Perjalanan ke dalam Diri

“Perjalanan ke dalam diri adalah perjalanan menuju bahagia yang ku cari. Perjalanan ini tidak ku biarkan berlangsung begitu saja, tanpa arti untuk ku abadi.”

***

Image result for Perjalanan ke dalam Diri muslimah
Picture : @kartun.muslimah

Haai, kawan… 😀 Aku datang lagi, untuk menitip senyuman secerah sinar mentari. Meski saat ini, di sini, sedang turun hujan dengan derasnya. Namun tidak mengurangi ingatanku pada mentari. Sebab, dengan mengingat mentari, senyuman dapat segera terbit pada wajahku.

Entah mengapa, mengingatnya berarti mengantarkanku pada gerakan-gerakan jemari. Supaya ku rangkai beberapa baris catatan. Atau sebait puisi. Nah, untuk merangkai sebait puisi, aku tidak berani. Maka, ku coreti saja lembaran kosong ini dengan beberapa kalimat, yaa. Semoga engkau suka dan kemudian tersenyum membacanya. Karena catatan ini bertema pencarian. Yah, pencarian yang semoga berujung penemuan.

Dalam catatan kali ini, aku berkisah tentang masa-masa yang ku tempuh dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Sebagai flashback tentang perjalanan diri. Supaya ku tahu, sudah sejauh apa ku melangkah? Supaya ku mengerti, sudah berapa lama ku menjejakkan kaki-kaki ini? Supaya ku tahu, ada siapa saja di sekitarku? Supaya ku tahu, berapa tempat yang ku kunjungi.

Sepanjang hari, selama sepuluh tahun terakhir. Bermula dari akhir tahun 2006. Aku terus melangkah, bergerak, berjalan dan meneruskan perjuangan. Perjalanan yang bisa dibilang ‘horor’, karena pernah ku melangkah di tengah malam. Aih! Mengenangkannya seperti ini, membuatku tidak percaya. Namun semua telah terjadi. Dan ingatan ini mensenyumkanku, kini. Perjalanan malam di bawah hujan, dalam rangka bersilaturrahmi. Perjalanan yang tidak pernah ku prediksi, akan menjadi bagian dari cerita hidupku. Perjalanan yang membuatku ‘ngeri’, mengingatnya kini. Seraya menanya diri, “Apakah ku tidak takut?.”

Dalam pikirku, saat melangkah ya, melangkah saja. Dengan menggenggam percaya pada tatapan-Nya. Yakin dengan DIA yang selalu membersamai. Maka, sejauh apapun ku melangkah, walau ke tempat asing nan sunyi, aku berani. Ini dulu. Dulu, sekali. Sepuluh tahun yang lalu. Namun saat ini, aku mulai mempertanyakan nyali. Apakah semua ini karena faktor pertambahan usia?

Sejak hari itu hingga hari ini, sudah sepuluh tahun pertambahan usiaku, berarti. Pertambahan usia yang ku lewati begitu saja. Dari tahun ke tahunnya, terkadang berlalu dengan damai, tenang, dan tidak banyak gejolak. Terkadang perlu menguras banyak energi untuk berpikir. Namun karena aku perasa, jadi seringnya lebih mudah terbawa suasana dari pada memikirkannya. Sehingga seperti melangkah di atas sekumpulan kapas nan lembut, begitu ku menjalani hari. Seakan mimpi. Ternyata waktu sepuluh tahun sudah berlangsung. Tahun-tahun yang menyisakan jejak-jejak diri. Tahun-tahun yang mengesankan dan ku selami sepenuh hati. Tahun-tahun yang mengajarkanku memaknai hari. Tahun-tahun yang memberiku waktu untuk mengenal diri. Karena dalam waktu sepuluh tahun terakhir, aku juga melakukan perjalanan ke dalam diri.

Perjalanan panjang selama sepuluh tahun, aku sering menitikkan airmata di pipi. Karena aku merasakan sesudut hatiku tertusuk-tusuk oleh sendu ketika rindu menyapa. Sering juga aku terdiam kelu tanpa ekspresi. Karena aku pangling dan tidak percaya segala yang ku temui. Keadaan yang tiba-tiba membuatku terlonjak kaget. Lalu aku pun beku. Diam di tempat. Tidak bergerak. Koma sesaat. Sering juga ku belajar menertawai diriku sendiri, kalau aku tidak sedang benar-benar tertawa. Supaya keadaan yang memberiku lebih banyak kerinduan, membuatku terlupa sesaat. Supaya kenyataan yang menyisipkan rasa-rasa tertentu dalam ruang hatiku, dapat ku alihkan sejenak. Dalam prosesnya, aku pun mulai berpikir. Memikirkan cara mengabadikannya. Karena tidak dapat tidak, selama masih hidup, semua keadaan pasti terulang lagi. Apakah rindu, airmata di pipi, juga tarikan simetris bersamaan pada ujung-ujung bibir. Maka ku belajar mengelola rasa yang hadir.

Lalu, menulislah aku dalam diari. Ku tepikan segala rasa melalui uraian kalimat. Ku luahkan segala ekspresi melalui susunan kata. Ku belajar menyapa diriku yang sering diam tanpa kata. Ku sering memberinya senyuman, meski dan mesti dalam sehari. Ku senyum-senyumi saja dia yang menangis karena pilunya hati. Ku tertawai ia yang sering memendam segala uneg-uneg. Karena yang ku tahu, ia adalah pribadi yang tidak tegaan. Sering tidak tega dengan permintaan yang tidak terkabulkan oleh dirinya. Makanya, ia berusaha menyetujui segala pinta. Ia sering mengiyakan penawaran. Ia sering mengorbankan kepentingan dirinya sendiri demi membahagiakan orang lain yang berinteraksi dengannya. Hingga pada suatu hari . . .

Tibalah Saatnya…

Aku pergi. Menjauh dari keramaian. Aku menyepi di keheningan. Aku menyisiri tepi-tepi hutan. Aku melangkah meski pelan. Aku berjalan dengan tujuan dan juga tanpa tujuan. Aku hilang dalam perjalanan. Aku tenggelam di tengah lautan. Aku tersangkut di dahan-dahan pepohonan. Aku melayang-layang tanpa keseimbangan. Aku pergi jauh ke dalam diri, duduk merenung berlama-lama. Sampai akhirnya, aku kehilangan jejak-jejak ku sendiri. Aku tidak dapat kembali lagi. Karena aku menyadari, . . . Masa lalu telah berlalu. Saatnya menjemput hari esok dengan keseimbangan. 

Aku mulai meniti jembatan yang ku lalui. Meski gamang, aku masih mencoba. Walau angin godaan menarik-narikku ke kiri dan kanan bersamaan, aku belajar bertahan. Ku gapai segala yang dapat ku pegang. Supaya tidak terjatuh ke dalam arus di bawah sana. Supaya ku selamat sampai di seberang, dengan senyuman. Walau tidak mudah, aku terus berjalan. Dengan terus menjaga keseimbangan. Berada di antara ketakutan dan harapan.

Dalam perjalanan meniti jembatan, aku melihat di kejauhan, orang-orang yang terlebih dahulu sampai di seberang. Mereka terlihat bahagia. Mereka saling menceritakan kesan saat meniti jembatan. Mereka berekspresi tak terkatakan. Aku pun tersemangati!. Maka, ku jaga langkah tetap hati-hati. Tidak terlalu ke tepi, tidak terlalu cepat. Sederhana saja. Pelan dan pasti. Aku tidak mencoba berlari, agar lebih cepat sampai di ujung. Aku juga bukan tidak pernah tidak berhenti. Namun mengambil dan menghembuskan nafas saat melanjutkan meniti jembatan, ku laksanai. Karena persediaan keberanianku datang dan pergi. Sebab aku tidak terlalu pemberani. Akan tetapi, hidup harus tetap berlangsung. Perjalanan sudah dimulai. Saatnya berjibaku dengan diri sendiri.

Aku sampaikan pada diriku, bahwa semua akan berlalu. Baik kesedihan, kerumitan, kelelahan, keterpesonaan, dan juga ketakutan demi ketakutan. Semua akan berlalu seiring waktu. Semua akan berlalu seiring kebiasaan. Begitu juga dengan kegamangan yang ku alami di awal. Perlahan ia mulai berkurang. Kegamangan yang membuatku tersenyum, saat sejenak berpaling ke belakang. Bahwa sudah ada jarak yang ku tinggalkan. Dan jarak tersebut lebih panjang dari pada jarak yang sedang ku jelang. Maka, aku mulai belajar senang.

Aku senang saat aku sedih. Aku senang saat airmata menepi di pipi. Dan aku benar-benar senang, saat keinginanku menjadi kenyataan. Aku senang sekali, ketika satu persatu harapan menjadi kenyataan. Walau sederhana, aku belajar mensyukuri. Meski sedikit, aku belajar menikmati. Walau sebentar, aku hayati benar-benar. Karena ia adalah bagian dari “Perjalanan hidupku.” []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s