Pohon Kesabaran Berbuah Manis

Sejak panas sinar mentari menyengat kulit, hingga sejuk menerpa wajah. Aku menanti. Menantimu yang tidak kunjung kelihatan, meski dari kejauhan. Untuk menemuiku, lalu kita melangkah bersama. Atau, aku duduk manis di sisimu, sedangkan engkau mengemudi.

Hmmm,… setelah sekian lama penantian ini, akankah ku berjalan kaki saja?

Untuk melanjutkan langkah lagi?

***

Urung ku langkahkan kaki-kaki ini, lagi. Karena aku masih setia menanti. Di sini… di haltemu. Karena ku masih yakin dan percaya, engkau pasti akan datang. Sebentar lagi, sebentar lagi. Tidak lama lagi, ya, engkau pasti datang. Aku berjuang untuk menenangkan diri, menguasainya, saat ia berulah lagi. Saat diriku mulai tak tenang dalam penantian ini.

Ketika ia mulai ‘gelisah’ ketika duduk berjuntai di kursi halte ini. Saat seringkali ia melayangkan pandang ke sisi kanan, nun jauh ke ujung sana. Masih bersama harapan, dan juga kecemasan. Ia mulai cemas. Aku mendeteksinya. Ia yang tidak duduk manis lagi, namun sering-sering melirik ke ujung sana. Sedangkan, bibirnya sibuk komat kamit.

Masih berusaha berprasangka positif, ia. Masih ku lihat senyuman menebar di pipinya. Namun senyuman itu tidak seperti semula, lagi. Karena ia mulai tak tenteram. Ia mulai tak tenang. Sejak seseorang mulai lama di dekatnya. Mulanya ia sambut dengan senyuman, sejak seseorang tersebut mendekat ke arahnya, sambil tersenyum juga. Namun lama kelamaan, senyuman seseorang tadi sungguh ‘asing’ baginya.

Senyuman apakah itu? Ia mulai siaga, beberapa menit sejak berdekatan dengan seseorang tersebut. Laki-laki separuh baya.

Setelah dekat dengan kursi halte, laki-laki tersebut pun ikut duduk. Ia duduk di ujung kursi panjang, sedangkan aku di bagian tengah. Udah sejak tadi, soalnya. Aku ga geser, namun tetap di tempat, karena space kosong masih tersedia cukup luas untuk laki-laki tersebut. Kemudian kami beramah tamah sebagai kebiasaan sesama pemakai sarana umum. Dan beberapa menit kemudian, gelagatnya mulai aneh dan mencurigakan. Makanya, aku pun mulai tidak tenang. Aku memperlihatkannya, supaya ia segera berlalu… menjauuuuuhhhh… jauuuuuhhhh… dan menghilang dari pandangan. Semoga saja, batinku, dengan terus celingak celinguk lalu mengantarkan pandangan jauh ke sisi kanan, di ujung sana.

“Wahai soulmate, datanglah.

Selamatkan aku, segeraaaaaa…..” pintaku dalam hati. 

Atas ketidaktenangan dengan adanya dirinya di samping ku yang ku perlihatkan, rupanya beliau mengerti. Dan akhirnya pergi, berlalu, menjauuuuuh… Membawa senyuman yang tersisa. Senyuman penuh makna. Aku tidak tahu, artinya. Namun ku mempelajari senyuman tersebut, setelah beliau berlalu dan kemudian menjauh. Jauuuh, lalu hilang dari tatapan. Aku menjadi lega.

Alhamdulillah, aku kembali tenang. Kemudian melanjutkan penantian dengan setia. Menunggumu, engkau sahabat baruku, akhir-akhir ini. Engkau yang bersedia mengajakku jalan-jalan sejenak, di sela-sela waktu luangku. Engkau yang sejuk dan teduh, sehingga aku suka bernaung bersamamu. Engkau yang mengantarkan kesejukkan pada diriku, setelah beberapa waktu lalu merasakan sengatan sinar mentari di kulit.

Aku masih bersabar, menantimu. Meski dalam kesabaran, ada ketidaknyamanan. Seraya bertanya, ku memperhatikan ke ujung sana. Sampai akhirnya, jawaban muncul seiring dengan kehadiranmu. Engkau hadir, aku pun tersenyum. Bahagia. Bahagia, rasanya. Karena engkau yang ku nanti, akhirnya datang juga.

Seraya duduk manis . . . Ku mengenang perjalanan. Mengingat kisah di menit-menit lalu. Mengurai segalanya dengan memejamkan mataku sebentar saja. Untuk ku resapi maknanya. Lalu, tersenyum ku lagi. Senyuman penuh syukur. Syukur atas kehadiranmu. Kehadiran yang ku harapkan.

Masih ku belajar mengerti, makna sebuah senyuman. Juga, tentang kebahagiaan dan kenangan dalam perjalanan. Tentang ketidaktenangan saat berjumpa orang-orang aneh. Karena semua tidak terjadi begitu saja tanpa alasan. Namun untuk mengajarkan tentang kepedulian pada setiap perubahan yang terjadi di sekeliling.

Ya, selama perjalanan masih berlangsung, maka selama itu pula ada hikmah yang dapat kita petik. Bersama kesabaran yang menjadi sangat penting untuk menemani diri. Selalu.

***

Saat duduk manis di dalam bus, aku merenung lagi. Renungan kali ini adalah tentang impian menjadi nyataku. Impian menjadi nyata, ‘naik bus kota’. Dan aku bahagia saat mengalaminya. Hahaaaa, 😀 sungguh sederhana caraku bahagia. Kebahagiaan yang ku data, bukan sesederhana itu, prosesnya. Namun saat engkau memandangnya sederhana, boleh saja. Karena bagiku, untuk bisa dan masih tersenyum saja, saat ini, memerlukan perjuangan. Perjuangan yang ku usahakan. Karena ia adalah bagian dari impian ku. Termasuk tersenyum ku saat duduk manis dalam bus kota dan ku bahagia. Senyuman ini, bukan senyuman sederhana. Bukan pula tanpa makna.

Seraya tersenyum, aku mengenangkan cita-citaku. Cita saat belia dan aku sangat lugu nan polos adanya. Cita seorang gadis desa. Gadis desa yang berasal dari keluarga ‘bukan berada’. Namun, selagi masih memiliki cita, maka pasti ada jalan. Jalan-jalan yang membentang panjang untuk ku tempuh. Jalan-jalan yang menyampaikan ku pada cita.

Cita. Cita. Ya, aku bercita untuk masuk surga, menjadi penduduk di sana. Karena saat masih kecil dulu, kami tidak dapat menikmati segala yang kami pinta. Kami juga ‘paling’ hanya bisa mendamba, lalu menyusun dalam rangkaian doa. Yaa, Allah… saat di surga, ketika segalanya menjadi mudah, segala pinta terpenuhi… aku ingin di sana, memesan sepotong martabak rasa kacang. Karena saat di dunia ini, kami, belum dapat mencicipinya. Harganya mahal, sehingga kami tidak berdaya membelinya.

Masih duduk manis di bis kota, tersenyum ku lagi. Seraya mengenang cita-cita lainnya dan doa ku di masa kecil. Senyuman sekaligus haru. Aku terharu, mengenang diri kecil yang mempunyai impian. Dan saat ini di sini, aku tersenyum lagi. Karena kita masih berjumpa. Untuk saling berbagi kisah tentang dunia kita masing-masing.

Engkau di sana dan aku di sini. Kita yang sedang meneruskan langkah. Kalau lelah, ku rehat sejenak. Kalau penat, ku menantimu datang. Untuk menjadi jalan sampaikan ku ke tujuan. Tanpa ku harus selalu melangkah di jalan-jalan yang sungguh panjang dan bercabang-cabang.

Lain kali, ku masih sabar menanti. Saat engkau masih belum menampakkan diri. Sedangkan aku lelah setelah cukup lama melangkah… #inspirasidalambuskota. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s