Gambar terkait
Bahagiamu Bahagiaku

Tidak pernah terpikir sebelumnya, kalau kita akan bertemu lagi di sini. Lalu menjalani kebersamaan yang indah sampai saat ini. Kebersamaan yang hari ke harinya menitipkan kita kesan berharga. Kesan yang selanjutnya kita abadikan sebagai kenangan terindah dalam sisa usia.

Engkau sahabatku. Hingga saat ini, hingga hari ini. Esok, nanti dan selamanya.

Engkau bahagia, bahagiaku juga. Engkau menitik airmata, maka terenyuh hatiku saat itu juga. Walau masih ku usaha menenangkanmu dengan cara yang ku bisa laksana. Meski ku tunjukkan ceria melalui suara, saat engkau menyampaikan sapa dari sana. Ketika kita bertukar kisah. Saat engkau sedang gundah. Saat engkau pun menghubungiku, lalu meluahkan segala resah.

Yah, semudah itu engkau menemuiku kapanpun engkau mau. Karena kita sahabat.

Sedangkan aku, masih tidak habis pikir. Bahkan tidak terpikir sebelumnya. Akhirnya aku mempunyai sahabat juga. Sahabat tempat berbagi asa. Sahabat yang menjadi sumber cerita. Sahabat yang selamanya saling menjaga. Sahabat yang mudah dan senang membahagiakan sahabatnya. Seperti yang sering engkau lakukan padaku. Engkau yang sering memberikan kebaikan padaku. Meski tidak ku pinta, walau tidak ku harap. Namun, seakan membaca isi pikiranku, maka engkau pun membaikiku. Aaaaa… aku terharu, terima kasih yaa, my dear Sister. Thank so much. So much.  😉

Lagi dan lagi, selalu begitu. Tidak hanya sehari dua hari. Sebulan dua bulan. Malah sudah terhitung tahun persahabatan kita berlangsung. Namun engkau masih sama seperti dulu. Engkau masih pribadi nan ayu, penuh kelembutan dan sering tabah dalam ujian. Aku yakin, engkau pasti bisa. Ya, kita pasti bisa menjalani semua dengan bahagia.

Ingatan saat kita berjauhan pun, menjadi jalan semakin eratnya persahabatan. Termasuk hari ini. Engkau mengingatku lagi. Ketika kabar bahagia engkau miliki. Lalu, engkau segera menghubungiku dan menyampaikan bahagia yang engkau rasa.

Yah, dalam bahagiamu, bahagiaku pun menebar. Lalu, tersenyumku menyambutmu, dengan ekspresi unik yang engkau pun tahu. Walau kita tidak bertemu langsung, namun engkau menebarkan bahagiamu melalui suara.

“Oiiiyaaaa… betulkah begitu?,” Aku sedikit terkejut dengan kabar yang engkau sampaikan padaku.

Kabar bahagia, bahwa rencanamu untuk meneruskan peruntungan ke luar kota lagi, sedang mendekat nyata. Dan aku masih tidak percaya dengan yang ku dengar. Akhirnya, bahagia kembali merebak di ruang hatimu. Berbahagialah kawan, karena bahagia itu dekat. Dekat di dalam hatimu. Seperti yang engkau rasakan ketika mengabariku, tadi. Beberapa saat yang lalu.

“Aku turut bahagia, kawan. Kalau memang perjalananmu ke sana untuk meneruskan menghimpun sejumput bahagia yang pernah hilang,” gumamku di sela suara yang engkau alirkan. Suara yang renyah dan ringan menghiasi gendang telingaku.

“Iya, iyaa, aku sudah yakin. Dan aku mau mencoba lagi. Siapa tahu, di sana nanti ketemu jodoh, iyaa, khan yaaa, yaa, yaaa…,” suaramu semakin nyaring terdengar.

“Semoga citamu menjadi kenyataan, kawan. Teruslah berusaha. Tetaplah berdoa. Namun satu hal yang ku sarankan, jangan lupa minta restu dan ridha orang tua yaa. Walau bagaimanapun juga, beliau adalah yang terpenting dalam kehidupan kita. Bersama kerelaannya, semoga menjadi semakin ringan dan lancar langkah-langkahmu berikutnya. Walau di manapun berada. Meski sejauh apapun engkau pergi,” sempat ku sampaikan seuntai ingatan padanya.  Ingatan untuk mengingatkan diriku lagi, lebih awal. Karena aku juga begitu. Melaksanakan hal yang sama. Sebelum melanjutkan langkah, ku pinta restu dan ridha dari beliau yang tercinta. Sehingga perjalanan yang ku tempuh pun menjadi sangat berkesan, mengesankan, penuh kejutan, penuh warna dan pelajaran. Seraya ku ingat-ingat nasihat beliau, sepanjang perjalanan selama melangkah. Yah, sehingga kami masih selalu bersama walau raga berjarak. Melalui ingatan yang terus menyapa.

Ingatan yang menyapa, lalu mengajak kami bertukar suara, bercengkerama tentang dunia. Dunia di sana, dan dunia di sini. Kami beraikan benih-benih harapan seraya melanjutkan langkah-langkah kaki.

“Mungkin esok kita masih di sini. Lalu melanjutkan perjalanan bersama dan merangkai mimpi hingga menjadi kenyataan. Atau, mungkin juga esok kita sudah tidak ada lagi di sini, untuk selanjutnya kembali ‘pulang’ ke kampung halaman abadi,” ingatanku menepi, menyapa sekeping hati. Supaya ia tersadarkan lagi. Supaya ia masih mau menemaniku melangkah lagi. Sehingga kebersamaan kami masih utuh dan sempurna. Bersama menjalani kenyataan, seperti kebersamaan kami merangkai harapan, asa dan cita serta impian.

“Sejak tadi malam hingga pagi ini, ada 4 (empat) orang yang meninggal dunia di kampung kita,” berai ibunda mengabariku.

Innalillahi wa inna ilaihi raa ji’uun.

“Ada ibu A, ibu B, ibu C, dan ibu D, masih ingat engga…??? dengan beliau semuaaaa…??,” tanya ibunda padaku. Aku pun  mengingat-ingat dan memberikan jawaban.

“Iya, saat nanti kita kembali seperti yang mereka semua alami. Apa lagi yang dapat kita laksanai? Bekal apakah yang  kita bawa untuk menemani? Saat kesempatan hidup di dunia berakhir sudah. Saat cerita hidup berakhir sudah. Terputuslah semua kesempatan untuk beramal lagi. Kita menjalani kehendak Ilahi, untuk menemui-Nya. Dalam rangka mempertanggungjawabkan segala yang kita laksana selama di dunia” begini ibunda mengingatkan lagi. Sehubungan dengan berita kematian yang beliau sampaikan. Kematian empat orang ibu-ibu di desa kami dalam waktu berdekatan.

Tentang akhir usia, memang kita tidak pernah tahu kapan kita alami. Maka, selagi orang tua masih membersamai, cari-carilah cara untuk membuat beliau tersenyum bahagia. Supaya bahagia beliau pun merebak pada kita. Cari-carilah cara bagaimana supaya beliau senang di sana, sedangkan kita jauh di sini. Cari-carilah cara, bagaimana mendekati beliau dan menjadi dekat selayak sahabat.

Karena di zaman ini, terkadang anak menjadi asyik sendiri dengan dunianya. Lalu orang tua pun asyik dengan dunianya. Ditambah lagi dengan semakin jauhnya jarak yang terbentang antara anak dan orang tua. Walau teknologi mendekatkan mereka lagi. Namun sering juga, tidak ada kedekatan emosi antara anak dan orangtua. Maka, anak memilih jalan hidupnya sendiri. Sedangkan orang tua tidak merengkuh dan menunjukkan kepedulian berlebih. Akibatnya, anak-anak pun mencari-cari siapa saja yang peduli dengannya? Yang mengerti dan menyayanginya? Aaa….khirnyaa, menemukan teman akrab tanpa sepengetahuan orang tua. Atau kalaupun orang tua mengetahui, memberikan kebebasan pada anak untuk bergaul semaunya.

Beruntung sungguh, orang tua yang menerapkan nilai-nilai yang baik pada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Lalu terus memantau dan mengawasi perkembangan anak-anaknya. Hingga mereka remaja, dewasa, dan dapat membedakan baik dan buruk. Beruntung orang tua yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi generasi shaleh/shalehah. Mereka tidak hanya membahagiakan orang tua, namun bermanfaat bagi sesama.

Subhanallah, aku selalu salut dengan teman-temanku yang demikian. Mereka menjadi anak-anak yang berbakti pada orang tua, bermanfaat banyak, senang berbuat kebaikan, dan sangat sedikit (bahkan) tidak pernah menyakiti sesama. Karena lembut tuturnya, baik budinya, mulia akhlaknya.

Mereka akan terus ada. Mereka akan selalu ada… Meski  raga kami tidak lagi bersama untuk bersua bertukar pandang saat berbagi cerita. Meski jarak kami terbentang tidak lagi sedepa. Namun mengingat mereka seperti ini pun, membuatku bahagia. Bahagia mengenalmu teman-teman semua. Engkau yang sahaja, baik dan berhati mulia. Di mana pun engkau berada, semoga bahagia selalu menyerta yaa. Selamanyaaa… aku merindukanmu. []

🙂 🙂 🙂

 

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s