“Kata-kata adalah do’a. Maka ucapkanlah kata-kata yang baik, sebagai doa terbaikmu. Walaupun berkata-kata pada diri sendiri. Meskipun berkata-kata dengan orang lain. Semoga hanya kata-kata yang baik yang kita sampaikan, yaa.”

***

Just Friend

Sebagai manusia normal yang mempunyai kemampuan berbicara, maka dalam sehari pasti ada yang kita bicarakan.

Termasuk orang yang tidak dapat bicara dengan suara sekalipun, mereka pasti bicara di dalam hati.

Pembicaraan di dalam hati yang mungkin tidak tersampaikan, sesungguhnya kita sedang berbicara.

Hari ini kembali ada yang mengingatkanku tentang hal ini. Hal yang berhubungan dengan bicara. Bicara yang berkaitan dengan kata-kata. Bahwa kata-kata yang kita ucapkan adalah doa. Maka, apakah kata-kata yang kita sampaikan dalam pembicaraan terakhir?

Apakah pembicaraan tersebut berisi kata-kata yang baik?

Berikutnya, ada juga yang mengingatkanku lagi tentang pentingnya berkomunikasi. Tentang bagaimana menjadi pendengar yang baik. Sehingga kita dapat menjadi tempat berbagi untuk mereka yang berbicara dengan kita. Termasuk juga tentang bagaimana menjadi orang-orang yang berbicara dengan baik. Sehingga sesiapapun yang mendengarkan kata-kata kita, menyukainya. Dan terlebih penting lagi adalah tentang makna dari kata-kata yang kita sampaikan.

Mereka yang menyampaikan kata-kata padaku, aku sering terkesan. Kesan yang teringat-ingat, selama ku belum merangkainya dalam tulisan. Kesan yang menarik-narikku untuk mengalirkannya melalui kata-kata juga. Walaupun tanpa suara yang terdengar, namun melalui tulisan. Begitu aku akhir-akhir ini. Sebab, ku akan teringat-ingat dan teringat-ingat lagi, dengan kata-kata mereka pada ku. Seperti yang satu ini, “Kakak tuch malu-malu, tapi nyusahin orang.” Seraya memanyunkan bibir dan mendekatkan kursi ke arahku. Agar aku bisa duduk. Karena sudah lama ku berdiri dan beliau melihatku. Dan saat beliau menawarkanku untuk duduk di dekatnya, aku bilang, “Makasiiiiihhh. 😀 “ Tapi agaknya beliau pengertian denganku. Lalu membaca kata-kata yang hadir dari dalam diriku. Kata-kata yang tidak ku ucapkan, namun terdengar oleh beliau. Makanya, beliau pun mendekatkan kursi untuk ku bisa duduk. Ya, beliau rela berkorban meski jarak kami yang memang lumayan jauhan. Aku pun menjadi tersentuh dengan kebaikan beliau padaku. Seorang laki-laki. Aku sering memanggilnya ‘anak kecil’, karena postur tubuhnya yang memang agak pendek tapi gemuk. Aku suka aja memanggil begini, lagian beliau juga fine-fine ajaah.

Maka, sejak beliau menyampaikan kata-kata seperti demikian padaku, bagiku terngiang-ngiang di telinga, sampai detik ini. Walaupun hadirnya dalam ingatanku tidak sering, namun saat ia teringat lagi, aku pun merenungkan, ku pikir-pikir, apakah betul aku begitu? Dengan malu, sekaligus menyusahkan? Ah, ‘mungkin’ beliau hanya bercanda, pikirku.

***

Kata-kata, apapun yang kita ucapkan, bagi sebagian orang mungkin tidak ada apa-apanya. Kalau kata-kata yang kita sampaikan bukan dari hati. Namun saat kita menyampaikannya dari hati, maka sampainya ke hati juga. Seperti kata-kata berikutnya yang ku terima pula. Dari beliau yang menasihatiku tentang masa depan. Dari beliau yang senangnya memang berbagi nasihat dan kata-kata bermakna. Dari beliau yang sering menitipkanku pesan-pesan tentang kehidupan, perempuan, dan juga keluarga. Dari beliau aku belajar banyak hal, walaupun hanya melalui kata-kata yang beliau sampaikan.

Kata-kata terkini yang beliau selipkan di dinding hatiku adalah tentang peran perempuan dalam keluarga. Intinya adalah sebagai seorang perempuan, kelak ketika berumah tangga, menjadilah istri yang baik. Istri yang menyampaikan kata-kata baik, dalam berbagai kesempatan berbicara. Istri yang juga berfungsi menjadi teman, sahabat, rekan, penasihat, sekaligus ibu dari anak-anak bagi suami. Dengan demikian, saat suami ingin bercerita suara hati, ia dapat menyampaikannya pada istri. Sehingga dapat menutup peluang baginya untuk bercerita tentang suara hatinya dengan perempuan lain. Maka, sedapat mungkin, menjadilah pendengar yang baik baginya. Belajarlah untuk menjadi penasihatnya saat ia membutuhkan nasihat. Belajarlah menjadi rekan yang terbaik saat ia membutuhkan.

“Karena menjadi istri di zaman sekarang, harus kuddu dan mesti pintar,” tutup beliau. Aku tersenyum, beliau pun senang berbagi nasihat denganku.

Terima kasih teman, sudah mendengarkan dengan penuh pemahaman. Untuk kata-kata ku yang ‘mungkin’ terselip yang kurang/tidak baik selama ini, tolong untuk bersedia memaafkan yaa.  Semoga kebahagiaan senantiasa menyertaimu dan selamat berakhir pekan bersama keluarga tercinta. []

🙂 🙂 🙂

Iklan

Satu tanggapan untuk “Berkata Baik atau Diam

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s