Temanku bilang, kalau aku terlalu mudah bahagia. Bahkan untuk hal-hal kecil dan sepele yang bagi orang lain ‘itu mah biasa’. Namun excited, bagiku.

Ah, begitulah, kawan… 😀
Datang dan muncul lagi ke sini saat ini, pun membahagiakanku. Karena kita masih bersua walau tak bertatap mata. Masih bersapa walau tanpa suara. Masih ada, walau mewujud rangkaian kata. Aku bahagiaaaa, dan bagaimana kabarmu kawan? Semoga bahagia selalu menyerta yaa. Semangat melanjutkan langkah di dunia ini. Sampai nanti…

***

Bukankah kebahagiaan yang sesungguhnya memang berawal dari hal-hal sederhana? Hal-hal kecil yang bila kita hayati, kita selami, maka tetiba membuat senyuman mengembang di pipi. Lantas kebahagiaan pun menaungi di ruang hati.

Bagiku, kebahagiaan memang tidak datang secepat itu. Apalagi kalau bukan dalam rangka mensyukuri hari ini. Maka, dengan alasan inilah ku bahagia atas hal-hal kecil, sepele dan sederhana, menurut orang lain. Sebab, kalau bukan dengan cara begini, lalu kapan lagi ku mulai berbahagia? Apakah harus menunggu hal-hal besar mengejutkan yang ku terima, dan memang yang ku harapkan. Baru ku bahagia? Apakah semua itu sia-sia? Bagaimana kalau akhir usiaku sudah dekat. Lalu ku belum sempat bahagia dengan hal-hal yang ku terima. Ah, aku tak mau ‘kufur nikmat’. Itu saja.

Saat kita mau memperhati ke dalam diri atau keluar diri. Sungguh. Sungguh. Sungguh sangat banyak nikmat-Nya yang harus dan pantas kita syukuri. Maka bersyukurlah atas hal-hal kecil, bermula dari sana, tetap bersyukur dengan hal-hal besar menjadi lebih mudah kita laksana.

Bukankah dengan bersyukurnya kita, Allah berjanji menambah nikmat-Nya? Bahkan dari jalan yang tidak pernah kita sangka.

Beberapa penilaian ku terima, kalau aku pun tidak mudah mengeluh atas segala yang ku jalani. Benarkah demikian adanya? Aku mengintrospeksi diri lagi. Karena terkadang masing-masing orang melihat kita dari sisi berbeda. Maka penilaiannya pun sesuai cara pandang tersebut. Dan aslinya diriku seperti apa, sungguh hanya Tuhan Yang Tahu. Karena Dia Maha Tahu. Terlebih lagi isi hatiku.

Mereka boleh melihatku bahagia-bahagia aja, tersenyum menempuh masa. Namun jauh di dalam lubuk hatiku ternyata sedang berjuang menata jiwa. Aku belajar tegar sejak lama. Aku belajar teguh sejak dulu. Aku belajar menyadari dari mana dan ke mana ku hendak pergi. Maka, masihkah engkau menilaiku sesuai prasangkamu, teman. Boleh yaaa…. boleh…. boleh sangat. Karena semua adalah hak azazi manusia. Hehee. 🙂

Sekilas ku teringat tentang perjalanan yang ku tempuh dalam hari-hari. Flash back untuk mengaca diri sejenak. Menatap spion dari sesosok musafir dalam kehidupan ini. Ku kembali ke masa lalu, sejenak. Sejenak saja. Sebentar. Sebentar saja. Maka pada saat itu, ku lihat diriku yang lama. Diri yang bukan siapa-siapa. Lalu, akan kah selamanya ku begitu? Diri yang tidak selalu benar. Lalu, bukankah saat ini kesempatan terbaik untuk belajar, lagi?

Dari lingkungan, aku banyak belajar. Ku perhati sekelilingku. Ku pelajari sekitar. Bahkan dari seekor kecoa pun ku mau belajar. Ia mengajarkan tentang kegigihan. Yak.

Kecoa yang gigih, sering membuatku tersenyum. Kalau ia datang lagi, saat sudah menjauh pergi. Kecoa yang saat badannya terbalik dan tidak bisa berlari, tiba-tiba sudah tidak ada di lokasi awal. Dan setelah ku perhati berulang kali, di kesempatan lain. Maka tertemukan sebuah pencerahan tentang kegigihan.

Yah, dalam kondisi kaki ke atas, kecoa yang malang tidak putus asa. Ia terus bergerak. Bergerak saja, yang terlihat olehku. Menggerakkan sayapnya yang terimpit dan juga kaki-kaki panjang yang ramping nan bergerigi. Sepertinya ia tak ingin mati sebelum saatnya. Ya. Kalau ia memilih diam, tanpa ekspresi, sudah tentu nafasnya pun terhenti dan kemudian mati. Namun kecoa tak ingin hal seperti itu ia alami.

"Tuhan, aku belum mau mati, belum mauuuuu. Aku masih ingin hidup seribu tahun lagiiiiiii. Jangan cabut nyawaku seperti ini. Barangkali, masih ada kesempatan ku hidup lebih lama, dengan usaha ini," seperti ini kalimat yang kecoa ucapkan. Ku lihat dari gerak-geriknya berjuang maksimal.

Kecoa yang lain. Setelah ku usir jauh, namun ia datang lagi. Gigih. Ga putus asa. Lelah mengusirnya, aku senyumi saja. Atau kalau lagi iseng, ku coel-coel atau ku kibas-kibas supaya tubuhnya yang ringan terbalik. Aih! Dari kecoa juga ku temukan hiburan yang membuatku tersenyum lagi.

***

Maka sejauh ini, tak ada alasanku untuk mengeluh. Sebab banyak hikmah untuk ku rengkuh. Seperti yang ku lakukan saat ini.

Aku sedang menyervis kompor minyak. Sumbunya yang ternyata tinggal potongan pendek, membuat nyala api tidak maksimal untuk memasak. Maka ku mau mencoba memperbaiki. Tapi tak tahu cara memasukkan sumbu ke lubang-lubang kecil nan ramai ituuch. Lalu ku tanya Ka Oyin, beliau memberitahuku tipsnya. Ikat salah satu ujung sumbu dengan ujung tali rafia. Jangan sampai ada yang keluar. Ujungnya yang mekar tolong rapatin. Kemudian ujung tali rafia yang lain, masukkan ke sumbu kompor, dari bawah. Lalu tarik. Selesai dech. Ka Oyin menjelaskan sambil ku praktikkan. Dan beliau pun berlalu tanpa memantauku menyelesaikannya.

Ku praktikkan sesuai penjelasan beliau. Namun saat memasukkan sumbu dari bawah, tidak sukses. Karena sumbunya kebesaran. Lalu coba dari atas, berusaha, mencoba. Eits, akhirnya bisa. Alhamdulillah. Aku pun bahagia. 😀

Hikmah dan pelajaran yang ku petik dari aktivitas ini adalah tentang kemauan mencoba. Walau belum pernah seumur hidupku servis kompor minyak. Namun bisa juga dan membahagiakan, ternyata. Belajar hal baru dengan kemauan itu, sungguh berkesan. Terima kasih Ka Oyin, I love you…. 😉 #Inibukanlebaitapibersyukurdengankebaikanmu

***

Baik. Baik. Ya. Berbuat baiklah pada orang lain. Pada sesiapa saja, lakukanlah kebaikan yang engkau mau, yang engkau mampu. Karena sesungguhnya kebaikan yang engkau lakukan untuk orang lain adalah kebaikan yang akan kembali padamu. Walau tak segera. Meski yang membalas kebaikanmu bukan orang yang engkau baiki. Namun yakinlah, your kindness with others will come to you back. Soon or later.

Ka Oyin yang cantik, beberapa waktu lagi akan menikah. Semoga lancar segala proses yang beliau tempuh menjelang hari bahagia. Dan senantiasa dalam kemudahan, kebaikan, di masa-masa berikutnya. Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair. Selamat membangun keluarga yang bernuansa surga di dunia hingga bahagia sampai jannah-Nya. Sakinah, mawaddah wa rahmah, Aamiin ya Allah.

***

Semakin yakin dan percaya ku. Bahwa semua yang kita jalani ada hikmah. Supaya kita bertambah syukur atas bahagia yang menyerta dan kemudian berbahagia menjalaninya.

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s