Reminder

10899497_1519202841676685_305094808_n
Remember

Ya. Jangan mudah menilai seseorang sesuai dengan kehendak kita saja. Lalu menghakimi dan memberikan prasangka semaunya kita. Padahal kita tidak tahu hal sesungguhnya yang terjadi padanya.

Tentang bagaimana ia menempuh liku-liku waktu sebagai manusia. Termasuk tentang suka duka dan bahagia serta sengsaranya. Maka, sedapat mungkin berbaik sangkalah padanya. Padanya, ya, siapa saja.

“Bukankah kita juga tidak pernah tahu. Apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya. Meski wajahnya sedang tersenyum meriah?”

“Bukankah kita tidak pernah tahu juga seperti apa pergolakan di dalam pikirannya. Meski keceriaan ia tebarkan dengan indah melalui sikap dan lelakunya?”

“Pun kita tidak pernah tahu. Kesulitan demi kesulitan yang ia lalui. Sedangkan saat menemui kita, ia terlihat bahagia?”

“Bukankah kita tidak sepenuhnya tahu. Kendala apa yang ia hadapi sebelum menjumpa kita. Akan tetapi kita menyambutnya dengan mimik wajah tak menyenangkan?”

“Bukankah kita tidak pernah tahu. Apa yang sesungguhnya ia harapkan? Hingga ia masih mau bertahan dan kita pun menjadi bagian dari perjalanannya?”

“Semua di luar kemampuan kita. Semua tidak pernah terbayangkan oleh kita. Walau kita merasa tahu tentangnya. Meski kita pikir pengetahuan kita sudah cukup tentangnya.

Betapa ia sangat tegar dan kuat, sesungguhnya. Walau kita akhirnya memandang sebelah mata padanya. Sehingga yang terlihat hanya kejelekkan demi kejelekkannya saja. Yang kita temukan dan besar-besarkan adalah kesalahan-kesalahannya saja. Yang kita perhatikan hanya segala yang terlihat mata, darinya. Dan sesuatu yang tidak terlihat, tidak pernah kita pikirkan tentangnya. Lalu, kita beranggapan ia seperti ini dan begitu. Ia seperti itu dan begini. Kemudian sempat juga membicarakan tentang ia.

Tanpa pernah kita sadari, bahwa sesungguhnya yang kita lakukan bukan kebaikan terhadapnya. Ingatkah kita tentang hal ini? Sebelum sesuatu tentang seseorang mampir dalam ingatan.”

Padahal, bukankah lebih baik,  kalau kita segera menanya diri. Kalau aku menjadi seperti dia, apakah ku sanggup menjalaninya? Sebelum kita men-judge ia begini dan begitu. Karena kita juga manusia biasa sepertinya. Karena ia adalah saudara kita. Hanya tertakdir dengan jalan hidup berbeda. Itu saja.

Hidupnya memang tidak semudah kehidupan yang kita jalani. Perjalanannya tidak seindah perjalanan yang kita tempuh. Kebahagiaannya tidak seperti bahagianya kita. Kelihatannya memang begitu. Lalu memberikan penilaian langsung padanya. Selalu begitu. Nah, hari ini terulang lagi. Dan kita lupa dengan keadaan dirinya sesungguhnya. Keadaan yang tidak kita tahu.

Ya, yang terlihat oleh kita memang begitu. Sehingga seperti adanya dia, kita langsung memberikan penilaian tentangnya. Namun kita sungguh tidak pernah tahu, sesuatu yang tidak terlihat darinya. Sesuatu yang hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.

Ah…  Tentang sikap yang sebelumnya tidak kita sukai darinya. Kalau kita mau meluangkan waktu untuk menyelami kehidupannya, maka kita akan memahami dirinya. Mengapa ia bersikap begitu dan begini. Sehingga kita pun ‘menyesal‘ dan ‘malu‘ sendiri jadinya. Karena sempat dan telah berprasangka yang tidak seharusnya padanya.

“Karena sesungguhnya, sesungguhnya, dalam diri tiap-tiap orang membawa kebaikan. Padanya ada kebaikan. Kebaikan yang mesti kita temukan darinya,” begini ibunda mengingatkanku, sejak dulu. Lalu, saat menemui sesiapa pun, aku ingat pada beliau. Termasuk saat ini. Ingatanku kembali menepi pada ibunda. Seorang perempuan hebat luar biasa. Perempuan yang tiada duanya di dunia. Perempuan yang sahaja, sederhana dan memberikan yang terbaik untukku. Selalu saja begitu. Walau ku tidak pernah tahu. Meski ku baru tahu. Sekalipun aku tidak mau tahu. Tapi beliau, selalu memberitahuku. Tentang ini dan itu.

Termasuk saat ini. Seiring ingatan pada ibunda hadir, aku pun tiba-tiba ingat lirik-lirik lagu ini. By : Hamdan ATT – Termiskin Di Dunia,

 Menyimak suara merdu beliau. Ku sangat menikmati lirik-liriknya nan memanjakan telingaku. #sejenakrefreshing.

Sembari meneruskan ingatan pada ibunda. Teringat gerak bibir beliau saat berbicara, menyampaikan suara hati. Ingatan yang membuatku tersenyum dan merasa lega. Dan ingatan ini, ingin ku abadikan as a reminder for me.  Sebagai wujud syukurku atas ingatan yang hadir. Seperti tentang hal ini.

“Sejak dulu ibunda tidak mengharapkan bermenantukan orang kaya, memang. Namun kalau sudah nasib yang mempertemukan, kita harus bagaimana lagi. Ya, menerima dengan senang hati.

Ibunda selalu berdoa, menemukan menantu yang shaleh dan bertaqwa, penuh cinta dan menyayangi buah hati ibunda sebaik-baiknya. Bertanggungjawab dan menjadi kepala keluarga yang sebenar-benarnya. Sebab, ibunda sudah bersusah payah membesarkan kalian. Dalam deru airmata, bersama percikan cinta yang sempurna. Maka ibunda ingin kalian (anak-anak) bahagia dalam keluarga yang kalian bangun dengan restu orang tua. Seperti halnya kakak-kakak kalian yang sudah berumah tangga. Ibunda bahagia melihat keluarga mereka yang terjaga. Walau memang penuh cerita. Ada turun naik. Ada suka duka. Namun mereka mampu menjalaninya. Karena sejak awal sudah mereka pahami, tentang makna keluarga. Bagaimana keadaan dalam berumah tangga.

Sehingga suka duka bersama, bahagia dan sebaliknya, pun menghadapinya sama-sama. Saling bersinergi demi terwujudnya surga di dunia,” ibunda mengisahkan padaku tentang impian dan harapan beliau, serta kenyataan yang menyerta. Saat kami berbagi cerita dalam kebersamaan di waktu-waktu lalu. Saat menanya ibunda tentang menantu yang beliau impi.

Olalaaaa… ternyata ku baru tahu setelah beliau bercerita. Bahwa beliau tak pinta dalam doa, bermenantukan orang kaya. Padahal dulu ku mendamba pria kaya. Aku baru menyadarinya, setelah ku mulai bertambah usia dan berbagi suara hati dengan ibunda. Aku pun senyum-senyum saja. Karena impianku memang ada.  😉

***

Sungguh, kita tidak pernah tahu alasan apa di balik yang terjadi. Kita tidak pernah tahu, betapa indah rencana-Nya. Walau begitu, di ujung upaya kita, ada ketetapan-Nya yang terbaik.

Aku kembali menekur kepala, menundukkan hati… Menyadari diri. Apakah selama ini yang ku laksana? Selama ini ku ke mana saja?  Baru-baru ini saja berbagi suara hati dengan ibunda tentang si ‘dia’. Hahaa. 😀

***

Setiap keadaan ada hikmahnya. Seperti halnya yang ku jalani saat ini. Berada di sini dan begini, pasti ada hikmahnya. Kalau ku masih mau menemukan hikmah di dalamnya. Begini ku selalu menenangkan diri. Saat ia bertanya padaku tentang hal-hal yang berada di luar kendali ku. Supaya ia mau membersamaiku lagi dan kami bersenyuman menjalani hari. Sehingga tenang lagi. Damai lagi. Dan sejuk terasa di dalam hati. Pikiran pun tidak sering pergi-pergi lagi. Namun ia fokus pada proses yang berlangsung dan kami alami.

Semoga berujung manis… semua kepahitan yang pernah ku rasa. Semoga berbuah berkah… semua langkah yang ku jalani.

Dekat-dekati pemilik diri. Dengar-dengarkan suara hati. Dan tanya-tanyai beliau yang melahirkan diri. Barangkali ada uneg-uneg beliau yang belum kita ketahui. Dan itu penting untuk kebaikan kita. Seperti yang ku alami, tentang kriteria menantu buat ibunda. Mungkin dapat menjadi jalan menuju dekatnya kita (yang belum berjodoh) dengan soulmate kita tersebut.

Dengan begini, ku mau tersenyum lagi. Senyuman yang ku rangkai untuk membiasakan diri. Supaya kami saling akrab dan menjadi sahabat sejati. Senyuman yang membuat hari menjadi semakin berseri. Semangat hidup bertumbuh dan bersemi.

Sungguh. Merangkai senyuman seperti ini adalah proses ku belajar menerima keadaan. Karena ku mengerti,… rencana-Nya jauh lebih indah dari impianku. Sedangkan kenyataan yang ku jalani, jauh lebih indah dari harapan-harapan yang belum terjadi. Sehingga ku masih menjaga harapan yang terbaik, bersama senyuman. []

🙂 🙂 🙂

 

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s