Pilihan Hati

“Hanya bentuk yang tidak bisa diubah, namun sikap masih bisa berubah. Kalau kita mau mengubahnya dan berusaha untuk menjalani proses perubahan.” (Nasihat beliau lagi, untukku. Beliau yang sudah menikah)

Karena hidup adalah rangkaian pilihan demi pilihan. Maka, selagi kita masih menjalani kehidupan, pilihan pun masih ada. Pilihan-pilihan yang mengajak kita bangkit dan bergerak lagi, untuk meneruskan perjalanan. Pilihan-pilihan yang membersamai kita dalam melanjutkan perjuangan. Pilihan-pilihan yang menjadi bagian dari kehidupan kita pada masa-masa berikutnya. Dan bersama pilihan yang kita tentukan, kita mesti dan harus menyikapi dengan baik. Sikap yang buruk yang harus kita ubah agar menjadi baik. Sikap baik yang dapat kita ubah untuk menjadi lebih baik. Bersama sikap tersebut, kita menjalani kehidupan.

***

Related image
.:: Pilihan hati mak adalah yang sayangkan kita kerana Allah::.

#Tentang kita yang tidak jadi menikah

Akhirnya, impianku menjadi bagian dari keluarga besar mu terlaksana. AhA! Memang kalau jodoh akan bertemu, maka bertemu juga. Kalau sudah tertakdir bersama, maka kita pun bersama pula. Walau tidak lama, meski sebentar saja. Wahai, terima kasih buatmu yang beberapa waktu lalu membersamaiku. Atau, aku yang nimbrung dalam keluarga kalian, yaa. But, apapun namanya, aku semakin percaya tentang impian ini. Maka, ku jaga ia sejak dulu. Ku pastikan ia menjadi nyata, walau lama. Ku yakini seyakin-yakinnya, bahwa kita adalah bagian dari keluarga.

 

Seperti halnya mereka-mereka di sana. Sebelumnya memang ku hanya dapat mendamba, mengharap dan membayangkan semua terlaksana. Hingga sampai pada waktunya aku pun sudah lupa. Aku lupa dengannya. Dan kemudian ia menyapaku di dalam kenyataan. Kenyataan yang membuatku teringat padanya. Pada impian lama.

Memang kita tidak dapat memastikan, apa yang akan kita lakukan esok. Walaupun begitu, tetaplah menyusun impian dan rencana tentang hari esok. Begitu juga dengan sudah cukup banyaknya rencana yang kita susun tentang aktivitas esok dan lusa. Semua belum tentu kita laksana dengan baik. Walau demikian, tetaplah menyusun impian dan rencana untuk hari esok. Karena semua ketetapan yang akan kita jalani, ada dalam ketentuan-Nya, seluruhnya. Percayalah dan yakini sebenar-benarnya. Supaya saat menjalani, kita dapat menghayati dengan sempurna.

Tidak lama kebersamaan kita yang tercipta, memang. Hanya beberapa jam saja. Namun semua berkesan. Dan sudah cukup untuk mengembalikan ingatanku pada impian lama. Impian untuk menjadi bagian dari keluarga besar kalian. Lalu, bahagiakah aku? Ya. Bahagia rasanya saat impian menjadi nyata seperti ini. Kebahagiaan yang sulit ku ungkapkan dengan kata-kata. Namun ku masih dan tetap ingin mengabadikannya melalui catatan. Semoga, engkau pun tahu bahwa aku bahagia dengan kebersamaan kita hari ini. Kita yang belum pernah berjumpa, namun akhirnya dapat bersama. Kita yang sudah tertakdir berjodoh, bertemu juga akhirnya.

Begitulah kesanku tentang pertemuan kita hari ini. Meskipun kita tidak jadi menikah. Namun ada hikmah yang ku petik. Bahwa silaturrahmi dan komunikasi serta kebersamaan masih tercipta, atas kehendak-Nya. Sehingga aku pun mengerti kini, kun fayakun-Nya. Ia menyediakan waktu kebersamaan kita tidak untuk selamanya, namun beberapa waktu saja. Dan itupun terlaksana setelah lamaaaaaaaa.

***

#Tentang kita (saat) jadi menikah

  • Tips menyikapi konflik dalam berumahtangga : Saling keterbukaan – Saling pengertian – Jangan ada ikut campur orang ke tiga – Komunikasi dari hati ke hati –
  • Setelah berkeluarga, maka keluargamu adalah keluargaku dan keluargaku keluargamu juga.
  • Hak suami atas istri, sedangkan hak ibu atas anak laki-lakinya (yang menjadi suamimu).
  • Di awal-awal berkeluarga, jangan sampai ada orang ke-tiga (selain suami dan istri). Karena awal berkeluarga adalah fase pengenalan dua pribadi yang berbeda. Sedangkan orang ke-tiga boleh berperan, kalau benar-benar dibutuhkan saja untuk memberikan pencerahan tentang rumah tangga. Sedangkan saat masih bisa menemukan solusi berumahtangga berdua, maka temukanlah.
  • Dalam keluarga, hanya ada satu pemimpin utama yang mengendalikan bahtera. Ingat, yaa.
  • Harus ada pihak yang mengalah dan bersabar saat sedang terjadi gejolak-emosi. Misal, ketika yang seorang sedang naik darah, yang lainnya menenangkan. Ketika yang seorang marah-marah, maka yang lainnya menanggapi dengan sikap dewasa. Saat yang satu diam, yang lainnya mengajak bercerita. Namun kalau situasi tidak memungkinkan, bawa enjoy aja. Terkadang diam bisa juga sebagai jawaban atas kemarahan. Supaya, api amarah tidak menebar ke mana-mana. Agar gejolak emosi tidak semakin meninggi.
  • Tidak mengapa merendahkan hati, demi mewujudkan ‘Baiti jannati‘.
  • Demi menjaga keutuhan keluarga dan keharmonisan, maka tidak mengapa mengalah, dan bersabar.

“Dalam berumahtangga, pasti ada permasalahan. Baik dari hal-hal sepele nan remah, maupun hal-hal besar. Maka, kedewasaan dalam berpikir dapat menjadi solusi. Saling mengerti karakter satu sama lain, menjadi jawaban. Memang, berumah tangga tidak mudah, namun juga tidak rumit. Oleh karenanya, pelajarilah ilmu tentang berumah tangga. Supaya dalam kendala dapat menemukan jalan keluar yang tepat. Karena sebagai manusia, kita sangat mengharapkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Namun dengan segala keterbatasan yang kita punya sebagai hamba Allah.” Kisah beliau tentang pengalaman dalam pernikahan.

Maka dalam berbagai situasi, segeralah berbenah, kembali kepada Allah. Semoga surga dunia yang sesungguhnya menjadi mudah kita wujudkan. Bukan hanya impian dan harapan, namun menjadi kenyataan.

“Yang paling sempurna imannya di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya.” (HR. Turmudzi)

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s