Dulu, Saat Ini dan Nanti

Tentang dulu, saat ini dan nanti, aku ingin berbagi suatu hal. Ya, sesuatu yang bagiku sangat berkesan. Kesan yang sampai saat ini menjadi pesan tersendiri. Bagiku, masih bagiku. Semoga, bagimu juga yaa.

Walau memang perjalanan hidup kita tidak sama. Meskipun kisah hidup kita berbeda. Maka, dengan semua perbedaan itu, semoga dapat menjadikan kita bersyukur atas kisah hidup kita yang bertabur bahagia, dan mensabari ketidakbahagiaan yang kita alami bersamanya. Akan tetapi, percayalah bahwa, semua pasti ada hikmahnya. Semua yang kita alami, baik dulu, saat ini dan nanti, membawa pesan berharga. Kalau saja kita mau menemukan hikmah di dalamnya.

Dulu, saat ini dan nanti adalah tentang kisah perjalanan hidup ku. Kisah ini akan ku bagi dalam beberapa episode. Episode demi episode yang menyisakan kenangan di dalamnya. Episode demi episode yang saling mempengaruhi. Episode dulu berpengaruh terhadap episode saat ini. Sedangkan episode dulu dan saat ini berpengaruh terhadap episode nanti.

Episode dulu, adalah episode hidup yang telah ku jalani. Episode tersebut tidak akan pernah terulang lagi. Karena ia telah menjadi masa lalu dan berlalu. Hanya saja, kenangan tentangnya yang sering-sering ikut hingga saat ini. Termasuk ingatan demi ingatan yang kadang-kadang menghiasi perjalanan saat ini.

Episode saat ini, adalah episode yang sedang ku jalani. Episode yang di dalamnya aku suka mensenyumi episode dulu. Episode yang sedang berlangsung saat ini. Episode yang ku jalani dan ‘mungkin’ tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Episode yang ‘mungkin’ pernah ku impikan, dulu. Episode saat ini yang bersamanya aku melanjutkan perjalanan hidup ini.

Sedangkan episode nanti, adalah episode yang akan ku jalani. Esok, lusa, bulan depan, tahun depan, sampai hari-hari yang tidak terhingga berikutnya. Episode yang mungkin masih panjang masanya. Episode yang mungkin juga sudah tersisa detik saja. Aku tidak tahu akan hal ini. Maka, semoga saja, untuk episode yang tersisa, bertabur hikmah untuk ku petik. Meski warna-warninya tidak dapat ku prediksi. Apakah akan lebih sering berhiaskan bunga-bunga senyuman di pipi, atau sebaliknya. Namun begitu, berprasangka baik untuk episode nanti adalah yang terbaik. Tentu saja dengan menjalani episode saat ini dengan sebaik-baiknya. Karena episode saat ini berpengaruh pada episode nanti, bukan? Seperti halnya episode dulu yang berpengaruh pada episode saat ini.

***

Episode Dulu, Sekelumit Kisah

Baiklah, dalam rangka mendayagunakan waktu yang ada, ku buka kisah ini dengan episode dulu. Episode yang telah ku jalani. Untuk menjadi kisah dan cerita tentang ku. Karena aku pernah menjalani, maka bagiku, menjadi kenangan yang berarti. Ia menjadi sejumput ingatan yang bening. Ingatan yang membuatku ingin mengabadikannya. Agar ingatan ini abadi. Ia menjadi sekuntum bunga yang mekar selalu. Bunga yang ku ingin tidak layu-layu. Ia menjadi sebotol parfum yang harum dan baru mulai ku buka. Karena selama ini, aku tidak pernah memakainya. Sebab sayang untuk ku pakai. Sayang saja.

Episode dulu ku adalah episode yang sungguh tenang, adem, ayem, tidak banyak gejolak dan dataaaaarrrrr…. kesannya. Karena aku belum mengenal rindu. Aku belum mengenal semua rasa dalam hidup ini. Hidup yang ternyata beraneka corak hiasan rasanya. Nah, episode dulu yang ku ingat saat ini adalah saat ku masih anak-anak. Ketika menempuh pendidikan di jenjang sekolah dasar.

Ingatan pada hari-hari ketika ku berangkat ke sekolah berjalan kaki. Dengan jarak tempuh dari rumah ke sekolah sejauh satu kilo meter saja. Perjalanan panjang dengan kaki-kaki imut nan kecil. Selama enam tahun. Yah, enam tahun menempuh pendidikan di sekolah dasar, adalah episode hidup yang berkesan. Dan seingatku, tidak sehari pun aku absen tidak masuk sekolah kecuali hari libur. Mengapa? Apakah karena aku tidak pernah sakit? Apakah tidak pernah ada keperluan keluarga yang mengharuskan aku izin sehari atau dua hari saja? Apakah tidak ada alasan lain yang membuatku tidak dapat masuk sekolah?

Tentang sakit? Aku bukan tidak pernah sakit. Bahkan aku pernah menderita ‘campak’ saat masih kelas dua Es De. Aku juga pernah menderita luka tergores dan memar di sekitar lutut karena terjatuh. Jumlah goresan dan memarnya tiga buah. Di lutut kaki kiri satu dan lutut kaki kanan dua. Walau begitu, dua lutut yang sakit, masih mengajakku berjalan ke sekolah keesokan harinya. Hingga hari-hari berikutnya. Sampai sembuh, dan benar benar sembuh. Uh! Perihnya terasa. Sakit. Tapi sekarang semua sudah sembuh dan tidak berbekas. Namun kenangan itu, masih ada. Untuk menjadi cerita. Untuk menjadi senyuman setelah semua berlalu.

Selain itu, juga ada sakit-sakit lainnya yang ku alami. Bukan sakit berat, memang. Namun berulang dan ringan. Setidaknya sekali dalam setahun aku menderita flu. Flu dengan mata sebelah berair dan hidung juga. Selain itu, aku juga menderita sakit panas dengan suhu badan meningkat. Malam hari panas tinggi, namun esok paginya sudah segar lagi. Meski dengan sisa-sisa sakit yang ada. Semua tidak mengalihkan perhatianku untuk tetap belajar dan berangkat ke sekolah.

Tentang acara keluarga? Seingatku tidak ada acara keluarga yang mengakibatkan aku tidak dapat masuk sekolah. Entah bagaimana orang tua ku menyusun acara keluarga. Intinya, tidak ada kesempatan belajar yang terganggu oleh acara keluarga kami. Sehingga setiap hari, aku berangkat sekolah dengan semangat. Meski diri kecil ku tidak selalu sehat.

Semua ku tahu sejak beberapa waktu yang lalu, orang tua ku bercerita lagi tentang semua. Di antara cengkerama sambil duduk-duduk sore hari, beliau mengingat kisah dulu kami, anak-anak beliau. Beliau menyampaikan dengan senyuman, sedangkan aku tidak percaya. Sebegitunya kah episode dulu ku? Sedangkan beliau sebagai saksi mata, mengungkapkan semua dengan bangga, bahagia, beliau ceria dan senang. Karena tips yang beliau terapkan sukses. Apakah tips tersebut? Beliau pun membagikan rahasia. Sehingga sukses memotivasi anak-anak untuk rajin belajar.

Dengan kondisi keluarga kami yang seada-adanya, beliau tidak ingin kami pun mengalami keadaan serupa di masa depan. Beliau ingin kami menjadi anak-anak yang pintar, berhasil dan sukses. Beliau mengharapkan kami tetap rajin dan semangat. Meskipun dalam keterbatasan yang seharusnya tidak membatasi. Keterbatasan yang harus menjadi batu pijakan untuk melompat lebih tinggi. Karena rintangan air menggenang yang menghadang di depan, harus menjadi alasan untuk melangkah lebih lebar. Dan kemudian bergerak lebih cepat. Dengan kesederhanaan yang beliau punya, orang tua berjibaku. Untuk menjadikan anak-anak menjalani kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Adapun rahasia beliau adalah: Ketika kami sakit, beliau tidak ingin teman-teman yang datang menjenguk datang ramai-ramai, lalu naik ke rumah. Sebab kondisi rumah kami yang tidak sempurna. Kalau yang datang lebih dari sepuluh orang, maka ‘ibu takut rumah kita roboh’. Kalau begitu, kita mau tinggal di mana lagi? Nah, kalau bisa, jangan sakit lama-lama yaa. Supaya teman-teman tidak menjenguk. Mungkin kalimat ini menjadi ingatan yang tidak hilang, dalam pikirku. Sehingga, meski sakit juga, ku masih berangkat ke sekolah. Karena membayangkan kondisi rumah yang akan ambruk dengan kedatangan teman-teman yang menjenguk. Sepolos itu diri kecil ini. Lalu, tersenyumku mengenangi. Oh lalaaaa… pikir ku kini.

Selanjutnya, jenjang-jenjang pendidikan berikutnya ku tempuh. Sepanjang tidak ada keperluan penting-penting sekali, aku juga terbiasa selalu datang. Tidak mau izin atau mencari-cari alasan genting. Karena terbiasa, maka menjadi kebiasaan.

Berikutnya, episode dulu yang ku ingat adalah tentang pertemanan. Di saat teman-teman mempunyai ‘geng-geng’ dalam pergaulan, namun tidak denganku. Aku juga mempunyai teman-teman, namun bukan anggota geng. Karena bagiku, pertemanan dengan siapa saja, boleh. Namun sayangnya, tidak supel dalam berteman, ku alami. Sehingga teman yang ku punya. Dan kemudian menjadi dekat. Lalu sering ku ingat, hanya terhitung angka. Sebanyak-banyaknya dua di setiap jenjang pendidikan. Dan karena ketidaksupelan tersebut, aku sampai tidak mengenal seantero sekolah. Termasuk juga teman sekelas. Dan yang lucunya, ternyata aku pernah sekelas dengan seorang yang akhirnya menjadi kakak ipar ku kini. Beliau bilang, kami pernah sekelas saat kelas enam. Namun aku orangnya pendiam, senangnya belajar, bukan bermain. Nah, sampai saat ini ku masih tidak mudah ingat, benarkah? He was my classmate. Hehee.  😀

Begitulah beberapa kisah tentang episode dulu ku. Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang menarik tentang episode dulu. Kisah yang mensenyumkan, akhirnya. Setelah ku kaji ulang. Setelah ku selami. Setelah ku pahami. Dan tentu saja setelah semua berlalu, memang…

Episode Saat Ini, Bertabur Hikmah

Nah, untuk episode saat ini. Episode yang masih ku jalani, ku berusaha dan berupaya untuk menyelami sedalam-dalamnya. Memahami dan mengkaji hikmah yang terselip di dalamnya. Supaya berbagai hal yang ku pikir menyedihkan, ternyata membahagiakan. Supaya hal-hal yang ku pikir menyakitkan, ternyata ada manisnya.

So, tetap terjaga, bangun, dan bergerak dalam episode saat ini. Untuk melangkah lagi, dalam rangka menjelang episode nanti.

Episode Nanti, Rahasia Allah

Tentang nanti ke mana dan bagaimana, kita dapat memprediksinya saat ini. Namun tentang kepastian adalah dalam kuasa Ilahi.

Semoga keyakinan kita semakin bertambah dan bertumbuh keimanan kepada-Nya. Sebab, episode demi episode hidup yang silih berganti, sungguh berarti. Setiap keadaan yang kita temui, pasti ada hikmahnya.

Syukurilah yang kita senangi, sabarilah yang tidak kita sukai. Dengan terus berusaha untuk mengubah keadaan yang ada pada diri kita sendiri. Sebelum episode demi episode kisah hidup kita SELESAI dan TAMAT. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s