Secuplik Kisah Perjalanan

Gambar terkait
Annida Online

“Kalau kita sudah tahu siapa dan bagaimana seseorang, maka kita tidak apa-apa,” pesan lama ibunda yang masih ku ingat hingga saat ini.

Ingatan yang menepi, setiap kali ku berinteraksi dengan orang lain. Ingatan yang mengembalikanku pada kesadaran tentang perbedaan yang ada di bumi. Tentang beranekaragamnya karakter, sifat, dan watak manusia. Ingatan yang mensenyumkan…  🙂

Sederhana. Sesederhana ini cara ku mensenyumi kehidupan. Senyuman yang mungkin terlihat pada wajah. Atau hanya ku rasakan di dalam hati. Bahkan sempat ku tuliskan seperti ini. Sebab, terkadang senyuman itu pergi-pergi dari diri. Maka, ku ikat ia saat muncul dalam ingatan seperti ini. Agar mensenyumkanku lagi, nanti. Kelak, lusa, atau kapan-kapan. Karena bersama senyuman, harapan hidupku tumbuh lagi.

Sempat pada sebuah kesempatan. Aku bersama dengan seorang yang awut-awutan. Apa-apa dipermasalahkan. Apa-apa menjadi bahasan. Apa-apa juga mengusik ketenangannya. Sehingga yang hadir adalah omelan-omelan dari bibir mungilnya. Yang hadir adalah suara-suara umpatan dari nada suaranya. Yang ia tebarkan adalah virus-virus negatif untukku.

Ya, aku yang mudah terserang kalau ku tidak menangkis cepat sebelum ia mendekatiku. Aku yang mudah terbawa arus, saat ku tidak pandai-pandai membawa diri. Aku yang sering terpengaruh lalu ikut-ikutan. Ah, zaman labil yang tanpa prinsip. Aku pernah menjalaninya dalam jenak episode hidup ini. Bukan berarti sekarang aku sudah begitu teguh dan penuh ketegaran yaa. Namun sedapat mungkin, aku segera menyadari sekeliling. Sambil mengingat, dimana aku berada kini. Siapa yang ku hadapi. Dan bagaimana aku harus menyikapinya?

Sering ku diam, bila ada yang menghampiriku dan memberi warna dalam hariku. Sering juga ku senyumi sendiri, saat pikiran ku tidak sampai ke sana. Saat ku menerima berita. Aku pun sering melongo tak mengerti, kalau keadaan tetiba berubah drastis. Dan kemudian, kalau ku masukan ke hati membuatku jengah sendiri. Kalau ku pikir-pikir terus, akan terbawa-bawa. Sehingga ke mana pun ku pergi, ia ada.

Ah, aku tak mau seperti ini. Maka, ku belajar mengenali lingkungan. Aku belajar mendeteksi reaksi diri. Aku belajar menanya hati. Apakah ia suka atau bagaimana? Apakah benar ini yang ku inginkan atau tidak? Apakah seperti ini yang ku damba untuk menjadi bagian dari waktu ku?

Sedapat mungkin, ku cari-cari cara untuk menanya diri. Sebelum ku memberikan penilaian atas segala yang ku temui. Sering-sering ku belajar memahami, atas keadaan yang tidak ku harapkan terjadi. Sehingga menjadilah aku sebagai pribadi yang penuh pertimbangan. Tidak mudah mengambil keputusan, sebelum berpikir panjaaaaaanngg nan lama. Yang maunya, segala-galanya teratur berurutan dan jelas. Maunya, apa-apa terstruktur dan benar-benar rapi. Maunya, apa yang akan ku lakukan ku pahami dulu, baru bergerak. Maunya aku begitu. Namun kenyataannya, saat ku berada dalam perjalanan. Terkadang sesuatu berada di luar harapan.

Saat aku maunya begini yang ada di depan mata begitu. Aku maunya wajah cerah, namun si cemberut yang ku hadapi. Aku maunya terdata dan tertata rapi, aih! berantakan yang ku hadapi. Sehingga dengan begini, menjadi jalan bagiku untuk memahami. Aku pun bergerak sedikit sedikit, menelusuri hingga ke sudut-sudut. Aku berjibaku dengan diriku, supaya ia tidak mau menang sendiri. Namun mengingat lagi nasihat ibunda, untuk mau mengenali. Untuk mau tahu. Untuk peduli.

Termasuk pada orang-orang yang tiba-tiba berekspresi di luar batas padaku. Maka, aku terkadang diam menanggapinya. Diam yang ujung-ujungnya menjadi kesalahanku. Diam karena aku tidak mengingatkan. Diam karena aku tidak memberitahunya. Kalau aku tidak suka seperti itu. Diam yang akibatnya merugikan diriku sendiri. Karena membuat interaksi kami menjadi tidak baik lagi. Sebab, diamku adalah untuk menunjukkan kekesalanku, awalnya. Diam karena aku tidak tahu cara memberitahunya, bahwa aku tidak sudi kalau ia memperlakukanku begitu. Diam yang membuatku berpikir bahwa ia akan selamanya begitu padaku. Padahal, aku tidak mengetahui siapa ia sesungguhnya… Maka, aku pun menjadi apa-apa dengannya.

“Aku terus menitikkan airmata di pipi. Karena aku merasa menjadi korban olehnya. Aku pun sempat hampir mati dan sebelumnya koma. Kelu. Kaku. Aku tidak mampu melakukan apa-apa. Hanya diam, bersama bulir airmata yang terus mengalir.

Saat itu, aku belum mengenal diriku. Walau kami selalu bersama, namun kami jarang berbicara. Walau kami sering ke mana-mana bersama, namun hanya raga. Menjadi demikian, sepertinya bukan harapan hidupku. Lalu, aku bangkit lagi. Karena ku tahu, masih banyak yang belum ku tahu. Termasuk diriku. Termasuk banyak karakter manusia di dunia.

Dia hanya satu dari semua. Dan bukan semestinya aku memperlakukannya sebagaimana pikiranku berkata. Aku harus berubah. Yah.”

Dari detik ke detik

Aku sering bercakap-cakap dengan diriku sendiri. Seperti sudah kehabisan daya untuk berbicara dengan semua orang yang ku temui. Dalam hening. Saat sunyi. Ketika kelam. Gulita menerpa. Tanpa cahaya. Ku sampaikan padanya, bahwa kondisi ini tidak berlangsung selamanya. Selama ku tidak hanya diam. Selama ku mau bergerak. Maka, keadaan berubah.

Dari hari ke hari

Aku sering bertanya dengan diriku sendiri. Seperti masih ada harapan untuk meneruskan perjalanan. Walau jalan belum terlihat. Masih kelam. Masih gulita. Masih tanpa cahaya. Aku mulai linglung. Aku kehilangan. Kehilangan yang tidak pernah ku miliki. Aku kehilangan diriku. Aku tidak tahu apa-apa lagi, setelah ia meninggalkanku. Aku hampa. Tanpa tempat bersinggah. Aku berkelana, melangkah saja. Mengikuti kata hatiku, mengarungi samudera luas, mengapung dan terombang-ambing. Lalu ke hutan, menempuh semak-semak, tersangkut kakiku, luka. Kemudian, aku mulai lelah.

Dari bulan ke bulan

Aku masih menanya pada diriku sendiri. Seperti mulai ada celah. Celah untuk melihat dunia. Celah untuk menyaksikan cahaya. Cahaya benderang yang mengelilingiku.

Aku mulai menatap wajahku di cermin. Sering-sering ku perhatikan ia. Wajah tanpa senyuman. Wajah tenang tanpa ekspresi. Wajah, hanya wajah.

Aku mulai menemukan sahabat. Ia ku persahabati selayaknya sahabat. Ia ku tanya, saat ku butuh jawaban. Namun saat ia tidak mempunyai jawaban, kami bersama menemukannya. Terkadang bertanya, terkadang membaca. Bahkan, saat tidak ada selembar pun kertas yang dapat kami baca, kami mulai membaca keadaan. Kami membaca wajah-wajah dalam diam. Kami membaca, pepohonan berdaun rindang. Kami membaca lalu lalang kendaraan di jalan. Kami terus melangkah.

Jalan-jalan menjadi pilihan. Aku temukan teman-teman lainnya. Ada bunga-bunga di taman, lembaran ilalang nan anggun tertiup angin, rerumputan tempatku berselonjor, bahkan ku persahabati seekor semut yang hinggap di pergelangan tanganku. Ia masih butuh kehidupan. Lalu ku tepikan ia perlahan, ku lepas dengan senyuman.

Aku mulai membuka diri. Aku tidak sendiri lagi. Karena dunia ini bukan hanya tentang aku dan dia. Bukan. Ada engkau juga, ternyata. Hahahaaa..  😀 Akhirnya aku bisa tertawa.

Dari tahun ke tahun

Aku belajar tertawa. Yah, terkadang ku tertawai diriku sendiri. Karena aku tahu, mampu berubah kalau ia mau. Itu saja secuplik kisah perjalananku.

Pesanku : Jangan selalu diam, nanti serba salah. Bertanyalah, bersuaralah. Maka engkau temukan pencerahan, jawaban dan teman. Selama perjalanan hidup masih berlangsung, mari terus berbenah. InsyaAllah, ada jalan untuk berubah. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close