Mereka pun, Saudara Kita

Image result for menghadapi orang gila

Picture , berasal dari sini : <-   🙂 

Bermudah-mudahlah dalam mempermudah urusan orang lain denganmu. Maka kemudahan pun akan engkau peroleh dalam berbagai urusan dalam kehidupanmu. Yakin dan percayalah. Bahwa kemudahan tersebut bahkan tidak pernah terpikirkan akan engkau terima.

Belajarlah untuk senantiasa berprasangka baik terhadap orang lain. Maka kebaikan pula yang senantiasa menaungi perjalananmu. Dalam hal ini, aku masih belajar. Belajar untuk berbaik sangka dalam berbagai situasi. Walaupun pada orang-orang asing yang baru ku temui. Nah, akibat dari berbaik sangka kali ini, membuat kami tertawa geli. Aku jadi sedikit ‘ngeri’, begitu pun teman yang berada di dekatku saat itu.

Ini adalah cerita kami hari ini. Aku dan seorang temanku. Teman yang menjadi bagian dari aktivitasku di sini. Teman yang sering mewanti-wantiku untuk hati-hati dengan orang-orang baru. Bahkan terhadap wajah-wajah asing nan mencurigakan. Maka, segera ambil sikap tegas dan pasang wajah galak, pesan temanku. Aku hanya manggut-manggut, dengan ekspresi khasku yang ‘engkau tahu lah, yaa.’ Soalnya aku tidak bisa ekspresi segalak permintaan temanku. Namun begitu, demi kedamaian dan keberlangsungan peradaban di bumi, aku pun mencoba dan berusaha menjadi.

Siang hari. Menjelang waktu shalat Zuhur datang. Sejenak setelah kami selesai menikmati santap siang. Suasana yang membuat kondisi badan menjadi semangat, wajah tersenyum cerah, sehingga kebahagiaan mudah menebari sekitar.  Pada saat itulah, aku melangkah menuju ke depan. Ke lokasi yang dekat dengan jalan raya. Ceritanya mau cuci-cuci mata, sembari menghirup segar udara. Dan beberapa detik setelah ku sampai di gerbang, tetiba ada orang datang.

Seorang laki-laki separuh baya, mendekati lokasi tempatku berdiri. Aku pun sigap dan siap menyambut dengan ceria. Pasang wajah tersenyum, lalu bertanya, “Ada yang bisa dibantu, Pak?” Pertanyaan yang ku pikir akan berhasil dengan jawaban yang beliau sampaikan. Misalnya mau lihat-lihat gitu, atau mau tanya sesuatu, barangkali. Akan tetapi, perkiraanku meleset. Sehingga setelahku sadar, membuatku memilih berbalik seratus delapan puluh derajat dari posisiku semula. Posisi yang berubah jadi membelakangi laki-laki tersebut. Dan kemudian melangkah pelan namun pasti.

Mantab, keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau mendekatinya, atau ia mendekatiku lebih dekat. Cukup, cukup jarak yang ‘mungkin’ hanya selangkah orang dewasa saja, yang menjadi jarak terdekat kami. Lalu, setelah sukses berbalik dan yakin ia tidak mengikutiku, aku melanjutkan langkah. Pelan namun pasti, seraya memasang mimik ‘lucu’, mungkin. Aku melangkah mendekati temanku, menjauhi laki-laki tadi. Sedangkan temanku yang sedang berhadapan namun agak jauh denganku, ikut menyapa laki-laki. Sapaannya lebih ke ekspresi dan gerakan saja.

Aku berlalu, memilih tempat agak tersembunyi. Tidak mau-mau lagi menatap sang lelaki. Untung ia tidak mengikuti.  Selanjutnya, celotehan tetap mengalir melalui suaranya. Celotehan berisi pesan-pesan yang sangat jauh dari nalarku. Aku berusaha mengimbangi keberanian dengan ketakutan yang muncul tiba-tiba.

Sedangkan temanku, setelah tahu siapa laki-laki tersebut ‘dia’ sesungguhnya, langsung terdiam dan kemudian pura-pura mengalihkan perhatian. Ceritanya, tidak menanggapi lagi kehadiran sang lelaki separuh baya, tadi.

“Ya, Tuhan… Pekiknya tertahan. Sungguh, aku pikir lelaki normal, tadi.  Makanya ku sapa dari kejauhan,”  curhat temanku setelah sang lelaki berlalu dari sekitar kami.

Kalau aku mendekatinya dan menyapa dengan biasa saja, awalnya. Namun setelah mencium gelagat yang tidak beres, ku berbalik menyelamatkan diri. Ini lebih aman, ku pikir. Alhamdulillah, aku masih bisa berpikir untuk tidak melayaninya lebih lama. Karena kalau ku tidak menyadari, entah apa yang terjadi. Mungkin lelaki tadi mengo-meliku lebih lama lagi.

***

Dari segi penampilan, ia terlihat seperti orang normal, kebanyakan. Ditambah lagi dengan aksesoris yang ada di genggaman. Beberapa buku yang tidak terlalu asing. Pakaian juga masih layak pakai. Trus, ada topi bundar di kepala.

“Aku pikir juga, penjual buku. Lalu ku lambaikan tangan ‘ala-ala’ dadahan, untuk penolakan. Maksudnya, ku tidak mau beli bukunya, gitu,” tambah temanku pula. Sambil kami cekikikan, tertawa penuh kelegaan.

“Kalau aku, mikirnya malah ‘si dia’ mau tanya-tanya sesuatu. Makanya ku sapa setelah kami lebih dekat. Karena aku sedang melangkah menuju ke gerbang, dan ia pun mendekatiku. Untung yaa, jarak kami masih belum terlalu dekat. Sehingga aku masih bisa berputar dan kemudian meninggalkannya,”  ceritaku mengingat pertemuan tiba-tiba kami yang berkesan.

***

Aku tidak mengerti, apa latar belakang yang membawa sang laki-laki pada keadaan tersebut. Namun yang pasti, ku yakin, ada alasan, mengapa ia begitu. Semoga, ingatannya kembali normal, dan menjalani hari seperti manusia normal pada umumnya. Bukan lagi berbicara sendiri. Sehingga membuat orang-orang yang ia temui menjadi tidak nyaman di depannya. Seperti yang ku alami, tadi.

***

Kejadian seperti ini, bukan sekali ini saja kami alami. Aku dan temanku juga pernah didatangi oleh orang-orang dengan kondisi serupa. Ada yang bercerita panjang lebar, entah pada siapa. Bukan pada kami yang ia pandangi, namun berbicara sendiri. Sehingga, untuk menghadapi orang seperti ini, jangan dilayani. Biarkan saja ia bercerita, sampai akhirnya capek sendiri, dan kemudian juga pergi.

Nanti, kalau ia datang lagi, begitu menghadapinya, yaa.  Oiiya, bukan hanya ia, namun mereka-mereka dengan kondisi serupa. Jangan tertawai, apalagi mengganggu. Jangan mengusili, apalagi menggoda. Karena ia bisa ngamuk! Pesan teman baikku yang lainnya.

Makanya, demi keamanan dan kenyamanan serta ketenteraman, perhatikan terlebih dahulu orang-orang asing dan baru yang menemui atau engkau temui. Apakah gerak-geriknya diluar kebiasaan? Apakah ia mencuriga-kan? Atau, seperti orang tadi yang berbicara sendirian?

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close