Monday, Morning and It’s Raining

Apa hubungan pagi, Senin, dan Hujan?

Bagaimana keadaan terkini di sekitarku, inilah hubungan antara ketiganya. Sehingga, untuk saat ini ku ingin membahas tentang hujan. Karena hujan sedang berlangsung.

Biarlah… hujan memeluk bumi dengan tetes-tetes kecilnya yang kuat. Supaya bumi segar kembali. Semoga subur tetanaman yang bertumbuh di sana. Semoga, bebungaan tersenyum sepanjang hujan mengguyurinya. Dan aku berdoa ketika hujan, semoga ia membawa berkah untuk semua.

Ditengah hujan begini, aku teringat mentari. Ya, mentari yang biasanya mensenyumi sejak pagi. Mentari yang terkadang sembunyi di balik awan. Mentari yang ku yakin, saat ini masih bersinar. Di sana… Walau tidak di sini untuk saat ini. Maka ku jaga senyuman yang ia teladankan padaku, untuk masih membersamaiku kini. Meski senyuman mentari tiada.

Nah, dalam hal ini, aku masih mencoba tersenyum lagi. Mensenyumi hujan, mensenyumi tanah basah. Mensenyumi dedaunan yang riang bersalaman hujan. Mensenyumi sekitar yang menyapaku ramah. Mensenyumi alam nan tersenyum dan kemudian tertawa renyah.

Yah, ia tertawai aku yang masih di sini. Duduk manis, menatap hujan. Hujan. Pagi. Senin. Dan aku tidak mau hanya duduk manis, sambil tersenyum. Namun ku harus menjejakkan langkah-langkah lagi. Aku mesti berangkat. Berangkat!

Oke, aku siap-siap dulu yaa…

***

Beberapa puluh menit kemudian, sekitar setengah jam saja. Aku pun siap dan kemudian melangkah. Saat melangkah, sempat ku lirik engkau, untuk take a picture first dan inilah hasilnyaaaa… 😀 *)01-23-2017-09-03-44

Pagi manis di bawah gerimis. Aku nikmati perjalanan. Sesekali menatap langit, kalau-kalau mentari mengintip. Sesekali mengedarkan arah pandang ke sekeliling. Kalau-kalau ada yang juga sedang melangkah. Namun hasilnya nihil. Just me on this way. Yuk selfi sekejap!

Meski melangkah ku sendiri, ku yakin mentari masih melanjutkan perjalanannya juga. Sehingga ingatan pada mentari, menggerakkanku untuk semangat melanjutkan perjalanan ini. Perjalanan pagi di bawah gerimis berpayung marun. Marun dan semangaattt!

Ehiya. Aku lupa. Tadi, pas baru sampai, seseorang yang baru beberapa lama ku kenal bilang, “Aheeeeey, somb-ong!. Begitu ia menyambutku. Dengan ekspresi menggembungkan pipi dan ekspresi mata datar. Siapakah dia? Ku sebut saja mentari. Ya, mentari. Mentari yang mengingatkanku lagi tentang kesan som-bong. Apakah aku begitu? Sebagai seorang introvert, kesan seperti ini tak sekali ku terima. Apakah engkau juga mengalami pengalaman serupa, kawan? #Mentari kadang hanya bercanda

Awal menerima kesan begini, aku sering menanya diri. Lalu seiring waktu ku cari tahu tentang diri. Ku pelajari berbagai hal tentangnya. Ku selami hingga ke urat-urat nadi. Ku perhati helai-helai bulu di tangan. Ku tanya mata. Ku lihat telinga. Semua bukan milikku. Lalu pantaskah ku som-bong?

Maka ketika masih ada yang bilang kesan tersebut padaku, aku bilang, “Ayo, lagi dan lagi, belajar tentang semua. Tidak ada kata terlambat.”

Tetap melangkah, jadikan semua sebagai inspirasi.

Terima kasih mentari, untuk masih bersinar di hatiku. Walau alam bergerimis pagi ini.

🙂 🙂 🙂

 

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s