Status

Nasihat dan Pesan darimu

“Nasib kita ditentukan oleh sikap kita dalam menjalani kehidupan,” bisik beliau padaku.

Beliau adalah orang baik berikutnya yang ku temui. Beliau baik dan senang memberi nasihat serta pesan-pesan tentang kehidupan padaku. Orang yang baik tanpa memandang dari mana asalku. Orang baik yang memberiku semangat lagi untuk meneruskan perjalanan hidup. Orang baik yang mengajarkanku tentang cara menyikapi kehidupan. Orang baik yang gemar mempelajari sekitar. Lalu ia memberikan padaku tips, bagaimana cara menyikapi kehidupan.

Walau masih tergolong muda dari segi usia. Namun tidak menutup kemungkinan baginya untuk memberaiku potongan nasihat dan pesan yang ia punya. Sehingga sepanjang kebersamaan kami, sangat banyak pesan yang ku petik dari beliau. Dalam hal ini, beliau adalah guru kehidupanku selanjutnya.

Yah, guru yang ku tiru. Guru yang ku teladani. Guru yang menitipkan padaku bahan pelajaran untuk ku pahami. Supaya masa pembelajaranku terus berlanjut. Seperti begitu pula adanya beliau yang terus belajar dari sekitar.

“Aku suka mempelajari orang-orang yang ada di sekelilingku. Caranya adalah dengan bertanya sampai menemukan jawaban. Bukan hanya membuat kesimpulan tentang hasil pelajaran, tanpa memberi kesempatan pada orang yang ku pelajari untuk memberikan jawaban,” tambah beliau.

***

Termasuk padaku. Ternyata aku, beliau pelajari juga. Ya, sebelumnya beliau penasaran dengan ku. Lalu ingin mengetahui lebih banyak tentang ku. Maka, beliau mengajukan pertanyaan demi pertanyaan pada ku. Pertanyaan untuk mengetahui lebih banyak tentang ku. Termasuk salah satunya adalah pertanyaan tentang, “Mengapa ku belum nikah?” Hingga tralalaaaaa…. 😀 Beliau pun mulai lega. Setelah memahami kondisi ku. Mengapa aku begini dan seperti ini. Bagaimana bisa ada di sini dan kami pun berbagi untuk menghabiskan waktu-waktu terbaik, bersama.

Selanjutnya beliau menitipkan pesan dan nasihat lagi untuk ku.

“Lanjutkan perjuangan, karena ujungnya baik kalau kita baik-baik dalam menempuh perjalanan. Semoga, balasan di hari-hari nanti lebih baik. Bahkan lebih dari perkiraan. Tetaplah berprasangka baik. Dan menjadilah baik selalu,” aku menganggukkan kepala. Beliau menatapku dengan tenang. Sehingga ku dapat menyelami dua bola mata beliau yang menawan. Sungguh, beliau menyampaikan pesan dari hati terdalam.

Berikutnya, beliau bagikan padaku tentang sikap-sikap yang tertanam kuat di dalam dirinya. Sikap-sikap baik yang ia jaga selalu. Sikap baik yang ia benahi sepanjang waktu.

Yah, dengan bersikap baik, maka aku menjadi seperti ini dan begini, kenang beliau. Walaupun panjang proses yang ku tempuh. Meski dulu menjalani hidup yang sulit, menurutku. Namun kini ku dapat memetik hasilnya. Hasil manis setelah perjuangan panjang.

Sebelum menikah, aku bertekad di dalam hati. Untuk membahagiakan orang tuaku lebih dahulu. Maka aku bergiat dan pantang menyerah. Meski dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Walau harus berkorban. Meski di tengah kesulitan, aku pantang menyerah. Karena ada saja yang memberikan bantuan. Sungguh,… Allah Maha Penyayang.

Selanjutnya, aku pun menikah. Bertemu dengan pria mapan dan berkecukupan. Sehingga akhirnya kehidupan ku berubah meski lambat. Membaik walau berproses. Saat ini, kami sedang merancang lagi usaha baru. Usaha untuk memperbaiki perekonomian keluarga kami. Kami masih berjuang. Dan aku yakin, pasti ujungnya manis, kalau kami jalani dengan optimis. Karena kita masih dapat mengubah nasib. Bukan hanya pasrah tanpa mau berusaha. Kita masih bisa memperbaiki keadaan. Selagi kita yakin dengan pertolongan-Nya, ungkap beliau dengan suara tenang.

“Doakan yaa, semoga usaha yang kami bangun lancar,” tutup beliau di ujung pertemuan kami. Pertemuan untuk bicara dari hati ke hati.

Sepanjang pertemuan yang kami jalani, beliau lebih sering berbicara. Sedangkan aku mendengarkan dengan ekspresi penuh senyuman, terkadang haru, juga penuh decak kagum. Sungguh hebat dan luar biasa. Perjuangan beliau sebagai seorang perempuan.

“Selamat melanjutkan perjuangan, sister… Kelak kita berjumpa lagi dalam nuansa penuh senyuman, yaaaa.a.a.a.a.a.

Aku akan merindukanmu saat kita berjarak raga. Aku akan mengingat nasihat-nasihat dan petuahmu untukku. Aku akan sering-sering mengingat ekspresimu saat berbagi nasihat denganku seperti saat ini. Supaya ku tersemangatkan lagi. Walau kelak, pertemuan kita hanya melalui suara. Saat kita berjauhan raga dengan jarak yang tidak lagi berbatas sebuah meja. Aku senang bersamamu.

“Tetap baik dan menjadi lebih baik,” pesanmu.  []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s