Status

Menjaga dan Terjaga

Dengan penjagaan yang terbaik, IA selalu ada dan selamanya ADA. Untukku, IA Menjaga. Padamu, IA menjaga. Penjagaan berlebih dan terkadang kita tidak menyadarinya. Lalu, kesadaran hadir, saat kita terkesiap, kembali pada kesadaran. Kemudian berucap syukur atas kesadaran yang datang lagi.

“Alhamdulillah, Engkau Menjagaku, dengan sangat baik, YA ALLAH… Hingga ragaku tak rubuh sedetik yang lalu. Karena itu, saat ini aku menangis… Terharu. Rindu. Dan semua ini sangat jarang ku lakukan. Aku jarang menangis, kalau tidak merindukan-Mu seperti saat ini. Sungguh, Engkau Maha Baik. Menjagaku, walau ku lupa kepada-Mu. Engkau Menjagaku, meski ku lelap dalam tidurku. Engkau Menjagaku, selalu.” 

***

Ku jaga air mata ku, agar tidak luruh ia di dalam perjalanan. Ku tata degup jantung ku, supaya masih tetap normal. Ku edarkan pandangan ke sekeliling ku, lagi. Seakan tidak percaya, dengan kenyataan yang baru saja ku alami. Namun sejauh ini, aku sering belajar mensyukuri keadaan. Mempercayai takdir. Mempercayai yang gaib. Mempercayai yang tidak terlihat, namun ada. Mempercayai, bahwa aku tidak sedang benar-benar sendiri, saat aku sedang melangkah sendiri. Masih ada dan sangat banyak di sana… di mana-mana, orang-orang yang juga melanjutkan perjalanan. Mereka sendiri juga. Aku juga. Lalu, apa bedanya kami?

Dalam perenungan panjang ku, aku pun sampai di tujuan. Dengan masih menjaga kesadaran. Detik-detik yang lalu, aku masih bisa melangkah. Kaki-kaki ku masih sehat, begitu juga raga, mereka bergerak dengan ringan.

Ku simpan perlengkapan yang ku bawa. Ku tepikan mereka pada tempat masing-masing. Lalu, ku minum segelas air. Merasakan alirannya, menyejukkan tenggorokan. Ku rasakan benar-benar, ia mengalir sampai ke perut. Aku pun kenyang atau ‘kembung‘? Tidak, tidak sampai kembung. Karena segelas air, cukup untuk menghilangkan dahaga. Sebab sebelum ini aku ‘haus’ dan butuh asupan cairan.

Beberapa menit kemudian, ku raih alat komunikasi lama ku. Sebuah ‘hp’ berwarna putih yang sering tergeletak di kasur. Karena fungsinya yang sudah tidak optimal lagi. Maka, ku gunakan ia untuk baca-baca saja, atau merangkai kata melalui lembaran email yang tersedia. Sering juga untuk merekam situasi melalui gambar. Bahkan merekam suara melalui ‘recorder’. Selebihnya, ia sering tertinggalkan.

Oiya, sesekali juga, ku isi ulang baterainya lagi. Saat energinya hampir habis. Kemudian setelah penuh, ku lepas pengisi baterai dan melanjutkan aktivitas bersamanya. Tidak lama, hanya beberapa waktu saja. Karena fungsinya yang sudah tidak optimal. Walau begitu, ku masih menjaganya bersama ku. Sebab bersamanya ada cerita. Bersamanya juga, di waktu lalu ku merangkai kisah kami. Bersamanya juga, ia menemaniku jalan-jalan sambil merangkai kata. Bersamanya, ku sempat pula terlelap dalam mimpi.

***

Tengah malam, menjelang dini hari. Aku terbangun dari tidur lelap ku. Aku teringat lagi kejadian tersebut. Kejadian saat ku hendak menyeberang jalan. Jalanan lebar dan memang harus ku seberangi. Supaya ku sampai di jalan berbeda. Untuk melanjutkan langkah-langkah lagi. Ya, aku harus menyeberang dengan sangat hati-hati. Kehati-hatian yang ku jaga saat melangkah. Sebagai salah satu pesan Ibu yang ku ingat selalu.

Hati-hati di jalan ya,” pesan beliau untukku. Sebab ku akan meneruskan perjalanan, jauh dari beliau.

Iya, baik Ibu,” jawabku sepenuh hati. Aku mencamkan tekad sungguh-sungguh. Untuk berhati-hati dalam perjalanan.

Meski kehati-hatianku sudah penuh. Namun kalau Penjagaan-Nya tak sampai pada ku, maka aku telah rubuh. Sebab, saat ku ingat, tidak jauh jarak kami. Dan mobil itu sedang melaju. Bukan dengan kecepatan sangat tinggi, namun cukup untuk membuat tubuh ku limbung, lalu rebah. Karena kekuatan ku untuk berdiri saat ia bersentuhan dengan ku, tidak sebanding. Aku kumpulan tulang-tulang dan daging serta nyawa. Sedangkan ia adalah sekotak besi bersama kaca-kaca bening.

Lagi-lagi, ingatan ini membuatku meluruhkan bulir bening permata kehidupan di pipi. Mulanya sesak ku rasa, karena mendung menggelayut di hati. Lalu menggerimis di pipi. Membanjir dan aku pun sesenggukan. Menangis dech. Heheee.

Lamaaaaaaaa sekali. Kalau ku menangis. Sampai akhirnya, ku menyadari diri. Tidak semestinya menangis lagi. Cukup luahkan ia di dalam catatan, supaya tidak teringat-ingat terus. Sisihkan beberapa jenak waktu untuk menyusunnya dengan huruf-huruf. Dan selanjutkan akan mensenyumkanmu. Sebab, engkau akan mengetahui kondisi terakhirmu bersamanya, bisik pikir ku.

Ai! Sebagai perempuan, ku memang sering-sering menjadi perasa daripada pemikir. Namun aku juga belajar berpikir lebih sering untuk menepikan rasa yang hadir.

“Saat rindu kepada-Mu hadir… Aku tidak bisa lagi berpikir. Ketika rindu meluruh bersama airmata membanjir… Aku pun berpikir lagi. Termasuk memikirkan tentang airmata yang ada. Dan kemudian memikirkan segala ciptaan-Mu yang lainnya serta Penjagaan-Mu yang selalu ada, untuk ku.”

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s