Masih di perjalanan aku kini. Sedang melangkah meneruskan perjuangan. Menempuh arah mendekati tujuan. Tujuan yang melambai-lambaikan jemarinya dengan bahagia. Untuk segera ku rengkuh dengan bahagia pula. Maka ku percepat gerak langkah yang ku ayunkan. Percepatan yang engkau ajarkan. Engkau teladankan melalui ucapan dan perbuatan. Supaya aku juga menerapkan. Seperti halnya yang engkau lakukan.

Engkau. Siapakah engkau sesungguhnya? Engkau yang ku temukan dalam perjalanan ini. Engkau yang juga sedang melangkah. Mencoba mengalihkan perhatianku sejenak. Seraya mensejajari langkah yang ku ayunkan. Engkau melirik menyampaikan sapa. Namun aku masih asyik dengan langkah-langkahku. Tidak memberikan perhatian padamu. Karena ku pikir ini demi kebaikan. Kebaikan kita sebagai sesama pejalan. Pejalan yang mempunyai tujuan.

Hendak merengkuh jemariku, engkau. Namun segera ku tepis sebelum kita bersentuhan. Karena kita bukan mahram, bisikku menggumam. Mungkin dan memang suaraku tidak sampai engkau dengarkan. Namun tidakkah engkau menangkap pesan dari sikapku padamu? Tentang bagaimana aku yang tidak memberikan perhatian. Ya, ku akui sulit memang. Namun ku yakin pasti ada pertolongan. Pasti ada jalan bagi yang berniat pada kebaikan. Yakin-yakinlah dengan keyakinan berlebih kepada Tuhan. Bahwa DIA senantiasa ada bersamamu, kawan.

Berat. Berat rasa hatiku kawan. Saat teringat kisahmu menempuh kehidupan. Ya, saat kita sempat berbagi kisah di masa silam. Engkau yang memberai pengalaman dengan ringan. Meski berbalut kesedihan. Namun engkau berbagi dengan segenap kekuatan.

Ku hadirkan diri. Untuk memberikan pendengaran terbaik padamu. Engkau yang lancar mengungkapkan perasaan. Engkau yang membuka dan menutup pembicaraan dengan segudang pencerahan Sedangkan di tengah-tengah pembicaraan, sungguh-sungguh ku memberikan waktu untukmu teman. Hingga engkau pun merasa nyaman. Engkau bilang, esok lusa dan selanjutnya jangan bosan-bosan mendengarkan.

Terkadang, sedih kalau memperturutkan perasaan, tambahmu dengan nada pelan. Aku hanya mengangguk memberikan pemahaman.
Sebab sebagai seorang perempuan, aku memang lebih banyak menggunakan perasaan. Dan ternyata bukan aku saja malahan engkau juga. Hahaaa… baiklah teman. Berarti kita dapat meneruskan percakapan dan meluruskan perasaan. Supaya ada pesan yang dapat kita pertukarkan. Dari berbagai pengalaman yang engkau tebarkan tentang kehidupan dan perjalanan. Juga dari teladan yang engkau sikapkan saat kita berhadapan sepanjang pembicaraan.

Sampai akhirnya, aku pun menemukan kesadaran. Memberikan ingatan pada adab dan kesopanan. Termasuk batasan-batasan dalam pergaulan. Aku mulai mencemaskan. Cemas dengan diriku yang barangkali dapat terhanyut perasaan lalu membersamaimu selalu dalam perjalanan. Karena sejauh ini berjalan, ku sadari bahwa ku masih mempunyai keterbatasan kekuatan.

Ya. Aku tidak sekuat yang engkau bayangkan. Aku pun rapuh dan mudah meluruhkan butir bening permata kehidupan. Lalu lama kelamaan hanyut dalam lautan kesedihan. Kalau ku tahu sedihmu karena aku, teman. Maka aku rela berjauhan denganmu demi kebaikan kita. Walau memaksakan diri dalam menepikan ingatan. Aku sudi sesudi-sudinya. Aku rela serela-relanya. Dan ku jadikan pembicaraan kita di masa silam yang belum lama berlalu, sebagai bahan perenungan. Supaya ku ingat-ingat dalam perjalanan. Menjadi pengalaman sebelum melangkah. Menjadi pelajaran untuk ku olah dan pahami. Sebab pasti ada hikmah.

Dan kini saat ku masih melangkah, aku sangat percaya dengan janji-Nya. Selalu ku jaga dalam ingatan. Sangat ku jaga dalam impian. Selamanya ku menata perasaan. Supaya, aku tidak lalai sepanjang perjalanan. Tidak lagi. Namun cukup menjadikan pengalamanmu sebagai pelajaran. Menjadikan kehadiranmu dalam episode hidupku sebagai pengalaman. Dan berikutnya, ku melanjutkan perjalanan bersama senyuman.

Engkau juga yaa. Ku doakan semoga perjalanan yang kita tempuh senantiasa dalam kesadaran. Menuju tujuan dengan niat baik. Insya Allah ada pencerahan di sepanjang perjalanan. Kalau kita mau memetik hikmah yang bertebaran.

Dan meski tidak ku tunjukkan kepedulian padamu teman, yakinlah bahwa tidak ada yang berubah dalam pertemanan. Engkau masih dapat melanjutkan langkah, begitu pun aku. Kita masih bisa beriringan dan melangkah di jalan yang sama. Namun aku menegaskan bahwa kita tidak dapat bergenggaman tangan seperti yang engkau harapkan. Untuk saat ini memang demikian. Entah lah dengan masa depan. Barangkali bisa. Karena masih ada kemungkinan…, bukan? Maka giatlah berdoa di tengah kesedihan yang engkau rasakan. Apalagi di tengah bahagia yang melingkupi ruang hatimu di sepanjang perjalanan. Karena doa dapat mengubah takdir Tuhan.

Seperti halnya engkau kawan, aku juga merasakan kesedihan kalau engkau dalam kesedihan. Maka usah engkau bersedih, teman. Angkat dagumu dan teruslah berjalan. Namun tundukkan hatimu mensejajari rumput laut di dasar lautan. Supaya engkau temukan ketenangan bersamanya dalam melanjutkan perjalanan. Semoga, senantiasa Allah beri kemudahan. Aamiin.

Teringat padamu aku di suatu malam. Menderas airmataku mengalir perasaan. Rasa yang menggemuruh memenuhi ruang hati. Kemudian menggelegar petir dalam tatapan. Aku menangis perlahan. Namun tidak sebentar. Sambil mematut-matut diri dalam bayangan. Ku keluar sejenak untuk menyaksikannya yang dalam kesedihan mendalam. Ku perhatikan dua bola matanya mulai kemerahan. Kemudian menjadi berat dan semakin bulat.

Ia menangis di tengah malam. Seiring doa yang ia lantunkan kepada Tuhan. Untuk memberimu kekuatan di tengah kelemahan. Untuk menegarkanmu di tengah goncangan. Untuk mensenyumkanmu saat melanjutkan perjalanan. Meski sendirian. Walau kita tidak bergenggaman tangan. Namun kekuatan jiwa ku alirkan melalui doa terbaik yang ku kirimkan.

Engkau pasti bisa, teman.
Engkau sanggup, berjalan.
Karena sepanjang engkau menghadirkan ingatan untuk teman, maka ia pun mengingatmu.
Selama engkau menghadirkan penghambaan kepada Tuhan, maka DIA menyelesaikan engkau punya urusan. Maka tingkatkan keimanan. Perhatikan ketaqwaan. Apakah engkau sudah benar-benar memberi perhatian pada dua inti kata barusan?

Maka engkau menemukan kedamaian.

Hei heiiy, kawan. Bukan ku menceramahimu karena ku bukan ustadzah. Bukan juga merasa sudah benar namun belajar mengingatkan. Mengingatkan diri permulaan. Lalu kalau mengandung pencerahan, boleh juga menerapkannya. Sebab aku adalah perempuan akhir zaman yang masih dan selalu membutuhkan bimbingan ke jalan bertabur bunga-bunga kebaikan di kiri dan kanannya. Juga mendambakan melangkah di jalan lurus penuh keselamatan.

Semoga senantiasa ada kemudahan dan pertolongan Tuhan. Untuk ku. Untuk engkau. Untuk kita.

Karena masa silam telah menjadi kenangan. Sekarang kita bergiat mengukir kisah menjelang masa depan penuh senyuman. Meski awalnya pahit. Walau dalam prosesnya rumit. Meski harus berakit-rakit ke hulu. Dan kemudian berenang-renang kita ke tepian.

Mengapa ku lakukan hal seperti ini terhadapmu, teman? Karena aku adalah seorang perempuan. Perempuan yang sering terjebak perasaan.

Yeah!

Nah, untuk mengantisipasinya, aku memilih menjaga hati. Supaya ia tidak terluka oleh perasaan yang ia ciptakan sendiri. Karena peranmu di dalamnya. Namun supaya perasaan ini menjadi layak hanya untuk orang yang layak. Semoga ia hanya pantas untuk orang yang pantas. Karena sebelum ini, ku pernah mengabaikannya. Mengabaikan rasa yang berujung tetesan bulir bening permata kehidupan di pipi. Dan bersamanya ku kenali diri. Ku pelajari situasi. Ku selami kondisi. Lalu kami melangkah lagi.

Dalam hal ini, ingin ku sampaikan padamu bahwa engkau bukan yang pertama singgah di hati. Juga bukan yang pertama ku biarkan menetap di ruang hati. Karena engkau adalah yang ke sekian.

Selamat yaa, akhirnya engkau pun menjadi prasasti dalam perjalananku menjumpa sekeping hati. Sungguh mengesankan. Dan ini bukan kisah fantasi apalagi imajinasi. Karena ku alami dengan sepenuh hati. Ku jalani dengan senang hati. Sehingga bersamanya, ku miliki pengalaman sejati.

Dan ketika tiba saatnya nanti. Aku dan ‘dia’ bertemu lagi. Setelah sekian lama kami terpisah di bumi. Maka masih dan tetap ingin ku lanjutkan merangkai kata tentang kami. Tentang bagaimana kami menjalani proses menuju ikatan suci.

Ooiya, Mungkin saja ‘dia’ adalah engkau atau dirinya. Atau siapa di sana? Aku percaya… ‘dia’ pun ada. Karena aku aku. Semoga kami pun bisa jumpa sejak di dunia. Berbahagia melanjutkan perjalanan bersama, seperti mereka-mereka di sana. Mereka yang telah bersamai pasangan jiwa.

Tolong doakan kami juga yaa, dari mana pun engkau berada. Terima kasih yaa. 😉 []

🙂 🙂 🙂
Love,
-My Surya-
#OntheWay

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s