Status

Keimanan yang Menyelamatkan

Picture dari sini ->: 1001-kisahislami

“Jadi, apa pesan penting nicchh… buat ku, tentang pernikahan?” ceriwisku seraya cengar-cengir ala anak-anak yang sangat polos. Sebagai seorang yang belum menjalani kehidupan berumahtangga, seperti yang beliau alami. Maka ku ingin tahu bagaimana pengalaman beliau. Beliau pun berbagi kisah sejati, dengan sepenuh jiwa.

Dari pengalamanku, keimanan. Iya, benar. Karena keimananlah yang menyelamatkan,” urai beliau saat jeda berbagi kisah tentang liku-liku dalam pernikahan. 

Dalam kurun waktu terakhir, aku mulai menyadari. Bahwa keimanan yang menyelamatkan ku dalam berbagai situasi. Menjalani kehidupan dengan keimanan pula yang membuat hari-hari ku menjadi ringan. Keimanan pula yang membuat bahtera keluarga kami masih sempurna hingga saat ini. Semua ku ketahui sejak ku mulai rajin membaca-baca ilmu agama. Aku juga tak sungkan bertanya. Aku mencari tahu dan mempelajari. Aku bekerja keras menemukan solusi. Ketika keadaan pelik mendera rumah tangga kami. Saat ku tidak tahu harus bagaimana lagi. Maka, ku yakin, keimanan yang menyelamatkan.

Keimanan yang memberiku ruang untuk berpikir lagi sebelum bertindak gegabah. Keimanan yang mengajakku tenang sebelum meluahkan amarah. Keimanan pula yang memberiku kesempatan untuk selalu berbenah. Bersama keimanan yang ku tambah, ku menyerahkan segala keputusan terakhir kepada Allah. Maka, benar saja, ada solusi dalam setiap masalah. Saat ku menjaga keimanan menemani dalam langkah-langkah. Ditambah pula dengan banyaknya berkah dan anugerah yang tidak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata. Seperti adem dan ayemnya rumah tangga kami, anak-anak kami sehat dan ceria. Aku sangat yakin Allah Yang Mengatur rezeki kami dan ku mulai berbenah diri.

Aku terus belajar menyadari keadaan. Aku percaya bahwa bukan kekuatanku yang menentukan kecukupan kebutuhan. Bukan atas kerja kerasku semua perubahan demi perubahan ini. Akan tetapi atas hidayah-Nya. Suamiku sudah mulai rajin shalat. Sebelumnya tidak teratur dan belang-belang. Shalat subuh tidak harus dibangunkan lagi, namun sudah biasa bangun lebih awal. Aah, aku merasa lebih tenang dan semakin bahagia akhir-akhir ini.

Aku mengakui. Sebagai perempuan, aku tidak selalu dapat mengatur emosi. Aku masih suka menampilkan egoku sendiri. Dan aku beruntung, mempunyai suami yang sangat teduh pikirannya, menenangkan hatiku saat emosi. Ketenangan yang ia bawa, memang sangat ku akui kini. Walau awalnya tidak ku ketahui, bagaimana ia aslinya. Namun seiring waktu, aku mengerti. Ada banyak kelebihannya yang tidak ku tahu. Sejauh ini, kekurangan-kekurangannya saja yang ku perhati. Sungguh, sungguh ku bersyukur memilikinya dan menjadi bagian dalam hidupku ini.

Suami yang sederhana, tidak banyak bicara. Memang ia diam, kalau ku sedang marah-marah. Namun ternyata di balik diamnya, ia sedang menata pikir jauh sangat jauh ke depan. Sedangkan aku, tidak sepintar ia mengendalikan kemarahanku. Maka, ku marah-marahi ia semauku.

Sungguh aku malu saat mengingati kelakukanku dulu padanya. 

Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana rumah tangga kami. Kalau saja suamiku juga mementingkan egonya sama sepertiku. Kalau ia tidak memberi jeda padaku untuk menenangkan diri. Kalau saja ia mempertahankan harga dirinya sebagai laki-laki. Aku sungguh tidak tahu, seperti apa rumah tangga yang belum lima tahun kami bangun, ini.

Ya, selama tahun-tahun pertama berumah tangga, ada-ada saja godaannya. Ada-ada saja yang membuatku tidak terima keadaan. Ada-ada saja yang membuatku tidak mampu bertahan. Akan tetapi, seorang suami yang kini membersamaiku, sungguh ku kagumi akhlaknya. Ia tidak mudah terbawa perasaan sama sepertiku. Ia tidak langsung mengabulkan permintaanku, -yang sangat fatal- akibatnya bagi kelangsungan rumah tangga kami. Namun ia bilang, “Tunggu dulu yaa, aku bilang mama…” Lalu, ia pun meminta pendapat pada orangtuanya. Karena ia yang baru bergelut dalam sebuah rumahtangga, juga perlu pertimbangan dan pemikiran matang untuk memberi sebuah keputusan. Sebagai seorang laki-laki yang penuh tanggung-jawab.

Aku salut padanya. Aku mengakui keteguhan hatinya. Aku menghargai kesabarannya. Aku mulai menyadari peranku sesungguhnya. Bahwa… ia adalah imamku. Maka keputusan yang ia sampaikan atas pertimbangan dan pemikiran matang serta pendapat dari orang tuanya, ku terima dengan hati lapang. Sehingga ia tidak menceraikanku, seperti permintaanku. Aku terharu menyimak kisah beliau. Kami berpelukan.

***

Dari pengalaman orang lain, kita bisa belajar. Dari kisah orang lain, kita bisa memperoleh pengalaman. Dari pengetahuan orang lain, kita bisa tahu. Dari semua yang tidak kita tahu, ada pengetahuan Yang Maha Tahu. Maka, jangan sok tahu tentang masa depan seseorang. Jangan juga sok tahu tentang keadaan seseorang, sehingga kita mudah memberikan penilaian dan berprasangka padanya. Tanpa pernah kita tahu, ada apa dengan dia dan dirinya sesungguhnya. Bagaimana hebat perjuangannya dalam menghadapi kemelut. Bagaimana tabahnya ia menghadapi ketidaksukaannya. Bagaimana ia berusaha tegar dalam himpitan beban kehidupan. Bagaimana ia berusaha dan berjuang menjadi shalehah.

“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat….” (Qs. Al-Mujaadilah [58] : (11)

Saat kita bertemu dengan seorang yang uring-uringan, belajarlah memahaminya. Mungkin juga ia tidak menyadari keuringannya tersebut. Sungguh, kehidupan ini banyak kejutan mengesankan, yaa.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s