Lover

Yakinlah, kita pasti bertemu.

Apakah aku yang akan menemukanmu atau engkau yang menemukanku?

Tenang… tenang…  dan tetaplah melangkah.[]

***

Beberapa tahun kemudian…

Pada suatu hari, adalah hari ini. Aku berkeliling untuk menemukan motivasi. Sebab, ku ingin menambah-tumbuhkan semangat hidup lagi. Agar kesedihan yang ku rasakan tidak menebari diri. Cukup ia ada di dalam hati. Kalau benar kesedihan itu sedang ku alami. Nah, kalau ku sedang berbahagia, semoga kebahagiaan itu menebar ke sekeliling. Sampai menemuimu dan kemudian menghiasi ruang hatimu juga.

Engkau, siapapun dirimu bagiku. Apakah seorang teman, sahabat atau pecinta sejati?

Nah, bincang-bincang tentang perjalanan keliling yang ku tempuh, aku sempat melipir-melipir di beberapa catatan penting. Khususnya yang membahas tentang pengembangan diri. Berhubung diriku masih dalam proses berkembang dan sedang giat-giatnya mempelajari tentang seluk beluk diri. Supaya ku mengenali diri sendiri, seraya mengenali selain diriku. Selain itu, juga sempat ngaca-ngaca sejenak melalui aplikasi LifeFrame. Lalu mengabadikan ekspresi.  😀 Supaya ku bisa tersenyum lagi.  Itu saja sih. Melipur hati yang lara, melepas penat raga. Dan menjadikan hari ini ku lebih baik dari kemarin dengan mensenyuminya, bahagia.

This slideshow requires JavaScript.

***

Beberapa tahun yang lalu…

Membahas dengan pengembangan diri tidak lepas dari bacaan. Sehingga, seiring proses pengembangan diri yang ku tempuh aku memang kuddu dan harus selalu membaca. Baik membaca buku, koran, majalah, atau kitab suci. Bahkan, melalui pengalaman-pengalaman orang lain yang bertebaran di dunia maya pun aku baca. Sampai akhirnya aku bertemu dengan kalimat-kalimat yang membuatku terkaget. Lalu menyadari diri. Karena tanda-tanda tersebut ada padaku. Tanda-tanda apakah itu? Yaitu sikap cuek dan tidak terlalu memedulikan orang lain. Apakah karena sifat pendiam ku sejak lama? Atau karena aku kurang memiliki kepercayaan diri saat berinteraksi? Ah, barangkali karena pikiran negatif yang muncul dari pikiranku? Seperti ini dan itu, atau lain-lainnya.

Maka, sejak hari itu, aku pun menemukan cara pandang baru dalam memandang dunia. Aku mulai memiliki kebiasaan baru. Supaya aku mulai memedulikan sekitar. Agar ku tidak lagi mementingkan diriku sendiri. Bukan agar semua orang menyukaiku, namun sebagai bentuk syukurku atas kesempatan hidup ini yang masih menjadi milikku.

Hari-hari berikutnya, aku belajar tersenyum dan menyapa. Aku belajar menemui orang-orang baru. Bahkan berkunjung ke tempat-tempat baru, ku lakoni. Termasuk mencoba hal-hal baru yang sangat asing bagiku.

Aku tidak memikirkan bagaimana nanti. Hanya melakukan. Supaya aku mempunyai pengalaman baru, di sana… di lokasi baru… Supaya aku dapat menemui wajah-wajah baru, kemudian kami bertukar cerita, di sana… di lokasi baru… Agar cara pandangku terhadap kehidupan semakin meluas. Bukan lagi memikirkan tentang diriku, semata. Namun mulai menemukan pencerahan.

Hari ke hari ku jalani. Waktu ke waktu terus melaju. Aku mulai bertemu lebih banyak orang. Walau awalnya kami tidak saling mengenal. Namun mereka mudah berbagi pengalaman denganku. Meski tidak ada keterikatan kekerabatan antara aku dengan mereka. Akan tetapi, waktu-waktu yang kami habiskan bersama menjadi bermakna.

Aku sangat menyukai petualanganku. Aku sangat menghayatinya. Walau untuk sampai di suatu tempat tertentu, aku harus berjalan kaki mendaki perbukitan, seperti ke bukit Awi Ligar saat di Bandung. Akibatnya penat kakiku, namun lega jiwaku. Ditambah lagi karena seharian aku ada di jalanan. Namun itulah bahagianya. Ku bisa melepas semua rasa yang hadir. Saat sedih karena jauh dari keluarga, ku temukan keluarga baru di sana. Saat bahagia karena bisa melangkahkan kaki ke lokasi yang sebelumnya tidak terbayang dalam impian, aku pun menuliskannya dalam catatan. Maka, menjadilah aku seorang yang mulai menyukai senyuman mentari. Lalu merangkai kisah tentang kami. Tentang aku dan mentari yang terus membersamai di sepanjang perjalanan (kalau tak mendung atau hujan). Untuk ku senyumi lagi, nanti. Bersama mentari, ku sangat sibuk melanjutkan langkah. Bersama mentari aku pun mengembangkan diri dan kemudian belajar menemukanmu.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close