Senang rasanya kita kembali jumpa di sini, kawan. Bahagia rasanya karena kita masih bersama hingga saat ini. Karena engkau melengkapi hidupku. Kehadiranmu mewarnai hari-hariku. Maka, untuk mensyukuri adanya engkau dalam hidupku, kembali ku rangkai beberapa bait paragraf. Supaya engkau pun tahu, bahwa engkau sangat berarti bagiku. Pun meski engkau tidak tahu dan tidak akan pernah tahu, aku masih akan tetap mengabadikan tentang kebersamaan kita. Walau bagaimanapun, aku sudah berjanji dengan diriku sendiri, tentang hal ini. Untuk senantiasa mau dan berjibaku mengurai semua melalui kata.

Engkau bagiku seperti mentari yang menghangatkan alam. Menjadi jalan suburnya taman hatiku, seperti air menyuburkan tanaman. Seperti awan yang menaungi saat ku dalam perjalanan. Menjadi jalan-jalan panjang yang menyampaikanku pada tujuan. Pun engkau seperti bebintang di langit malam, menghiasi kegelapan di atas sana. Sehingga langit malam menjadi menarik dan membuat mata betah menatapnya berlama-lama.

Sehingga dengan menyadari artimu dalam kehidupanku seperti ini, bertumbuh tambah rasa syukurku saat kita bertemu, dan bersama menghiasi waktu yang tersisa. Semakin berbinar hari-hariku dan menarik pula rupanya. Dengan segala yang engkau titipkan padanya. Bersama segala kesan yang engkau selipkan dalam detik-detiknya. Terima kasih yaa, untuk semua.

Kemarin, ku dengar kabar tentang engkau. Kabar yang membuatku berhenti sejenak dari kesibukkanku. Kabar yang menarikku untuk duduk sejenak dengannya. Kabar yang memberi pesan padaku untuk masih dan tetap tenang, tidak menjadi tergesa. Kabar yang membuatku semakin damai, dan tidak berlebihan dalam rengkuhan bahagia. Kabar yang mengajakku tersenyum lagi, ketika bulir bening permata kehidupan tak dapat ku bendung. Maka, terharu dengan mata berkaca-kaca, akhirnya. Kabar yang memberiku jeda untuk berpikir. Sebab dalam waktu yang sama, ibunda mengingatkan lagi bahwa, "Pikir itu pelita hati."

Sekali lagi, beliau menyampaikan tentang aku padamu. Tentangku yang sangat suka kelembutan, tidak suka benta-kkan. Tentangku yang senang saat di rumah, bukan keluyuran.

Ai! Sejenak ku merenungi lagi. Apakah benar demikian adanya aku? Aku yang kalau di rumah memang ga ke mana-mana. Karena kalau mau ke mana-mana juga mau ke mana? Sedangkan saat jauh merantau begini, ku memang suka kelu-yuran. Dengan alasan menemukan sejumput dua jumput inspirasi. Inspirasi yang menggerakkanku lagi untuk mau melangkah dan melanjutkan perjalanan. Karena gerakan adalah nyawa kehidupan bagiku. Semoga bagimu juga yaa.

Lalu, siapakah engkau sesungguhnya? Engkau yang menjadi inspirasi bagiku. []

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s