Dalam diam, di tengah dingin… merenungi.

Picture From – Diujung Jalan

Ibunda. Ya, sekali lagi tentang ibunda. Seorang perempuan yang tidak akan pernah bosan-bosan ku bahas dalam perjalanan hidupku.

Seorang wanita hebat yang akan senantiasa menemani langkah-langkahku. Orang tua luar biasa yang tidak akan pernah ku temukan selain beliau. Seorang perempuan tangguh, yang sering memberiku kekuatan di tengah kelemahan. Wanita yang tegar dan teguh dalam segala cobaan. Beliau yang hangat nan ceria. Ramai saat berkisah dan bercerita tentang perjalanan hidup.

 

Ibunda. Beliau adalah sahabat terbaikku sepanjang usia. Terlepas dari sahabat-sahabat baik yang ada di sekeliling ku, maka ibunda adalah yang nomor satu. Karena beliau lebih dari segalanya.

Beliau mentari yang menerangi siang ku, menghangatkan malam ku. Beliau yang tidak lelah menasihati ku saat ku ingin menjadi begini dan begitu. Beliau yang menarik ku lagi, saat ku terlepas dari pantauan. Beliau yang memotivasi untuk maju, saat ku sedang galau dengan hari ini ku. Beliau yang sering menyemangati ku. Sehingga aku pun semangat.

Beliau adalah mutiara berharga yang berkilauan. Di ruang hatiku. Beliau sangat mulia.

Wahai ibunda. Aku tidak tahu, seperti apa diriku saat ini, tanpamu. Aku pun tidak akan pernah sampai di sini, kalau engkau tidak merestui perjalanan ku. Pun, aku tidak akan pernah menjemput mimpi-mimpi ku, jika saja ku abaikan petuahmu. Namun sebagai seorang anak, dulu aku pernah begitu. Karena ego yang menyertai ku. Karena harapan yang memanggil-manggil ku. Akan tetapi, engkau tidak pernah menyerah. Untuk merengkuh ku lagi, saat ku jauh. Untuk memanggil ku lagi, ketika ku pergi. Engkau terus mencari saat ku menghilang di tengah arus kehidupan. Semua menjadi bukti, tentang cinta, kasih, serta sayangmu yang tidak tertandingi.

Kini ku menyadari, sungguh, memuliakanmu adalah langkah-langkah untuk meraih ridha-Nya. Dan semua belum terlambat. Untuk ku melakukannya saat ini. Walau selama ini ku pernah lalai darimu. Meski tidak selalu bakti ku berikan padamu, dalam waktu-waktu ku. Kesempatan saat ini, adalah yang terbaik. Yakinku.

Karena, demi ibunda, awalnya…

Maka, tersenyumku, akhirnya…

Satu episode dengan satu cerita, pun berlalu. Kesimpulannya, mensenyumkan ku. Satu episode berikutnya yang meninggalkan satu kenangan, pun telah berlalu. Kenangannya, mensenyumkan ku juga. Satu episode selanjutnya, dalam hidupku. Menyisipkan satu pesan, pun telah berlalu. Kesimpulannya, mensenyumkan ku lagi.

Setelah ku ingat-ingat, ibunda berperan di balik semuanya. Meski tidak terlihat, walau tidak terdengar. Beliau selalu ada, menjadi bagian dari senyuman demi senyuman yang mensenyumi ku balik. 🙂

***

Proses panjang dalam perjalanan hidup ku jalani. Sejak dulu hingga saat ini. Banyak warna-warni yang menghiasinya. Ada harapan yang belum menjadi kenyataan. Pun ada halangan yang menjadi rintangan dalam perjalanan. Bertabur pilu menempel pada ruang hati. Berseliweran ingatan demi ingatan pada impian. Semua engkau percayakan.

Saat engkau merestui, bukan berarti membebaskan. Saat engkau menangguhkan, supaya ku lebih mendalami, memahami dan memberi ku kesempatan untuk mengerti. Bahwa semua tidak perlu secepat kemauan. Tidak juga perlu sesegera keinginan. Karena proses adalah jawaban dari keberhasilan. Beliau berbisik seraya mengantarkan tatapan mata teduh menenteramkan. Hingga ke ruang hati ku.

“Seperti roda yang berputar, begitulah kehidupan memberikan jawaban atas pertanyaan demi pertanyaan.
Bagai pepohonan rindang dan daun-daunnya yang meranggas, begitulah kehidupan menunjukkan keajaiban.
Ada waktu suka, ada juga duka dalam menjalani proses.
Ada masa naik, begitu pula dengan penurunan dalam perjalanan.
Nikmati semua, hayati detik ke detiknya. Jangan terlewatkan.
Selanjutnya, melangkahlah lagi, teruskan perjalanan.
Karena gerakan adalah setengah langkah sampai di tujuan. Dan intinya, semua ada waktunya.”

Sejak ku menyadari kemuliaanmu. Aku rela melepaskan segala kemauanku, demi mu. Aku mau menjadi diri ku, bersama ingatan pada mu. Aku pun tidak peduli bagaimana penilaian mereka, dia, atau pun dirinya, selama aku ada dalam doa-doa tulus mu. Karena, engkau dan aku adalah sebuah persembahan untuk semesta. Kita menjadi bagian dari keindahan ciptaan-ciptaan-Nya.

Dulu, kini dan nanti. Ku tahu engkau selalu memperhatikan, memikirkan, dan melakukan yang terbaik untuk ku. Walau dari jauh, engkau tetap memantau. Meski berbatas jarak, engkau senantiasa dekat.

Semua, untuk kebaikan ku. Sebagai upaya dalam menjalani kehidupan lebih baik lagi. Tidak sama seperti kisah hidup mu. Tidak juga harus mengalami sama seperti pengalaman mu. Maka, dengan segala keberanian dan keteguhan mu, engkau masih bersedia memberi yang terbaik untuk ku. Terima kasih ibunda, untuk cinta tidak bersyarat yang engkau alirkan.

Hingga kini, apa yang dapat ku baktikan untuk membahagiakan mu? Sering ku bertanya pada diri ku. Sering juga ku mempelajari kisah-kisah hidup orang lain. Sering juga ku tanya ibu-ibu lain di sini. Pun mereka yang mempunyai seorang ibu. Sejak pagi, siang hingga menjelang tengah malam, aku berkelana. Menepi ke ruang-ruang hati untuk kesejukkan dan berteduh di bawah atap agar tidak kepanasan.

Sungguh. Semua memberi jawaban, tentang keikhlasan. Semua mengingatkan tentang ketulusan. Untuk menerapkannya. Supaya membawanya selalu dan menjadikan bagian dari diri. Maka dengan membersamainya, menjadi lebih mudah membahagiakanmu.

Dan semua tidak terjadi begitu saja, ternyata. Untuk menjemput keikhlasan dan menimang ketulusan. Membutuhkan proses dan menempuh jalan panjang, masih. Hingga melewati liku-liku dan persimpangan yang berulang, lagi. Mendaki puncak-puncak gunung tertinggi. Hingga menyelami lautan sampai ke dasarnya. Untuk menemukan makna ikhlas dan tulus.

Keikhlasan dan ketulusan yang engkau bawa selalu dan menjadi bagian dari dirimu. Bahkan, terombang-ambing di tengah samudera kehidupan, pun aku. Untuk mempelajari ikhlas dan tulus seperti yang ibunda punya.

Sejauh ini, aku sedang tenggelam di dasar lautan kehidupan ku. Ke tengah samuderanya, sesekali ku muncul, mengapung. Untuk menyaksikan sinar mentari. Saat sinarnya tidak sampai ke dasar lautan ini. Seperti saat ini. Karena sekitar ku sungguh sangat dingin sekali. Dan setelah ku cari tahu, ku tanya buih-buih di luar sana, memang mentari belum muncul lagi. Ia sedang sembunyi di balik awan. Sehingga langit biru pun tidak kelihatan.

Makanya, di sini, di antara penduduk dasar lautan lainnya, ku meneruskan perjuangan. Berjuang untuk tidak mati kedinginan. Bergerak dan memperhati sekitar. Termasuk bermain-main dengan rumput laut yang mengepakkan lembarannya menawan. Aku suka semua ini. Aku senang dengan sekitar ku. Karena melalui mereka semua, ku belajar tentang keikhlasan. Ikhlas menanti, sampai mentari tersenyum lagi. Lalu menyampaikan sinar terbaiknya pada ku. Hingga ke dasar lautan ini. Lautan kehidupan ku.

Lama-lama menyelam di dasar laut, membuat ku tidak kedinginan lagi. Karena sudah biasa di sini. Membiasakan diri bergerak, melayang-layang di antara ikan-ikan cantik. Meski tanpa sirip, walau tanpa insang seperti mereka. Semoga cadangan oksigen ku masih cukup. Untuk bertahan dan melanjutkan kehidupan, di sini.

Ibunda… Esok, lusa atau nanti saat ku masih memiliki kesempatan meneruskan perjalanan hidup ini, maka ku masih ingin membahas tentang engkau. Karena engkau adalah menu terhangat yang tidak akan pernah dingin. Engkau mentari yang menyinari, menghangatkan hati ku. Engkau butiran es yang menyejukkan ruang pikir ku. Engkau adalah minuman segar yang tidak akan pernah basi. Engkau adalah sinar yang tidak akan pernah redup di dalam jiwa ini. Engkau adalah lentera yang tidak akan pernah padam. Engkau, selamanya, untuk mu ibunda dedikasi hidup ku.

Sedalam dasar lautan kehidupan ini, kasih ibunda melebihi.
Seluas samudera kehidupan ini, ikhlas ibunda melebihi.
Tidak tertandingi.  Tidak terukur.

***

Aku memang diam, namun tidak mau berdiam. Sehingga ada-ada saja yang ku kulik. Ada-ada juga yang ku perhati.

Dalam diam, di tengah keluangan waktu. Sebab melakukan sesuatu itu, sungguh menyenangkan dari pada hanya diam. Termasuk saat ini. Ketika ku di tengah kedinginan. Brrrrr… gaa sampai menggigil, memang. Namun masih bertahan di tengah suhu yang tidak biasanya.

Yah, selama di kota ini. Sejak dua hari terakhir adalah hari-hari dengan suhu terdingin bagi ku. Mungkinkah karena aku belum mengenalnya dengan baik?  Kota yang ku pikir panas panas saja. Eits, ternyata, ia pun mampu membuatku –hampir– membeku kalau hanya diam.

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s