Siapa dia dan mau ke mana?

Di sini kita bersama, saat ini. Ya, masih di sini. Masih bersama. Masih juga saat ini. Bukan esok, lusa atau nanti. Namun saat ini adalah kebersamaan kita yang indah. Kebersamaan yang terukir dengan megah. Lukisan yang kita pajang sebagai kenangan tentang hari ini. Hari ini yang sedang kita jalani. Hari ini yang ku harap, engkau abadikan juga di dalam hatimu, teman. Hari ini yang berseri.


Hari ini, pertemuan dan kebersamaan kita masih dalam rangka melanjutkan perjalanan. Untuk meneruskan bakti, mewujudkan mimpi. Memberikan bukti bahwa saat ini kita masih ada menjejakkan kaki di bumi. Yap, kita masih melangkah, teman. Bukan terbang atau melayang. Kita masih menapak dengan ringan di bumi-Nya. Bumi yang hanya kita tinggali sementara saja. Sebagai jalan untuk menuju negeri abadi. Kampung halaman kita yang sesungguhnya. Maka di perantauan ini, apakah yang kita laksana?

🤔Tentang aktivitas yang kita lakukan selama di dunia, banyak jenisnya. Dari kebanyakan aktivitas tersebut, bagian mana yang lebih banyak porsinya? Aktivitas apakah yang paling bernilai? Dan berapa lama kita melakukannya? Baiklah kita sering-sering mengingat tentang hal ini. Supaya waktu hidup kita di dunia ini menjadi berarti. Bukan malah tanpa makna dan tersia begitu saja. Lalu setelah kita meninggal, ada yang kita bawa. Untuk senantiasa menemani dan tidak pernah meninggalkan. Sehingga di sana nanti, kita tidak pernah merasa sendiri atau benar-benar sendiri. Karena ramai yang menemani, menjadi bagian dari hari-hari kita berikutnya.

😵Ya, selama masih menjalani kehidupan di dunia ini, kita mesti sering-sering menanya diri. Supaya ia sering terjaga dan tidak lelap dalam mimpi panjang. Supaya ia bangun lagi, kalau pun sempat ‘ngantuk’ dan tidak sampai terbuai. Supaya ia mudah bangkit lagi saat ‘letih dan lelah’ menggodai. Supaya ia bergiat dan bersemangat lagiiiii… Karena hidup ini adalah rangkaian perjalanan. Perjalanan yang pasti ada ujungnya. Maka, di jalan apakah kita sedang melangkah saat ini, teman? Apakah jalan-jalan tersebut kita yakini merupakan jalan yang menyelamatkan kita hingga akhir nanti? Apabila ternyata jalan yang kita tempuh belum tepat, masih ada kesempatan untuk berputar arah dan memilih jalan yang benar. Marii, selagi di dunia. Sebelum nyawa sampai di tenggorokan. Masih ada kesempatan untuk memutar arah.

Jangan terlena, bila saat ini kita sedang berbahagia. Maka berbahagialah sekadarnya. Jangan juga terlalu bersedih, bila kita dalam duka. Karena kesedihan akan berganti dengan kebahagiaan. La tahzan. Innallaaha ma’ana. Yakinilah dengan sebenar-benarnya, atas kehadiran-Nya dalam setiap lini kehidupan kita.

Bahkan selembar daun yang jatuh pun atas izin-Nya. Hingga urusan terkecil, urusan terumit yang tidak kita sadari. Semua dalam kuasa-Nya. Semua telah tertata, terdata. Sehingga dengan memperhatikan semua yang ada di alam ini, menjadi jalan bagi kita untuk mengembalikan ingatan kepada-Nya. Meyakini peran-Nya dalam setiap proses hidup kita. Sejak tiada, kecil, balita, belia, remaja, dewasa, menua dan kemudian kembali tiada. Yah, ketiadaan yang semestinya membuat kita sering menyadari diri. Siapa dia dan mau ke mana?

"Ibunda kembali mengingatkan. Bahwa semua yang kita jalani adalah dalam ketentuan-Nya. Termasuk urusan masa depan yang sangat tidak kita ketahui."

***

Maka, atas nasihat demi nasihat beliau yang tidak putus-putusnya, ku sering merenungkan peran beliau dalam kehidupanku. Peran beliau yang membuat segalanya ku rasa indah nan mudah. Segalanya menjadi ringan nan damai seperti ini. Semua yang ku jalani, sebegitu-begitunya. Namun, semua tidak terlepas dari doa-doa dari lisan mulia beliau. Dalam ridha seorang ibu, langkah-langkah pun menderu tanpa ku tahu. Bahkan dalam suasana terpelik sekalipun, ada-ada saja kelonggaran. Dalam keadaan penuh tanya, jawaban berdatangan. Bahkan ketika pikirku sempat penuh oleh keruwetan, tetiba ada pencerahan.

Meski sejauh ini, ku merasa belum melakukan apa-apa untuk membahagiakan beliau. Seperti citaku sejak lama. Karena ternyata, semua tidak semudah yang ku bayangkan. Memang memerlukan proses yang panjang untuk mewujudkan semua. Sungguh. Namun begitu, beliau senantiasa dan selalu baik padaku. Hingga detik ini, aku masih dalam upaya. Bagaimana cara membahagiakan beliau nan mulia?

Kalau aku saja tidak bahagia, bagaimana kebahagiaan merebak pada beliau di sana? Maka, ku bahagiakan sekeping hati dengan syukur yang menemani. Ku senyumi segala keadaan untuk memberi ruang pada pikir untuk tidak memikirkan hal-hal yang berada di luar kendaliku. Dan kemudian, ku melanjutkan langkah dengan bahagia, demi bahagia yang sampai pada beliau di sana. Ibunda. []

🤗 Hepi wikend 🤓

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close