Tentang perpisahan, ku pikir aku sudah sering mengalaminya. Seperti perpisahan ketika kelulusan di zaman sekolah dulu. Perpisahan yang ujungnya membuat bening permata kehidupan mengalir deras di pipi. Perpisahan yang membuat aku menangis dengan mudah,. Karena stok airmata ku masih banyak, ternyata. Alhamdulillah, ia adalah titipan terindah buat perempuan sepertiku. Perempuan yang mudah terbawa suasana. Perempuan yang mudah menangis.

Setelah Lama-lama mengalami perpisahan, aku mulai menata rasa. Karena belajar dari pengalaman atas perpisahan-perpisahan sebelumnya. Pengalaman yang membuatku mulai belajar mendeteksi suasana perpisahan. Pengalaman yang membuat ku mengerti makna perpisahan. Pengalaman yang ku selami, walau ujung-ujungnya nangis juga dan pipiku basah oleh airmata. Aahaa! Supaya lega, dan aku menjadi tahu, bahwa rasaku masih ada, ternyata.

Belakangan, perpisahan masih terjadi. Terakhir, perpisahanku dengan teman-teman. Perpisahan tersebut sangat berkesan bagiku. Perpisahan dengan teman-teman seperjuangan dalam perjalanan hidup ini. Perpisahan dengan beliau yang ku sayangi. Perpisahan yang menderukan gemuruh di dada. Perpisahan yang tidak dapat ku hindari. Karena ia mau tidak mau terjadi. Perpisahan yang menyisakan sebentuk rasa, lagi. Aih, ternyata ku masih memiliki rasa. Rasa yang sama, ketika dulu perpisahan ku alami dengan teman-teman sekolah.

Perpisahan tidak dapat tidak, kita alami dalam kehidupan ini. Sepanjang nyawa masih menyertai raga. Selama kehidupan masih kita jalani. Selama, perjuangan masih kita lanjutkan. Maka, perpisahan masih menyertai selalu. Selalu saja, entah kita yang meninggalkan, atau kita yang ditinggalkan.

Perpisahan itu pasti ada. Ada-ada saja. Entah kita pinta atau tidak. Entah kita siap atau belum Entah, kita mau atau menolak. Namun perpisahan sepertinya mempunyai hak terhadap diri kita. Maka, untuk menyikapi perpisahan, aku mulai punya cara. Supaya tetesan bulir bening permata kehidupan tidak sering menepi di pipi. Meski dalam masa perpisahan, ia pasti menampakkan diri. Caranya, ya, dengan menyadari bahwa perpisahan adalah awal untuk pertemuan. Boleh ada yang meninggalkan kita, namun yakinlah bahwa setelahnya ada yang kita temui atau menemui kita.

“Yakin saja. Percaya dan berteguh-teguhlah. Jangan rapuh atas perpisahan. Semangat!” sering ku menyampaikan pada diriku, seperti ini. Bahkan setiapkali perpisahan mulai memperlihatkan bayangan.

***

Beberapa hari lagi. Tidak sampai sepekan ke depan kami bersama. Beliau sudah akan meninggalkan kami.

Ya, perpisahan akan terjadi lagi. Perpisahan yang bagiku sangat berkesan selama ini. Perpisahan yang akan kami alami lagi. Aku yang masih punya rasa serta stok airmata berlimpah. Ia sedang menunggu saat-saat beraksi dan eksis di pipi ini. Sungguh, kabar perpisahan ini membuatku tersenyum, kemudian. Karena akan ada yang menemui kami atau kami temui setelahnya. Aku berusaha tegar saja. Walau di dalam hatiku, terluka oleh perpisahan.

Semalam teman-teman mulai membahas tentang kabar perpisahan yang akan kami alami. Semalam juga ku sempat ingin menitikkan bulir bening permata kehidupan, di pipi. Semalam juga, ku pandangi beliau yang ‘cantik’, berwajah semi oriental.

Eits, sungguh, “Kak Oyin memang cantik.”

Beliau yang suka berekspresi unik. Beliau yang membuatku terinspirasi dalam hari-hari. Karena sejak kami bertemu, beliau memang begitu. Kak Oyin yang baik dan menarik. Kak Oyin yang bagiku, merupakan bagian dari inspirasi. Meski usia kebersamaan kami belum sampai setahun. Kebersamaan yang baru sebentar. Namun, untuk sebuah perpisahan yang akan kami jalani beberapa hari ke depan, ku ingin menitipkan kisah tentang beliau hari ini. Supaya ku tahu, ada seorang lagi dalam perjalanan hidupku yang berarti.

Beliau yang masih muda, berbeda usia sangat jauh denganku. Walau usia kami juga tidak sebaya. Namun, ternyata usia bukan penghalangku untuk tetap menjadikan beliau sebagai bagian dari kisah perpisahan ini.

Walau masih tergolong muda dari segi usia, namun beliau sudah berani membuat sebuah keputusan. Yups, perpisahan kami berhubung, Kak Oyin akan menikah. Insya Allah menjelang penghujung bulan ini beliau akan menggenapkan setengah agama calon suami.

“Januari berseri, yaa Kaa… Dan tetap cantik, meski kita sudah berjauhan raga, nanti.”

Aku seddddyiih. “Karena ada yang mendahului lagi, yaaaa…” ledek teman-teman seraya menertawaiku.

Oiya, betul. Ini juga salah satu alasan kese-dihanku malam tadi. Huhuuuu. Berat rasanya berpisah, setelah kita hidup seatap dan menghabiskan waktu-waktu tertentu dengan kesan tertentu.

Ucapan kasih untuk Kak Oyin, putri ibu yang manis:

"Selamat melanjutkan perjalanan hidup, ya. 

Teruskan berjuang bersama pribadi yang baru dalam hidupmu. 

Tetap dan senantiasa yakin, bahwa ia adalah yang terbaik untukmu. Untuk membersamaimu dalam merangkai kisah hidup berikutnya. 

Semoga kalian lebih sering bahagia, hingga akhir usia, dan kelak kembali berjumpa di surganya. 

Semoga hari-hari yang engkau jalani, senantiasa berseri dengan segala corak dan ragamnya. Karena engkau telah Dia siapkan untuk menjalani semua. Maka, tetaplah setia, bahagia dan tersenyum untuk dunia. 

Sampai kapanpun, tetap bergerak, meneruskan cita dan mewujudkan cinta. Meski saat tidak ada yang melihat. Ingatlah bahwa Dia Maha Melihat. 

Konsisten dan komitmen, menjadi ibu muda yang ceria, sepanjang masa. 

Terserah mau percaya atau tidak, setelah menikah, warna-warni hidup akan semakin bertambah. Sesuai dengan pengalaman dari mereka yang telah mengalami. 

Selamat berbahagia, semoga langkah-langkahnya semakin penuh berkah, yaaaach. Doaku untukmu, my dear sister.

Seperti jarum jam dinding yang tak lelah bergerak (saat baterainya masih berfungsi). Maka bergeraklah dengan anggun. Sebagaimana jarum jam dinding yang berputar menjadi pengingat, maka menjadilah seperti demikian. Walau tetap tinggal di rumah dan tidak pergi ke mana-mana menemani pemiliknya seperti jam tangan, jarum jam dinding masih terus menjalankan fungsi. Ia tidak melupakan waktu. 

Semua kita ada bagian masing-masing. Termasuk sebagai seorang istri dan calon ibu, insya Allah. Berperanlah di bidangmu, dengan melakukan yang terbaik.

***

Perjuanganmu, sampai saat ini pasti tidak mudah. Perjalananmu hingga detik ini, tentu bersimbah lelah. Banyak rintangan dan halangan silih berganti dari hari ke hari yang engkau hadapi. Setelah semua engkau lalui. Setelah airmata yang ‘mungkin’ pernah tumpah, menemanimu menjalani hari. Sumringah yang ‘mungkin’ lebih sering memenuhi ruang hati. Semoga, ke depannya, lebih sering lagi tersenyum. Lebih mudah dan ringan lagi melangkah dengan senang hati, yaa Kakaaak senior.[]

🙂 🙂 🙂

Iklan

2 tanggapan untuk “Berpisah, Lagi

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s