Kesempurnaan Rasa

Kita tidak pernah bisa lagi mengubah. Dari mana kita berasal. Dengan latar belakang apa kita mengawali hidup. Pun kita tidak dapat memutar balik kenyataan yang telah kita lalui. Seperti halnya perjalanan dan langkah yang telah kita pijakkan. Kita tidak dapat menariknya kembali. Walau begitu, tidak dengan masa depan dan tujuan. Karena kita masih mempunyai kesempatan untuk mengubahnya.

Yup! Sebelum masa depan datang. Sebelum semua kita alami. Maka kita masih dapat mematangkan pikir. Kita juga masih dapat menata rasa yang hadir. Masih ada waktu. Masih ada kesempatan.

Sering, dalam berbagai kesempatan. Saat ada yang menawariku untuk memesan salah satu dari beberapa minuman yang tersedia seperti jus buah yang beraneka rasa, maka aku lebih memilih jus alpukat. Kadang-kadang, aku memilih es teh atau teh hangat. Nah! Berbeda dari biasanya, terkadang aku ingin mencoba rasa yang lain lagi pada hari lainnya. Pernah juga ku pesan air putih saja. Air putih dalam kemasan. Air putih yang tanpa rasa, memang. Namun ia dapat menyegarkan, tanpa efek samping.

Air putih yang baik buat kesehatan, kalau kita meminumnya dalam jumlah banyak namun tidak berlebihan.

Begitulah aku adanya. Sejauh ini, masih selalu dan ingin melakukan perubahan-perubahan. Terkadang ku mencoba sesuatu karena penasaran dan ingin tahu. Terkadang mencoba karena mau coba-coba saja. Dan seluruh percobaan itu selamanya tidak berhasil mulus nan sesuai harapan. Ada percobaan yang pernah membuatku tersenyum penuh kemenangan karena hasilnya sukses menyenangkan. Pun pernah juga membuatku terpikir-pikir hingga tidak bisa tidur. Karena hasilnya menimbulkan resiko yang jauh dari perkiraan. Resiko yang membuatku berpikir, begini, "Kalau tidak ku coba, pasti ku tidak mendapatkan pengalaman tentang hal ini. Pengalaman yang berasal dari hasil trial and error terlebih dahulu. Dan ternyata, pengalaman seperti ini sangat mengesankan. Ia melekat dalam ingatan. Berbeda dengan memperoleh pengalaman dari mendengarkan cerita dan atau membaca pengalaman orang lain".

Berikutnya berlanjut dengan pikiran yang hadir untuk menemukan solusinya. Maka aku harus bergerak, bertanya, bertanya lagi kalau belum mendapatkan jawaban memuaskan, membaca pengalaman orang lain, dan kemudian memikirkan juga bagaimana cara berbagi tentang kegagalan yang ku alami. Ujung-ujungnya adalah senyuman juga. Karena kalau tidak mengalami seperti ini, aku tidak ke sini atau ke sana. Kalau tidak ada kasus seperti ini, aku tidak akan berjumpa ‘dia’ dan ‘dirinya’. Dan pertemuan dengan dia, mereka, dirinya dan sesiapa saja yang ku tanya, mempunyai makna. Termasuk sesiapa saja yang ku temui tanpa sengaja dalam proses bertanya. Maka pertemuan dengan mereka bukan tanpa makna, bukan? So, aku kembali belajar memetik hikmah dari perjalanan yang ku tempuh. Perjalanan untuk menemukan solusi dan pencerahan.

Perjalanan berlanjut…

Saat solusi belum tertemukan…

Ku terus melangkah…

Ku masih bertanya…

Ku temui mereka di sana…

Ku perhatikan sekeliling untuk menemukan jalan hadirnya senyuman…

Supaya ku dapat dan masih menghayati keadaan…

Bersama keyakinan dan kemantapan yang senantiasa menemani…

Untuk menguatkanku saat lelah dalam perjalanan…

Untuk menghadirkan harapan baru, saat ku mulai akan menyerah. Harapan tentang solusi terbaik.

Hingga akhirnya, bergembiralah secukupnya. Berbahagialah sekadarnya. Senyuman pun mengembang lebih indah. Ada dia di depan mata. Ia menjadi peluruh rasa yang tetiba hadir. Ia menjadi penetralisir pikir yang sempat memenuhi ruang ingatan.

"Yes. You are the answer," I said.

Aku tersenyum lagi, menata rasa yang hadir. Aku pun terharu. Seraya mengingat siapa saja yang ada di balik layar. Mengingat semua yang berperan tidak langsung. Mengingat mereka yang penting dan tidak mementingkan diri sendiri. Mengingat, banyak di luar sana yang siap menjadi jalan ingatkan kita pada diri. Bahwa sungguh, kita tidak pernah benar-benar sendiri. Kalau kita mau mencari. Mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang hadir. Maka, jangan hanya kelamaan berpikir. Bergeraklah, bertanyalah, membacalah, temuilah sesiapapun yang engkau yakini dapat menjadi jawaban, maka solusi pun hadir.

Pengalaman ini tentang perjalanan ku menemukan pencerahan setelah sempat melakukan percobaan karena sebelumnya penasaran dan ingin coba-coba. Ku pikir tidak ada resikonya. Namun ternyata resiko itu ada. Ia duduk manis di ujung percobaanku dan kemudian merengkuhku. Karena ia ingin menitipku pengalaman tak terlupakan.

Maka ku sampaikan ucapan terima kasih ku untuk suatu hari yang lalu. Bersamanya ku melakukan percobaan dan kemudian memperoleh pencerahan.

Esok dan lusa atau di hari lain, kita tidak akan pernah bertemu dengan hari yang sama, memang. Namun kesempurnaan rasa kita peroleh dari pengalaman yang ia titipkan saat membersamainya. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s