Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

***

Kring… kring…

Kring… Kring…

🙂  ♪♭♩♪♬♫♫♫ ✿ ♫♫♫♬ ♪ ♩ ♭ ♪  🙂

Untuk tak berharap lebih… untuk tak memberi harapan lebih,” bisikmu padaku. Terdengar, namun tanpa suara. Seperti mentari. Bersinar namun tak teraba. Ada, namun jauh di sana. Tersenyum, namun tanpa rupa.

Ini bukan mimpi, aku meyakinkan diri.

Seuntai kalimat singkat yang menenteramkan hatiku, lagi. Meneduhkan ia. Sedangkan di luar sana mentari bersinar sungguh terik saat ini. Teriknya yang menghangatkan lembaran pipiku karena ku berjemur di bawah sinarnya.

Perlahan, pelupuk mataku berat. Kemudian mata berkaca-kaca. Aku terharu, sungguh. Namun ku tidak mau menitikkan airmata di hadapanmu. Karena ku tahu, engkau pasti juga sedi-h atas kesedi-hanku. Makanya, biarlah airmata ini masih berkumpul di ruang mataku. Sebagai pelembabnya, untuk menyejukkannya. Seperti sejuknya hatiku saat mendengar pesan singkat darimu.

Untuk menjaga hati ibunda. Untuk menjaga senyuman tetap mengembang secerah sinar mentari pagi. Maka, ku sampaikan pada Mentari, “Terima kasih sudah menghubungi dan menitipkan pesan berharga. Selamat melanjutkan aktivitas dan sampai bertemu, yaa,” jawabku pelan.

Selanjutnya, aku pun tersenyum. Begitu pula denganmu. Engkau mensenyumiku kah? Atau senyuman itu untuk dirimu sendiri? Aku tidak tahu. Pun, tidak mau mencari tahu. Karena dalam waktu-waktu berikutnya, aku menjadi asyik dengan aktivitasku. Melanjutkan aktivitas pagi. Setelah beres-beres, kemudian sarapan seraya memandang mentari nan rupawan.

Suasana pagi yang cerah. Pagi yang berbinar bersama sinar mentari. Pagi yang menyemangatiku, lagi. Bersama nuansa cemerlang yang ia tebarkan untuk seluruh semesta. Dan cemerlangnya pun sampai padaku.

Mentari. Lagi-lagi mentari. Aku menjadikanmu sebagai inspirasi hari ini. Sejak pagi. Hingga sore. Dan seterusnya. Engkau yang datang sejak pagi. Lalu tenggelam menjelang senja. Seperti kemarin, sempat ku melirik sisi ufuk Barat. Di sana masih tersisa senyuman manismu. Senyuman khas pencerah siang.

***

Engkau…, Mentari. Tersenyum sejak pagi. Begini,  🙂 seperti ini  🙂

Tepat pagi ini, pada pukul 08.06 WIB. Selama lima puluh empat detik saja. Kehadiranmu yang tiba-tiba, sempat  mengalihkan perhatianku. Kehadiran tiba-tiba yang sekejap itu, membuatku henti sejenak dari kesibukkan pagi ku. Kehadiranmu yang pernah juga di waktu lalu. Kehadiranmu yang membuatku bertanya, “Who are you, actually?”

Sebuah tanya ku sampaikan untukmu. Karena engkau datang tanpa suara. Pun tanpa wujud dan rupa yang dapat ku pandang dengan mata. Namun hanya menitip sebaris pesan penuh makna. Dengan begitu, ku terima engkau bersama sebaris senyuman yang mengembang di pipi. Senyuman yang mentari teladankan pada ku.

“Kalau pagi-pagi, harus dan kuddu senyum, pesannya padaku berulang kali. Bahkan sejak bertahun-tahun lalu. Ia sampaikan hal yang sama padaku.”

Sampai detik ini, masih ku bertanya. Siapakah engkau sesungguhnya? Engkau yang pasti ada. Engkau tentu punya rupa. Engkau bukan tidak ada. Karena datangnya engkau pagi hari ketika ku terjaga. Bukan senja atau saat malam gulita di dalam mimpi ketika lelapku.

Makanya, ku senyumi saja kehadiranmu bersama ketiadaan, tadi. Lalu menjadi inspirasi bagi ku untuk menulis catatan pagi. Tentang siapa yang menjadi jalan senyumnya aku lagi. Senyuman sejak pagi. Bukan malah mengerutkan kening atau menggembungkan pipi.

“Karena ini khan, masih pagiiiii… Yaniiiiii. Hiasi indahnya dengan senyuman berseri, seputih warnaku,”  pesan merpati putih. Pesannya juga sama dengan pesan mentari. Ia memesankan tentang memulai hari dengan senyuman.

***

Untuk tanya yang belum terjawab hingga saat ini. Tanyaku tentangmu. Engkau, ya, engkau. Engkau yang datang tanpa rupa dan suara. Engkau yang datang tiba-tiba.

Sejak kehadiranmu, engkau pun menepi di ingatanku. Ku coba ingat-ingat lagi, siapakah engkau? Ingatan yang akan ku teringat terus, kalau ku tidak segera melepaskannya. Karena ia tidak akan pergi secepat kedatanganmu. Maka, ku susun beberapa bait paragraf dengan tenang, sepenuh hati. Menghayati. Untuk mengabadikan tentang engkau. Ya, tentangmu.

Tidak mencari tahu tentangmu, bukan berarti aku mengabaikanmu. Namun demi menjaga sekeping hati ibunda yang tertitipkan padaku. Sekeping hati ibunda yang ku bawa selalu. Hingga saat ini, hingga detik ini. Hati yang tidak selalu kuat, namun ia pernah juga rapuh. Hati yang tidak selalu bahagia, namun pernah berteman duka.

Hati yang ku ingin tata lagi Saat sebagiannya terbawa pergi oleh mereka yang sempat mampir di dalam kehidupanku. Atau aku menitipkannya pada mereka yang ku temui dalam waktu sepuluh tahun terakhir. Hati yang memang sudah tidak utuh lagi. Hati yang mudah tersentuh, kalau ku tidak mengawasinya. Hati yang menyertaiku selalu, ke mana pun aku pergi. Apakah jauh ke ujung negeri, atau berdiam di suatu tempat tertentu. Bersamanya, ku melanjutkan langkah-langkah di dunia.

Supaya semuanya tak langsung masuk ke hati, maka ku mulai berpandai-pandai menyeleksi. Menyeleksi apapun yang mendekatinya. Menyeleksi segala informasi yang mendatanginya. Termasuk engkau yang datang tanpa rupa apalagi suara. Bagaimana bisa ku tahu siapa engkau yang sesungguhnya?  Nah, untuk menjawab tanya dan mendapatkan jawaban sementara, ku perhati mentari yang mensenyumi bumi. Maka ku sebut saja engkau, Mentari.

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s