Air Mata Hujan tanpa Mentari

Related imageMulanya ia berkedip pelan. Lama kelamaan berkedip dengan tambahan kecepatan. Berikutnya, kedipannya semakin cepat dan aku mengikuti dengan saksama. Ia seperti kurang nyaman dengan kondisinya. Makanya mengedipkan dua bola matanya yang lentik.

Kelap kelip lampu masih terlihat di sekitar kami. Lampu-lampu yang menghadirkan penerangan untuknya dan aku. Lampu-lampu yang membuatnya terlihat jelas olehku. Sampai kedipannya pun tidak luput dari pandanganku.

Ia adalah sahabatku, Hujan. Kebersamaan kami kali ini adalah dalam rangka bertemu sapa. Kemudian menghabiskan beberapa jam waktu untuk bertukar cerita.

Di antara kata-kata yang mengalir melalui bibirnya, ia mengedipkan matanya lagi. Lebih sering dari semula. Kedipan yang diikuti oleh tetesan bening permata kehidupan di pipinya. Yah, terlihat ia mulai sesenggukan di antara kata-kata yang terus mengalir. Sekali, ia terdiam atau suaranya tertahan. Namun ia masih mau bicara. Supaya lega dan tersalurkan segala beban di dada, tampaknya. Betulkah begitu, teman?

Ku tempelkan telapak tangan kananku di pundaknya, kemudian menepuk-nepuk pelan untuk menenangkan. Semakin menjadilah sedunya. Ia terharu, ia terkesan. Bukan menghentikan bulir-bulir bening, malah semakin ramai berjatuhan di pangkuannya. Aku pun turut merasakan yang ia rasakan, melalui cerita yang ia sampaikan. Sungguh dalam lukanya, duka yang memberatkan jiwanya.

Sudah dua puluh menit kami bersama. Seluruh waktu kebersamaan kami, ia habiskan dengan tangisan. Tidak sekalipun ia menampakkan senyuman. Apakah karena kesedihannya yang sangat dalam? Atau aku yang tidak pandai memberikan penghiburan?  Untukmu sahabatku yang ada di hadapan, tolong maafkan… aku sebagai teman.

***

Begitulah kehidupan memamerkan keindahannya. Terkadang ia memberi kita ruang untuk menampakkan senyuman secerah sinar mentari. Namun terkadang sebaliknya, ia sesaki dada kita dengan kesedihan selayak mendung menjelang hujan. Sehingga bulir bening permata kehidupan pun berjatuhan, menghujani wajah. Semoga menjadi ingatan bagi kita, untuk tidak terlalu memperturutkan. Bila sedih, seadanya. Saat bahagia, secukupnya. Tidak berlebihan, namun sekadarnya.

Ku berharap, temanku yang dalam kesedihan ‘Hujan’, masih mau mengembangkan senyuman. Pun yang dalam kebahagiaan ‘Mentari’, masih ingat dengan mereka yang dalam kesedihan. Sehingga tidak berlebih-lebihan dalam mengurai perasaan.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s