Hari Bahagia Kita Semua

“Saat engkau menangis, bersedih, di sana. Tahukah engkau bahwa ada hati yang perih, teriris, di sini. Maka, tersenyumlah kawan. Senyuman nan mensenyumkan.”

***

Saat ku tahu engkau bahagia di sana, berseri-seri ceria dan wajahmu tersenyum, maka aku pun tersenyum untukmu. Senyuman yang segera menghiasi wajahku. Karena ku dengar suaramu sangat terang, bersih dan bening ketika kita bertukar suara.

Nah, berbeda halnya saat ku mendengar nada suara yang berat sedangkan engkau sesenggukan. Sungguh, pedih itu melukai ruang hatiku, juga. Aku sangat mudah terbawa suasana, memangmentari-pun-tersenyum

Semua ku lakukan, bukan karena ku tidak menyadari tentang kehidupan yang penuh warna. Termasuk tentang suka dan duka yang ada. Dan mereka pun menjadi bagian dari hari-harimu. Bukan juga karena aku hanya ingin menyaksikan bahagia-bahagia mu saja. Namun bolehkah ku pinta, engkau masih mau tegar dan teguh atas dukamu? Bolehkah ku bermohon, supaya engkau tetap sabar dalam kesedihanmu?

Karena. Meski engkau menunjukkannya atau engkau sembunyikan lukamu, aku juga tahu. Aku tahu dari nada suaramu saat kita bertukar suara. Aku tahu dari sorot matamu ketika kita bertukar pandang. Aku tahu dari ekspresi wajahmu, saat engkau hanya dapat ku lihat. Ketika kita bicara, namun tanpa suara lagi.

Ya. Seperti itu juga halnya dengan bahagiamu. Sama. Dan hari ini, apa gerangan yang engkau alami, teman. Hingga sebegitu ringan engkau bersuara? Hingga begitu tenang engkau bicara? Bahkan semua sampai padaku di waktu yang sama.

Aku merasakan kebahagiaanmu juga. Aku senang dengan kebahagiaanmu, teman.  🙂 

Hari ini, engkau menyapaku dengan suara renyah, lagi. Kerenyahan yang memberiku kesempatan untuk tersenyum. Senyuman yang sebelumnya sempat hilang dari wajahku. Senyuman yang menjauh, saat ku sedang serius. Ya, serius. Kalau serius, aku memang begini. Sampai-sampai tak tahu ada yang memanggil ku. Namun panggilanmu untukku, cepat dan mudah ku dengar. Mengapa? Apakah karena ada keterikatan antara kita? Ikatan batin, gitu.  😀  Sehingga menjadi mudah bagi ku untuk tahu, sebelum engkau menghubungi ku. Lalu, ketika engkau benar-benar menghubungi ku, aku pun menjawab segera. Dan kemudian, untuk beberapa waktu berikutnya, kita asyik bertukar suara. Kita berbagi kisah dan cerita tentang bahagia.

Mendengar kabar bahagia darimu, aku suka. Kabar yang membuatku bahagia. Maka, saat ini ku sampaikan padamu teman, “Terima kasih untuk menebarkan bahagia yang engkau rasa. Aku pun berbahagia.”  Hari  ini, engkau bahagia, aku bahagia. Sehingga hari ini menjadi hari bahagia kita semua. Ya, kita.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s