sebagai jawaban yang terucap melalui bibir. Namun hanya senyuman yang ia berikan. Senyuman khas yang sering menghiasi wajahnya. Sehingga ia terlihat menarik saat tersenyum. Senyuman yang ku coba-coba juga menghiasi wajahku, supaya kami sama-sama menarik. Ya, menarik siapa saja yang ada di sekitar kami, untuk melakukan hal serupa. Supaya semakin banyak senyuman menebar di dekat kami. Karena kami senang menyaksikan wajah-wajah yang penuh senyuman. Dan tentang hal ini, ku pelajari dari Mentari, pertama kali. Aku belajar tersenyum bersamanya. Ia sahabatku yang baik.

Mentari tidak dalam kondisi baik hari ini. Karena ia sedang asyik dengan pikirannya. Pikiran yang bercabang-cabang dan banyak sekali. Sampai aku pun tidak mengerti, mengapa ia pemikir sekali? Sedangkan aku, suka-suka dan tenang-tenang serta santai-santai saja dengan hidupku. Sehingga aku merasa lebih ringan menjalani hari-hari. Sesuatu yang tidak ku pahami tentangnya, ya itu. Tentang ia yang terlalu pemikir. Sampai menjadikannya tidak dapat menikmati detik waktunya dengan baik. Ketika ia berpikir panjang dan sangat serius.

Namun begitu, aku mengerti, begitulah ia adanya. Mentari yang pemikir dan aku yang bisa santai. Tapi aku perasa. Kami pas sebagai sahabat baik yang saling membantu. Terkadang ia memikirkan tentangku, yang pergi-pergi tanpa ku rencana. Ia sampaikan padaku, untuk ingat waktu. “Jangan lupa kembali dan selalu ingat jalan pulang yaa,” bisiknya pada suatu hari. Ketika ku sampaikan padanya, aku mau berjalan-jalan dulu. Supaya suasana hatiku membaik.

“Ooo.. tentu saja aku lupa jalan pulang. Kalau engkau tidak bersamaku, menemani,” candaku mengagetkannya. Padahal saat itu ia sedang tidak enak badan. Panas tinggi mendera raganya. Namun karena sayang padaku dan tidak mau aku hilang di perjalanan, ia pun menawarkan diri untuk menemaniku. Aku tidak menolak, karena memang itu mauku. Supaya apa? Agar ia cepat sembuh. Karena tips ini ku terapkan pada diriku juga. Saat demam dan panas tinggi, apalagi kalau flu tahunan-ku menyapa, maka aku senang jalan-jalan. Pulang dari perjalanan, maka demam pun berkurang dan flu tersisa sedikit saja. Dan ku ingin Mentari cepat sembuh dengan meniru caraku menyembuhkan diri sendiri. Hihiiii. 😀 Aku kejam, kadang-kadang. Kejam pada diriku sendiri. Karena aku tak mau ia menjadi anak manja dan lemah.

***

Setelah mengambil air putih dan menyerahkannya segelas untukku, kami pun duduk bersama. Ia mengajakku duduk di tikar saja, bukan di kursi. Karena ia lebih senang bersimpuh atau selonjoran meregangkan otot-otot kaki. Sebab terbiasa jalan kaki, kaki-kakinya sering pegal. Ahahaa… 😀 Aku juga, sama sepertinya. Makanya, kami bisa berteman seperti ini. Sangat akrab, tanpa sekat. Walau ke mana-mana kami tidak selalu bersama.

Ya, akhir-akhir ini, minuman tersering yang kami minum adalah air putih. Segelas pagi, dan bergelas-gelas siang hari. Pun malam hari, juga air putih yang kami minum. Karena tidak ada lagi hot tea or ice tea seperti hari-hari lalu. Sejak kami mulai memedulikan diri. Maka, meminum air putih untuk menghilangkan dahaga, adalah pilihan kami. Pilihan pejalan kaki yang suka haus-haus. Apalagi kalau melangkah di bawah terik sinar mentari di luar sana. Maka, kami segera mencari bergelas-gelas air putih saja.

Selain itu, saat panas tinggi pun, minum banyak air putih menjadi penurun panas.

***

Duduk-duduk berdua pagi hari, kami habiskan dengan bercerita. Ia bercerita tentang pengalaman yang ia peroleh saat sedang tidak bersamaku. Pun aku juga. Aku sampaikan padanya hal-hal baru yang ku temui di dalam perjalananku.

Memang, kami tidak selalu bersama. Karena terkadang, aku dan atau dia, suka berpisah tanpa kami duga. Sehingga kami harus saling mencari, saat yang lainnya pergi begitu saja tanpa memberi tahu. Ketika hal ini yang ku alami, serta merta ku segera merindukan Mentari.

Ia yang sering membuatku kangen, saat tidak bersamanya. Begitu pun dirinya. Pernah juga ku mendapati wajahnya berselimut mendung nan kelam ketika ku perhati. Dan setelah ku telusuri, ternyata semua itu ia alami, karena ia kehilanganku. Sedangkan aku tidak menyadarinya lebih awal.

Nah, hebatnya, Mentari sering memedulikanku. Walau aku terkadang cuek. Bahkan saat ku kelelahan pun, ia tidak lupa mengingatkanku untuk segera beristirahat atau berhenti sejenak dari aktivitasku. Begitu baik ia padaku. Namun lagi lagi, aku suka tidak mengindahkannya. Lalu asyik dengan diriku sendiri. Tanpa merasa yang ia rasakan. Tanpa mengerti, bagaimana ia memberikan kebaikan untukku.

Seperti pada suatu hari. Aku tidak menyadari, kelelahan ku alami. Hingga aku pun tumbang dan ‘mungkin’ pingsan. Karena setelah terjaga, ternyata sudah lama ku tertidur. Aku bangun dalam kondisi lapar. Lapaaaar, sekali. Setelah ku ingat, rupanya aku belum menyantap sesuap pun nasi dalam sehari. Aku pun rindu makan. Dan kemudian memasak nasi dan sayuran untuk ku santap. Padahal sudah malam, menjelang dini hari.

“Anggap saja makan sahur,  😀 ” celotehku pada Mentari yang mengikutiku kian ke mari dan bertanya-tanya, “Ngapain, masak malam-malam begini?” Lagi dan lagi aku tidak pedulikan ia.  Tapi ia selalu baik padaku. Sejak pagi hingga siang mengingatkanku tidak henti. Untuk istirahat sebentar dan kemudian menambah energi dan nutrisi. Tapi aku malah meneruskan aktivitasku. Ujung-ujungnya, yaa… merugikan diri sendiri.

Aku beruntung, mempunyai sahabat seperti Mentari. Walau kami tidak selalu bersama, ia selalu mau mengingatkanku dengan kesabaran berlebih. Bukan malah meninggalkanku, seperti yang ku lakukan padanya, kalau ada yang tidak ku sukai darinya.

Namun seiring waktu, aku menjadi tahu diri. Belajar mengerti, belajar memahami, belajar banyak hal lagi dari Mentari. Karena kehadirannya tentu ada arti bagi perkembangan diriku.

Ia mengajakku bergerak, kalau ku berdiam diri. Saat ku tanpa suara, ia menyapa. Saat ku bicara banyak, ia mengingatkan lagi. Ia tersenyum, kalau ku mau mendengarkan nasihatnya. Ia tersenyum, saat ku tidak pergi-pergi tanpa dirinya. Dan senyuman Mentari pagi ini, ia persembahkan untukku. Sebagai wujud syukur atas kebersamaan kami yang awet sampai detik ini.

Pagi-pagi, Mentari mengajakku memulai hari dengan senyuman. Melalui senyuman yang menghiasi wajahnya. Sejak awal berkenalan, Mentari sudah mengingatkanku tentang hal ini. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close