Kebaikan yang Sempurna

my-suryaDi akhir catatan ini ku sampaikan untukmu, seorang pemuda baik hati, ku sebut saja abang. Beliau yang membantuku menyeberang jalan raya pagi ini, “Terima kasih yaaa… terima kasih sungguh sangat. Atas kebaikan hati yang tidak terbeli.”

Aku sungguh bahagia dengan kebaikan yang engkau beri. Semoga kebahagiaan menyertaimu juga yaa. Kebahagiaan yang membuat hari ini mu menjadi semakin berarti. Kebahagiaan yang semoga lebih sering menaungi ruang hatimu. Lalu, engkau pun tersenyum. Seindah senyuman yang engkau tebarkan tadi, saat membantuku.

Selalu saja begini. Aku bahagia, saat ada yang berbuat baik padaku. Kebaikan yang belum tentu dapat ku balas dengan kebaikan serupa, padanya. Maka hanya dapat ku doakan saja mereka, meski kami sudah mesti harus berjarak lagi. Walau kebersamaan kami sebentar saja, seperti saat menyeberang tadi.

Terkadang memang harus begini. Aku mau menerima bantuan sesiapa saja yang ada di dekatku. Aku suka saat mereka berbaik hati padaku, walau tidak ku minta. Ah, apakah ini yang namanya merepoti?

***

Beliau membuka pintu, naik ke posisi supir, lalu menyalakan mesin. Nah, pada saat itulah aku mempaling sekejap, ke arah datangnya suara. Lalu, aku pun menggerakkan dan mengangkat tangan sejajar pundak. Aku sempat tersenyum pada beliau, sambil melambaikan tangan, lalu bilang begini, “Tunggu sebentar ya, Bang… 🙂 .”

Tangan-tangan yang sedari tadi ada di sisi, terkadang menggantung, terkadang bersedekap, terkadang ku putar-putar ke depan seperti orang sedang menari. Atau sesekali menempelkan jemari di pipi, atau di puncak hidung. Ah, kurang kerjaan sekali. Tapi, memang begini yang ku alami. Karena gusar, sedikit cemas. Sebab, aku akan menyeberang jalan, tapi sungguh sangat banyak kendaraan di jalan ini. Semua seakan berlari mengejar mimpi. Mereka tidak berhenti dan terus melaju. Sedangkan aku? Hanya bisa berdiri. Sampai bantuan pun datang, malaikat berikutnya . . .   😀  Aku jadi terharu.

“Aai, mau membantu yaa, terima kasiiiih….,” ungkapku sepenuh hati.

Beberapa saat sebelumnya, ternyata beliau segera membuka pintu mobil lagi, dan kemudian turun. Lalu mendekatiku. Karena tiba-tiba sudah ada di samping kananku.

Padahal saat-saat sebelumnya lagi, ketika ku meminta izin tadi, beliau membalas senyumanku, lalu mengangguk. Dan sempat bilang juga, “Gapapa, lanjut aja.” Sambil melirik ke ujung depan sana. Memandang kendaraan-kendaraan yang melaju tiada henti.

Lalu, aku pun mengangguk dan siap-siap menyeberang jalan dengan mengumpulkan keberanian. Tapi, belum jadi bergerak. Masih berdiri. Dan sepertinya beliau mengerti, perasaan yang ku bawa. Masih ada sedikit takut, ada juga sedikit berani. Dan sedari tadi, ketakutan dan keberanian itu saling menampakkan diri. Mereka menemaniku yang sedang berdiri di pinggir jalan. Tidak terasa, aku sudah beberapa menit berdiri. Di belakang mobil yang sedang parkir. Beberapa waktu kemudian, sang supir pun datang. Ya, abang tadi.

Kami tidak berkenalan. Maka, masih ku sebut beliau ‘abang’ saja.

Tidak terlihat keberatan pada wajahnya. Namun entahlah di dalam hati. Akan tetapi, dari sorot mata yang berbinar serta senyuman yang segera mengembang, aku yakin, beliau membantuku dengan senang hati. Ah, pede sekali aku ini. Sudahlah yaa, semua telah terjadi. Saatnya melanjutkan langkah-langkah lagi. Untuk menyeberang ke jalan berikutnya. Sebab, di jalan ini, ada dua jalan raya yang harus ku seberangi untuk sampai di seberang sana. Tujuanku, sukses tercinta yang dekat dan sudah ada di depan mata. Akan tetapi, posisinya di seberang sana. Maka, ku harus melanjutkan langkah menujunya. Agar kami bisa lebih dekat, dan kemudian menghiasi hari ini bersama.

Saat akan menyeberang lagi.

“Bisa, yaa…,” di ujung pertemuan dan kebersamaan kami, hanya dua kata ini yang beliau sampaikan padaku.

Lalu, setengah yakin, aku mengangguk, “Hhmmmm… bbiisss….. aaaaaa,” berikutnya, aku pun cepat berlari. Menyeberangi jalan ke dua dengan selamat.

Alhamdulillah, karena kebetulan sedang kosong jalannya. Ku tinggalkan beliau dengan senyuman. Senyuman yang ku bawa juga. Entah apa yang beliau pikirkan tentang ku. Aku tidak tahu. Namun yang aku pikirkan tentang beliau adalah ‘kebaikannya.”

Sungguh, orang-orang baik masih banyak di dunia ini. Maka, berbuat baiklah. Agar kebaikan semakin banyak menebar di muka bumi ini. Melalui kebaikan-kebaikan sederhana yang engkau lazimi. Kebaikan yang mensenyumkan wajah-wajah penerimanya. Dan yang lebih berbahagia lagi adalah mereka yang melakukan kebaikan dengan sepenuh hati.

Kami memang tidak saling mengenal, pun tidak sempat kenalan. Namun kebaikan beliau sampai padaku. Lalu ku ingati, sebagai kebaikan dari-Nya. Karena beliau adalah hamba-Nya. Kebaikan yang sempurna. Kebaikan karena panggilan hati. Hati titipan Ilahi. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s