Berhenti Sejenak

Sejenak, ya, sejenak saja.
Sejenak saja. Ku berhenti dari langkah-langkahku.
Sejenak saja. Untuk ku ingat tujuan melangkah.
Sejenak saja. Ku tepikan langkah.
Sejenak saja. Ku alihkan wajah dari pandangan ke depan, lalu mengedarkan pada sekitar. Kemudian fokus pada selembar wajah.
Sejenak saja. Ku berjuang membuat ego ku mengalah.

Hasil gambar untuk muhasabah
Muhasabah Diri

Sejenak saja. Menepi ku dari jalan yang sedang ku jadikan tempat melangkah. Dan kemudian duduk-duduk berselonjor kaki. Sambil menghadapkan wajah ke atas, melihat menengadah langit. Sedangkan sebatang pohon rindang yang terdekat dengan ku, menjadi tempat bersandar. Lalu, kami menyatukan suara. Untuk berbagi kisah, meluahkan rasa. Berdua. Ia bercerita, sedangkan aku menyimak, mendengarkan, merespon, menyarankan, mengangguk, mengiyakan, menyampaikan pesan-pesan dan berekspresi kaget! Terkadang tenang. Terkadang mempertanyakan.

***

“Saat mulai bosan dengan segala yang ada. Malah, terpikir ku untuk bunuh diri saja. Melompat dari gedung yang tinggi atau terjun ke lembah nan curam. Tapi semua urung ku lakukan, karena aku takut mati,” urainya dengan wajah menekuk dan mata berkaca-kaca.

“Bahkan, aku pernah berpikir untuk menorehkan pisau di nadi ku ini. Tapi lagi, aku nyeri dan tidak berani. Hingga pernah terbawa mimpi, aku benar-benar melakukannya.” lanjutnya dengan suara yang mulai lemah, melembut. Sambil memegang pergelangan tangan kirinya dengan jari-jari tangan kanan.

***

Miris, sungguh miris ku saat mendengarkan ceritanya. Sungguh ingin ku rengkuh ia dengan segenap kekuatan yang ku punya, namun ku sadar aku tidak sekuat itu. Pun ingin ku raih pundaknya untuk ku tepuk-tepuk pelan, menenangkan, namun aku tidak sedang dalam ketenangan. Mana bisa ku memberikan ketenangan? Maka, cukup ku lirihkan doa di dalam hati, “Semoga engkau kuat menjalani segala uji ini. Karena engkau mampu, maka segala yang ada tersebut menghampirimu dan menjadi bagian dari waktumu. Baik tentang kisah cinta yang berbelit-belit penuh liku, lingkungan karir yang orang-orangnya membuatmu gelisah tak menentu. Sebab mereka mengarang cerita tanpa kebenaran, mereka tahunya bilang begini dan begitu tentangmu. Kondisi keluarga yang engkau bilang, tidak mengerti kondisimu. Hingga dengan dirimu sendiri, engkau tidak memahami apa maunya. Semoga engkau tabah…” Ku pandangi engkau lagi, dengan segala prihatinku. Empati.

Sungguh, aku iba dan tidak menyangka. Sebegitu lengkap deritamu. Luka di dalam hatimu sungguh dalam. Pertarungan pikiranmu sungguh hebat. Bahkan dengan dirimu sendiri, engkau mempermasalahkan. Aku tidak mau begini, maunya begini. Sangat berbeda kondisinya dengan yang terlihat. Sebab, apabila engkau tidak bercerita seperti ini, tentu tidak akan ada yang tahu bagaimana kondisi batinmu. Karena dari pandangan mata nyata, engkau sempurna segalanya. Punya keluarga lengkap, harta melimpah (lebih dari cukup), fisik indah nan menarik, juga segala kebaikan yang terlihat. Ditambah lagi dengan kendaraan yang siap mengantarkanmu ke tujuan. Berbeda dengan ku, kemana-mana aku sering berjalan kaki.

Ya. Aku masih berjalan, di zaman ini. Hihiii. 😀 Tapi aku menikmati setiap langkah-langkah kaki dengan senang hati. Karena orang tua juga merestui perjalanan ini. Sedangkan sahabat-sahabat terkadang mengajakku berkeliling dengan kendaraan mereka. Sehingga ku bisa pergi ke tempat yang lebih jauh, lebih cepat. Hal ini membuat ku semakin bahagia. Seperti orang paling bahagia di dunia, jadinya. Termasuk engkau, yang sering mengajakku berkeliling dengan kendaraanmu. Engkau baik padaku. Sejak dulu.

Sehingga dengan keadaan ini, aku pun mulai menyadari. Bahwa ternyata memang benar. Tidak selalu yang kita pikirkan atau lihat tentang orang lain, sesuai dengan kenyataan yang ia alami. Maka, belajarlah untuk mempelajari dan memahami kondisi orang lain terlebih dahulu. Sebelum akhirnya kita men-judge mengapa ia begini atau begitu.

Janganlah seperti ini… Karena kita tidak tahu, apa yang sesungguhnya ia alami. Bagaimana menderitanya ia dengan ujian hidup yang ia hadapi. Betapa sulitnya ia berjuang menjalani segala masalah batinnya. Betapa kita tidak pernah tahu, bagaimana isi hatinya.

Sungguh, berprasangka baik adalah yang terbaik. Apalagi pada teman sendiri. Sedapat mungkin kita mendoakannya, bila tidak mampu membantu dengan tenaga atau harta yang kita punya. Ya, doakanlah saja dengan doa tulus nan ikhlas. Sebagai bantuan terbaikmu untuknya.

***

Untuk dapat mensyukuri keadaan yang kita miliki, maka kita perlu mendengarkan kisah orang lain. Sehingga, kita mau mengerti. Masih banyak hal-hal unik di sekitar kita untuk kita syukuri. Hal-hal yang mungkin tidak kita temukan, tanpa mendengarkan kisah orang lain terlebih dahulu. Saat kita merasa kekurangan di satu sisi, sadarilah bahwa masih ada hal yang berlebih di sisi lain. Dan kelebihan tersebut yang patut kita syukuri. Sehingga kita menjadi orang-orang yang mudah bersyukur.

Begitu juga dengan sabar yang perlu senantiasa menemani. Temukanlah jalan sabar kita. Walau mulanya harus dengan mendengarkan kisah orang lain terlebih dahulu.

***

Segalanya tidak ada yang kebetulan. Begitu juga dengan keadaan yang kita jalani saat ini. Termasuk orang-orang yang kita temui dan bersamai hingga detik ini. Yakinilah bahwa bersama mereka, kita dapat selalu berkaca. Berkaca untuk menemukan kelebihan, supaya kita semakin mudah bersyukur. Berkaca saat menemukan kekurangan, sehingga kesabaran pun bertumbuh subur.

Jalan-jalan selalu membentang indah nan panjang, untuk kita lalui. Begitu juga dengan persimpangan yang pasti ada di jalan-jalan tersebut. Semua mengajak kita untuk sering mentafakuri diri saat melangkah.

“Apakah benar, ini jalan yang ku pilih?” Lalu, ketika kita bertemu dengan mereka yang juga sedang melangkah. Sebelum melanjutkan langkah bersama, kita juga masih perlu bertanya diri, “Benarkah mereka yang ku harapkan menemani dalam perjalanan? Apakah tujuan kami benar-benar sama? Sehingga waktu-waktu berikutnya kami jalani dengan lebih baik dengan bersama.”

Karena kalau sudah memiliki tujuan sama, walau bagaimana pun kendala dan rintangan dalam perjalanan di waktu-waktu berikutnya, ia senantiasa ada. Ia ada, untuk merengkuh, saat kita terjatuh dalam perjalanan. Ia ada untuk membimbing, saat kita sempat terhuyung sebelum rubuh. Ia ada untuk membantu mengobati luka, ketika kaki-kaki kita lecet. Ia ada untuk menemani, saat kita butuh rehat sejenak. Ia ada untuk mengajak bergerak cepat, saat waktu terus melesat dan kita melambat. Ia ada, untuk menjadi motivasi di saat raga penat. Supaya kita tidak bersantai-santai. Namun bergiat dan menjadi rajin. Bersama mereka yang ada di dalam kehidupan kita. Siapapun ia.

***

“Terima kasih yaa, untuk mau mendengarkan kisahku hari ini,” ungkapnya di ujung waktu pemberhentian kami.

“Iya, lain waktu boleh cerita lagi. Insya Allah, ruang di sini masih tersedia untuk menampung kisahmu, teman,” jawabku sambil bangkit. Dan kemudian kami melanjutkan langkah bersama. Bergenggaman tangan, bersenyuman. Terlihat raut wajahnya mulai berseri, cerah menenangkan. Saat ku sempatkan meliriknya.

***

Ia sahabatku. Sahabat baik. Bersama, kami saling menguatkan. Bersama, kami saling berbagi senyuman. Terima kasih kawan, untuk selalu ada di waktu yang tepat. Aku mungkin tidak dapat membalas kebaikanmu, namun masih ada doa untukmu. Bersama cinta, selamanya.

Terima kasih juga untuk berbagi kisah dan cerita tentang duniamu. Sehingga ku tahu. Walau kita tidak selalu berada di dunia yang sama, selamanya. Meski kisah hidup kita tidak sewarna, senada. Namun kehadiranmu mewarnai duniaku, akhirnya. Aku suka bersamamu. Senang sungguh bahagia, dengan kebersamaan kita. Seperti saat ini. Dengan saling berbagi, kita siap menempuh hari lagi. Esok lebih berseri, yakinlah.

Sahabat…
Ketika di lain hari kita tidak dapat bersama untuk bertemu langsung kalau engkau ingin bercerita. Yakinlah di sini, masih tersedia ruang untuk menampung kisahmu. Seperti yang ku lakukan. Karena terkadang ku mampir di sini, untuk sekadar menitipkan jejak-jejak luka ku. Terkadang ku menangis, untuk meninggalkan duka ku. Dan di waktu ku membacanya lagi, terkadang ku mensenyuminya. Karena ternyata, semua telah berlalu. Begitu juga dengan yang engkau alami. Semua luka, perih dan penat di pikiranmu, sesak di hatimu, semua akan berlalu juga, teman.

Hanya engkau perlu menyediakan ruang kosong untuk menempatkannya pada posisi masing-masing. Terkadang, engkau perlu meninggalkannya sebagian. untuk selanjutnya meneruskan langkah-langkah dengan ringan. Bukan untuk melupakan, namun menjadi pelajaran. Bukan untuk memendam luka, namun menjadi pengalaman. Ia berharga. Ia bermakna. Yakin dan percayalah.

Engkau perlu lebih kuat! Engkau harus hidup lebih lama lagi. Engkau mampu menghadapinya. So, jangan lakukan hal-hal aneh, yaa. Walau engkau marah. Walau engkau gundah dan resah. Teruslah melangkah seraya memetik hikmah dan menjadi bagian dari sejarah orang-orang yang tabah. Yaahh. Karena setiap keadaan pasti ada hikmahnya untuk kita. Tidak perlu bertanya berapa lama harus tabah. Jalani saja. Tidak juga mesti ngotot kalau ternyata keadaan tidak berubah. Karena yang harus kita ubah ada lah diri kita sendiri, makanya keadaan pun berubah. #mengingat-ingatkandirilagi.

Aa Gym berpesan melalui SMS Tauhiid, begini, “Situasi semakin tak nyaman.  Ayoo, segera kembali kepada Allah, banyak istighfar, banyak sujud, banyak berdoa, banyak ke masjid.” []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close