Engkau Teman Baikku

Saat kita berhadapan. Sesekali ku lihat engkau menyibakkan helai-helai rambut poni mu yang menutupi mata. Sesekali juga, engkau membenarkan letak kacamata mu di hidung. Namun sering engkau tersenyum dan kemudian memandang ku. Sambil terus berbicara menyampaikan pesan.

Sesekali engkau berhenti bicara, dan kemudian melayangkan pandang jauh, jauuuh menerawang. Sebab engkau sedang mengingat-ingat perjalananmu. Terkadang matamu berkaca-kaca. Terkadang terlihat rona bahagia pada sorot matamu.

Sesekali sendu menggelayut pada sorot matamu. Sesekali engkau tertawa menikmati bahagiamu. Kebahagiaan yang benar-benar engkau rasakan dan engkau pun menebarkannya. Aku pun turut terbawa suasana. Sehingga, sesekali kita pun tertawa bersama.

Engkau mudah bercerita, menyampaikan pesan-pesan berharga. Sampai tidak terasa, waktu pun berlalu cepat sekali. Karena sudah lama kita duduk-duduk berdua. Engkau bercerita, sedangkan aku menyimak kisahmu. Aku senang, ketika engkau senang berbagi denganku. Aku suka, ekspresi-ekspresimu.

Engkau teman baikku. Teman yang ku kenal baik dan engkau memang baik. Setelah sekian lama kita bersama, kebaikanmu semakin jelas. Walau kita tidak selalu menghabiskan waktu bersama-sama dalam sehari. Meski pertemuan dan kebersamaan kita hanya beberapa jam saja, bahkan. Akan tetapi, kualitas pertemuan yang kita utamakan. Bukan kuantitas waktu yang menjadi patokan. Supaya terjalinnya pertemanan dan persahabatan yang terbaik.

Engkau teman baikku. Teman yang menjadi bagian dari kehidupanku. Engkau yang menjadi salah seorang insan Tuhan, sebagai pemeran dalam cerita-ceritaku. Engkau yang Tuhan ciptakan bukan tanpa makna. Namun Tuhan menciptakanmu dengan penuh cinta. Tuhan menciptakanmu untuk menjadi jalan tersenyumku saat ini. Tuhan menghadirkanmu ke dunia dengan penuh kasih sayang, dengan Rahman dan Rahim-Nya. Tuhan sungguh menyayangimu, kawan. Meskipun engkau sempat dan pernah lupa kepada-Nya. Namun begitu, Dia selalu mengasihimu. Maka Dia memberi segala yang engkau perlukan. Dia mencukupi kebutuhanmu selalu. Dia senantiasa ada untukmu, memberikan yang terbaik, padamu.

Engkau teman baikku. Teman yang Tuhan siapkan untuk menemaniku dalam meneruskan perjalanan ini. Teman yang Tuhan pilihkan untukku. Tuhan pula yang mengizinkanku mengenalmu. Seperti halnya engkau yang tergerak hati untuk memilihku menjadi temanmu juga.

Ah, iya.

Maka, apa lagi yang kita pertanyakan tentang segalanya? Bagaimana bisa, syukur kita tidak bertambah-tambah atas curahan nikmat dari-Nya? Bagaimana kesabaran kita tidak melimpah atas segala yang belum kita dapatkan? Maka, wujud dari syukur dan sabar, kita terapkan dalam keseharian. Menjadi hamba-hamba-Nya yang penuh kesungguh-sungguhan dalam berusaha. Selanjutnya, mengiringi dengan doa yang tiada terputus, selamanya. Sehingga apapun keadaan yang kita temui, menjadi jalan kembalikan ingatan kita kepada-Nya.

Awal kita berkenalan,

Engkau teman baikku. Teman yang ku hargai sebagai hadiah terindah dari-Nya. Teman yang dalam waktu-waktu terakhir, menjadi bagian dari hari-hariku. Sedangkan saat perkenalan kita pertama kali, ku bayangkan engkau adalah seorang yang lembut dan ramah. Karena perkenalan kita pertama kali melalui suara saja. Dan yang ku pikirkan tentangmu pada saat itu adalah engkau baik. Meski pada saat itu, kita belum bertemu.

Engkau adalah orang yang selama ini ada dalam impianku. Yah. Sosok sepertimu pernah ada dalam bayanganku, dulu. Lalu ku jaga selalu dalam ingatan. Sehingga sepanjang perjalanan yang ku tempuh sebelum kita bertemu, engkau seakan mengiringi langkah-langkahku. Yaitu tentang kebaikanmu. Seperti yang ibunda pernah pesankan padaku dulu, bahwa setiap orang membawa kebaikannya masing-masing. Maka, temukanlah kebaikan dari siapa saja yang engkau temui atau menjadi bagian dari harimu. Dan berbuat baiklah seperti yang mereka lakukan. Jadikan kebaikan mereka sebagai teladan, menjadi contoh dalam kehidupan. Dan kebaikan itu pun ku temukan darimu. Walau kita bersua via suara.

Ketika kita bersama,

Engkau teman baikku. Teman yang unik. Engkau satu-satunya dengan keunikkanmu. Sehingga dalam waktu-waktu kebersamaan kita yang tidak panjang, engkau sering mensenyumkanku lagi. Senyuman yang tiba-tiba mengembang begitu saja. Senyuman yang menjadi salah satu wujud syukurku atas kebersamaan kita.

Seperti pada suatu waktu. Engkau sedang asyik berbicara dengan entah siapa di sana, sedangkan aku di dekatmu. Engkau sibuk bercerita, tersenyum dan kemudian tertawa. Nah, salah satu ciri khasmu yang mensenyumkanku adalah senyumanmu. Karena saat tersenyum, engkau benar-benar menghayatinya. Sehingga terlihat dari lipatan-lipatan yang tercipta pada wajahmu. Semua alami.

Dalam pembicaraan selanjutnya, engkau tersenyum lebih baik. Senyuman yang membuat kedua matamu tenggelam lebih dalam. Bersembunyi di antara kelopak matamu. Pada saat itu, ku yakin engkau tidak dapat melihat. Karena aku pun tidak dapat melihat dua bola matamu yang biasanya berbinar-binar. Serta merta pemandangan tersebut membuat ku tersenyum menyaksikanmu. Engkau yang mengejap-ngejapkan matamu sambil terus berbicara dan tersenyum. Engkau terlihat bahagia saat itu, maka aku pun bahagia. Karena kebahagiaanmu yang menebar padaku.

Kelak kita berjauhan raga,

Kelak, kita tidak lagi duduk-duduk bersama seperti saat engkau bercerita di hadapanku. Kelak, kita mungkin akan bertukar suara untuk saling berbagi cerita atau hanya melalui rangkaian kata. Kelak, engkau tetap teman baikku. Terima kasih ya, untuk semuanya. Semua nasihat dan pesan-pesan berharga darimu. Semua kisah yang engkau bagi tentang kehidupan dan belum ku tahu. Semua senyuman dan kebaikanmu yang ku terima atau pun yang hanya dapat ku rasakan. Semuanya, semuanya yang tidak terkatakan. Semoga kebaikanmu menjadikan engkau insan yang lebih baik dari waktu ke waktu. Baik saat kita bersama, maupun tidak sedang berhadapan untuk bertukar pandang. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close