Tentang Sejumput Inspirasi

Image result for Tentang Sejumput InspirasiMemang, begitulah adanya inspirasi. Ia ada di mana-mana, kapan saja, dari siapa saja. Tentu tergantung kejelian kita dalam memetiknya saat ia terlihat. Menangkapnya sebelum ia berlalu. Mengabadikannya sebelum lupa. Lalu, mensenyuminya ketika ia berhasil kita pigurakan dalam hari ini.

Ya, begitulah…  Untuk senyuman yang lebih indah, sajah. Aku kembali ke sini untuk melangkah. Melangkah, melangkah saja. Melangkahkan jemari, setelah raga lelah dan penat. Melangkahkan jemari, setelah kaki gempor melangkah. Melangkahkan jemari saja, supaya ku tahu, seberapa jauh ku berjalan lagi, saat lelah menerpa diri. Semoga, jiwa ini tidak pernah merasa-rasai lelah. Meski lelah mendekap ragaku, erat. But, hidup harus tetap berlangsung. Hayo, maju, melangkah lagi. 🙂

“Karena inilah kehidupan.”

Yah, inspirasi begitu adanya. Ia terkadang sudah ada dengan sendirinya, atau kita yang jemput, atau ada yang mengantarkannya. Mungkin tidak langsung tertuju pada kita. Mungkin seseorang mengantarkannya untuk semua. Semua orang yang ia temui. Tapi kita ada di dalamnya, di tengah kerumunan tersebut. Sehingga kalau kita mau, kita boleh menerimanya. Boleh juga kita tidak terima, kalau kita tidak suka. Sesederhana itu. Karena toh, inspirasi hanya datang selewat. Bahkan tidak berbekas, setelah ia berlalu dan kemudian pergi.

Betul, betul. Engkau bilang inspirasi ada dari hal-hal kecil dan sederhana. Terkadang saat kita bercakap-cakap dengan seseorang. Lalu, ada benih bernas yang terselip dari rerangkai kata yang sebanyak itu terucap dari bibirnya. Atau ada setetes embun nasihat yang menyejukkan jiwa. Lalu kita ingin membersamainya lebih lama. Supaya jiwa yang gersang ini terlembabkan lagi. Semoga hati yang beku ini menjadi encer oleh hangat yang ia sebarkan. Supaya pikiran yang sempit, picik tak terbuka, setidaknya menjadi bercelah dan kemudian melebar. Pikiran yang kemudian meluas, ia siap menampung lebih banyak lagi inspirasi. Sehingga inspirasi yang ia terima bukan untuk ia nikmati sendiri. Akan tetapi, ia pun siap menebarkan lagi, memberikan sepercik dua percik hikmah yang ia terima.

“Semoga bermakna dan senantiasa mencerahkan, yaa.”

Hari ke hari yang kita jalani, tentu ada saja inspirasi yang kita temui. Ada saja orang-orang yang berela hati menginspirasi kita tanpa kita pinta memelas. Ada saja yang menemui kita dengan sebaris senyumannya menebar di pipi. Mereka yang tersenyum tersebut, tidak harap kita senyumi balik. Namun dengan tersenyum, mereka merasa lebih baik, itu saja.

Kemarin, mungkin juga kita telah berjumpa dengan inspirasi. Entah dalam perjalanan kembali dari tempat aktivitas, entah juga saat berjumpa dengan orang asing yang tidak kita kenali. Bahkan, dengan orang ‘tidak waras’ yang kita lihat dari kejauhan pun, ada inspirasi padanya.

Sore kemarin, menjelang pulang. Aku melihat orang ‘tidak waras’ dari kejauhan. Orang yang sama dengan yang ku temui di hari-hari yang telah berlalu. Karena posisi kami berjauhan, maka aku lebih sedikit lega. Sebab tidak harus menghindar darinya yang ‘mungkin’ tidak berpikiran apa-apa padaku. Namun aku, sedikitnya berpikir tentang ia. Maka, sedapat mungkin aku tidak mendekat dengannya.

Dan tepat tadi pagi, pada hari ini. Aku kembali melihatnya. Namun jarak kami tidak lagi berjauhan. Karena ia berada sangat dekat denganku. Ia yang berada di sisi jalan tempatku melangkah. Ia yang sedang duduk selonjoran di depan sebuah gedung. Sedangkan aku sedang melangkah di jalan depannya.

Pada saat itu, ku berpikir, ku ambil langkah seribu saja? Agar ku cepat menjauh darinya? Berpikirku lagi. Ah, tidak bisa. Karena kami sudah terlanjut sempat bertatapan. Maka, aku pun memilih melangkah tenang, sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ceritanya menikmati suasana. Hahaa, 😀 padahal aslinya sihhhhhh… lumayan deredegan. But, ku alihkan perhatian pada bebatuan di sepanjang jalan. Ku ukir senyuman di dalam hati, meski wajahku tenang. Ku sampaikan pada Pemilik diri ini, ya Rabbi, lindungi hamba dalam perjalanan ini. Terus, ku berjalan lagi. Sampai akhirnya, perlahan ku menjauh darinya.

Ia, orang ‘tidak waras’ yang ku perhati dari kejauhan kemarin sore dan pagi tadi dari dekat, adalah inspirasi. Ia tidak datang menemuiku, namun pandanganku yang menemuinya. Untuk apa? Supaya mengingatkanku lagi pada diri. Mau kah ia masih bersyukur hari ini? Syukur dengan ingatan yang masih mau datang lagi. Sehingga ku masih ingat jalan pulang. Setelah berkeliling-keliling melanjutkan perjalanan. Aku masih bersyukur, setelah sampai di lokasi yang ku tuju setelah perjalanan, ku masih mau menelurkan secuplik dua cuplik catatan tentang perjalanan. Syukur yang mensenyumkan, kemudian.

Lain halnya dengan inspirasi yang ku jemput di sepanjang perjalanan, ada lagi inspirasi yang datang padaku tanpa ku minta. Karena tetiba ada seseorang yang menemui kami (aku dan temanku) di sini. Beliau yang sudah lebih lama menjalani hidup di dunia ini. Beliau yang tentu saja berlimpah inspirasi. Beliau yang kaya pengalaman pun pengetahuan. Beliau yang menceritai kami tentang liku-liku perjalanan hidup pada masa lampau yang beliau jalani. Namun saat ini, sudah menjadi kenangan.

Maunya, pelesiran, jalan-jalan melancong ke mana aja, tambah beliau di sela gumam kagum yang kami lantunkan. Yah, karena kisah hidup beliau membuat kami terkagum. Pantas juga, di usia senja, beliau menjalani hidup dengan lebih ringan. Karena dari dulu, beliau memang bekerja keras dan berjuang. Saat ini, kerjaan beliau hanya berkunjung dari satu anak ke anak lain, lalu menikmati masa tua yang berjaya. Alangkah indahnya… aku membayangkan tentang masa depan di hari nanti. Akankah kelak ku dapat menyusuli jejak kisah beliau seperti ini? 

Diantara pesan tentang hidup yang beliau titipkan pada kami adalah tentang pentingnya beberapa hal dalam menjalani hidup ini. Berikut menjadi modal hidup ala beliau, seorang laki-laki sepuh yang menemui kami hari ini.

1. Otak

Maksud beliau, pikiran, kali yaa. Kalau kita mau susah atau mudah menjalani hidup ini, bermula dari otak. Kalau otak saja sudah ga beres, kemana-mana juga sulit. Kalau sudah begini, apa-apa juga menjadi rumit.

Berpikirlah baik, maka kebaikan yang kita terima, walau tak selalu. Namun semua kembali lagi pada pikiran kita. Apakah kita menerimanya sebagai ketidakbaikan, atau sebagai celah untuk memetik hikmah dan pelajaran?

Dengan adanya pikiran, kita dapat membedakan yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan. Apakah yang kita lakukan benar-benar yang seharusnya kita lakukan?

Menjalani hidup ini, jadilah orang yang jujur. Jujurlah. Sehingga orang tidak takut berinteraksi dengan kita. Kalau orang sudah percaya pada kita, maka mempercepat kita dalam menaklukkan hidup. Memiliki kepercayaan, membuat hidup kita semakin mudah nan lempang. Berbekal kepercayaan, perjalanan langkah menjadi lebih ringan.

Untuk meningkatkan fungsi otak, maka perlunya belajar, memiliki ilmu, dan selanjutnya mempraktikkan ilmu dalam kehidupan. Dengan berilmu, bukan hanya memudahkan kehidupan kita, namun kehidupan orang lain pun akan menjadi mudah olehnya. Walaupun semakin tinggi tingkat pendidikan tidak menjamin segalanya, namun dengan terus belajar, kita menjadi selangkah lebih maju dari orang-orang yang tidak belajar.

2. Modal

Modal adalah faktor pendorong setelah otak yang beres. Misalnya kalau kita mau membuka usaha. Dengan modal pinjaman pada awalnya. Pada waktu berikutnya  kalau kita memegang teguh kejujuran, maka akan kita peroleh kepercayaan. Setelah kepercayaan, maka modal berapapun akan dipinjamkan. Selanjutnya, hasil pengelolaan dari modal pinjaman bisa kita kembangkan. Seterusnya, usaha tetap kita jalankan dengan senantiasa menjaga pikiran.

Berpikirlah baik terhadap orang lain. Suka menolong, senang membantu. Berikutnya adalah …

3. Nasib

“Kalau berjuang pasti bisa senang, kok. Dari makan gaji seterusnya, tidak juga bagus. Seiring waktu, kalau kita masih mau terus berjuang, maka kita pun bisa menjalankan usaha sendiri. Kalau orang suka sama kita, rezeki kita ada aja. Dengan rezeki yang ada aja, maka nasib kita juga bisa berubah. Perubahan yang diiringi dengan perjuangan untuk mengubahnya,” tutup beliau di ujung pertemuan kami hari ini. Aku pun mengangguk-angguk berusaha memahami, dan kemudian berpikir lagi tentang sejumput inspirasi yang beliau titipkan, yang beliau antarkan pada kami.

Aha! Kalimat ini mengingatkanku pada ibu. Beliau yang memesan juga, begini. “Jangan pasrah sama nasib, kita bisa usaha dan jangan lupa berdoa untuk mengubah nasib”.  Beliau berpesan di hari-hari lalu. Pesan yang juga bukan untukku langsung. Namun aku ada saat beliau menyampaikannya. Maka, bila ada yang membahas tentang nasib,  menjadi teringatkanku dengan beliau. Ibu yang baik, dan aku rindu.

Tentang hal ini, aku jadi teringat tentang firman Allah, Q.S Ar Ra’d ayat sebelas yang artinya  berikut :

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” Q.S Ar Ra’d [13]:11.

***

Terima kasih atas inspirasi, dari orang-orang yang menemuiku, aku temui, dan mengajakku bicara. Inspirasimu berguna bagiku, untuk ku abadi dalam tulisan. Karena terkadang, untuk waktu-waktu tertentu ku memilih merangkai kalimat untuk mengucap kata, tanpa bicara. Supaya nada-nadanya masih ada, walau kita tidak lagi bersama. Semoga nada-nadanya sampai pada orang yang tepat, saat orang yang ku tuju tidak menerimanya. Sesederhana ini alasanku saat merangkai kalimat.

Ketika diam, ku masih bisa bicara.

Saat engkau ribut di sekitarku, masih dapat ku imbangi kecepatan bicaramu dengan tarian jemari di atas keyboard. Ah, bising ini sungguh menggangguku.

Walau nada suaraku tidak dapat setinggi nada suaramu, namun aku masih mau bersuara.

Karena tidak selamanya ku diam, begini. Ada masanya, kita bereuni lagi dalam bicara, meski dalam diam. Engkau diam, asyik dengan waktumu membaca catatan-catatan tentang kehidupanku. Sedangkan aku juga, diam, asyik dengan duniaku menulis suara hati yang bermunculan saat di dekatmu. Hati yang bicara. Sehingga duniaku menjadi bertabur inspirasi. Karena ada engkau di sekitarku. Inspirasi yang ku petik sejumput demi sejumput, selalu begitu.

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

2 thoughts on “Tentang Sejumput Inspirasi

  1. Kadang ribet juga urusannya kalau sama orang tidak waras. Coba pas dia ternyata ngamuk, mau dilawan nanti malah disangka sama-sama tidak warasnya. Kalau dibiarkan, ya risih bahkan bisa bonyok.

    Dan saya baru sadar, ternyata ketidakwarasannya justru mengingatkan kita rasa syukur tak terhingga atas kewarasan yang diberikan Tuhan kepada kita.

    Trims inspirasinya….

    Liked by 1 person

    1. Iya, betul, Kay. Adanya orang tidak waras yang kita lihat, semoga mengingatkan kita untuk bersyukur dan memanfaatkan sisa usia dalam hidup dengan sebaik-baiknya.

      Terima kasih juga, atas kunjungannya, yaa… 🙂

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close