Tips Tetap Bahagia Akhir Pekan ala Me

Akhir pekan adalah waktu yang sangat berkesan bagi kita, bukan? Kita. Yah, kita. Engkau dan aku. Kita semua. Karena akhir pekan adalah jeda waktu yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh insan di dunia. Untuk dapat menikmati waktu-waktu yang lebih panjang bersama keluarga. Waktu yang bagi sebagian orang-orang tua, anak muda (kayak kita), ya, kita. Kita habiskan bersama orang-orang tersayang. Waktu yang bagi kebanyakan orang, menjadi evaluasi dari hari-hari sepekan terakhir.

Apabila kita dekat dengan keluarga, tidak sedang merantau, misalnya, maka bersama keluarga menjalani waktu seharian adalah utama. Termasuk berlibur ke mana saja. Karena aktivitas yang terakhir ini, hanya dapat kita lakukan saat akhir pekan, bukan? Terutama bagi yang beraktivitas di luar rumah demi melanjutkan karir. Tidak seperti mereka yang seharian beraktivitas di rumah.

Keinginan tentu tercipta. Kebahagiaan merebak segera, saat akhir pekan terlaksana dengan bahagia. Maka, bagi aku yang sedang berada jauh dari keluarga alias merantau, akhir pekan pun selalu ku tunggu.

Kesedi-han juga ada.  Saat akhir pekan yang tidak dapat ku habiskan dengan keluarga seharian. Akhir pekan yang menjadi bagian dari hari-hari penuh aktivitas ku. Akhir pekan yang menghiasinya dengan hal berkesan, sudah tentu.

Kerinduan pasti ada, buat beliau semua. Aaaaaaaaaaa.a.a.a.a.a.a. Kemudian, waktu terus berlangsung. Apakah ku habiskan waktu dengan menggugu, terpilu bersama waktu? Bersama deru jiwa yang membuatku syahdu? Oh, lalaa. Tidak selalu begitu. Karena aku punya tips tetap bahagia di akhir pekan, ala aku.

Lalu, apa saja tips tetap bahagia akhir pekanku?

  1. Perosotan di atap

Menemukan tempat bernaung yang menjadi kost-kostan ku sekarang, aku senang. Sungguh, sangat senang. Karena suasananya yang nyaman, tenang dan penuh kedamaian. Anak-anak yang tinggal bersama denganku, semua perempuan. Sehingga kami menjadi mudah menjalin keakraban dan curhat-curhatan. Dalam hal ini, aku menjadi objek curhatan, oleh beberapa orang teman. Sedangkan yang lainnya, ada yang pendiam, tidak banyak bicara. Kalau bukan untuk suatu keperluan yang penting, mereka jarang mengeluarkan suara. Sungguh, aku terkesan dengan mereka yang tidak banyak bicara, namun menunjukkan persahabatan dan pertemanan dengan sikap dan perbuatan. Teman-temanku di sini baik, padaku. Mereka membuatku mudah menghadirkan senyuman di wajah. Semua kini bukan impian. Mereka ada dalam kenyataan. Pribadi yang selama ini ku dambakan menjadi teman.

Selain teman-teman yang mengesankan, aku juga sangat suka nuansa rumahnya. Rumah dengan satu ruang tidak terlalu luas, di pinggir-pinggirnya ada kamar-kamar. Di sudut belakang ada dapur untuk bereksperimen, dan di sebelahnya tersedia kamar mandi beserta keran untuk wuduk. Lalu, di lantai atas ada tempat jemuran, bersebelahan dengan atap maroon yang sering jadi tempat nongkrong menjelang senja, atau pagi sebelum mentari bersinar.

Pagi-pagi. Seperti hari-hari biasanya.

Sebelum terik mentari menyengat. Sebelum panasnya membaluri atap. Maka, ku habiskan akhir pekanku dengan aktivitas yang satu ini. Seraya menatap langit biru berhiaskan awan tipis. Sambil memandang mentari bersinar dengan senyumannya yang cantik. Lalu, aku pun mensenyuminya balik. Bersama mentari, selalu begini, aku menghiasi akhir pekan dengan berseri. Karena ia mengajarkanku begini. Untuk tersenyum lagi, dalam menempuh hari.

Kemudian setelah keringat mengucur di badan, pasang ekspresi tanpa dosa. Karena membuat suasana di sekitar atap berisik, bunyi kriuk-kriuk kayak kerupuk. Kondisi yang menjadikan orang-orang di dalam rumah di bawah atap yang sama penasaran, siapa yang lagi di atas? Ah, mereka yang terdekat denganku pasti tahu. Aku sedang mencari inspirasi, alasan klasik ku ulurkan membentang senyuman pada mereka yang bertanya, “Lagi apa di atas?”

  1. Jalan-jalan sepanjang-sekeliling komplek tempat tinggal, bahkan sampai komplek tetangga

Jalan hingga ke lorong-lorong sempit seraya memperhatikan sekeliling. Sesekali selfi-selfi dan mengabadikan pemandangan. Menatap langit, mencurahkan rindu pada Pencipta langit dan semesta. Menyangkutkan doa yang mengalir deras di lengkung langit, walau tanpa tali. Supaya, keadaan seperti ini dapat ku nikmati dengan sempurna. Karena semua ada waktunya. Masa seperti ini juga berakhir, pada saatnya. Enjoy aja. Hahaa. Engkau juga, yaa. So, saat nanti kita jumpa, ada cerita yang kita bagi. Tentang duniaku di sini. Pun engkau, tentang duniamu di sana.

Selamat berpetualang yaa. Jalan-jalan untuk melihat-lihat indahnya alam ciptaan Tuhan. Semua, semoga, mengingatkan kita, kepada-Nya. Lagi, lagi dan lagi. InsyaAllah… bahagia selalu menyerta dalam setiap langkah yang tertapak. Sejejak demi sejejak, tinggalkanlah jejak terbaikmu di mana pun berada.

  1. Sarapan, lalu menulis catatan tentang pagi

Menikmati sarapan, kadang bersama teman-teman. Kalau mereka tidak kembali ke kampung halaman. Sembari menghayati cericit burung yang menyapaku bergantian, sering ku alami. Sesekali, mereka terbang berombongan tepat di atasku. Lalu, mengedipiku penuh pesan. Aku hanya mengantarkan mereka dengan pandangan hingga jauh sekali. Sampai hilang dari penglihatan. Karena kami tidak dapat bertukar suara. Mereka tidak mengerti yang ku katakan? Atau aku yang tidak memahami apa yang mereka ucapkan?

Begitu pula dengan sore hari di akhir pekan. Mereka kembali berombongan lagi. Melintas di atasku. Aku yang sedang baring-baring di atap, memandang langit penuh awan. Langit menjelang senja yang berhias lukisan. Sesekali bergaris-garis. Kadang kotak-kotak. Atau tidak jarang terlihat seperti burung yang sedang terbang mengepakkan sayapnya. Bahkan, terkadang juga awan membentuk formasi sebarisan pasukan. Ah, tidak henti mataku memandang lukisan langit yang menawan. Hingga azan Magrib pun berkumandang, aku baru pulang. Selanjutnya menjelang malam benar-benar larut, ku kembali menikmati malam.

Malam hari, sering bebintang bertaburan di tengah kelam. Sesekali terlihat rembulan melengkung tipis, setengah bola, atau bulat penuh. Semua jelas terlihat dari lokasi ku berada. Mereka mensenyumiku. Aku pun melakukan hal yang sama. Yah, sepertinya mereka mengerti kondisiku.

Sesekali juga, teman-teman menemaniku menatap langit malam hari. Untuk menatap pemandangan di sekitar tempat tinggal kami dari ketinggian. Untuk menyaksikan kelap-kelip lampu jalan dari kejauhan. Pun, tidak jarang juga melintas pesawat tidak jauh di atas sana. Semua menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.

Saat bersama-sama menghabiskan malam di akhir pekan, kami saling bercerita tentang impian. Terkadang mencurahkan segala pikiran dan aktivitas seharian yang melel-ahkan. Terkadang menyemangati teman, supaya ia teruskan perjuangan. Dalam hal ini, kami menjadi tersemangatkan lagi untuk meneruskan perjalanan dalam kehidupan. Sehingga setelah akhir pekan berlalu, esok kami sambut dengan senyuman. Senyuman kebahagiaan. Bahagia karena kami masih mempunyai kesempatan untuk melangkah di alam.

  1. Nonton TV

Sesekali saja. Ya, aku sangat jarang nonton TV, sebetulnya. Karena, tidak punya, salah satu alasannya. Maka, menonton sesekali di tempat teman, menjadi pilihan. Termasuk di akhir pekan. Kami nonton bareng-bareng, atau sendirian. Nonton TV sesekali saja, dan acaranya ku suka yang benar-benar menghibur.

  1. Masak-masak, setelah kembali dari pasar (kalau tidak jogging)

 

Bukankah bisa karena biasa? Yap, mereka yang ahli di bidangnya pun, karena membiasakan diri untuk menjadi ahli. Terus, rajin mencoba, berkreasi, dan bersungguh-sungguh. Yakinlah dan percayalah, tidak ada yang tidak mungkin, kalau kita yakin. Do you agree me? Hihiii.  😀 Sekarang masak gosong? Besok coba lagi. Sekarang keasinan? Besok masak lagi. Dan lakukan semua dengan hati. “Pakai perasaan, masaknya,” kata Kakak Iparku, suatu hari.

 

  1. Ke toko buku, menemui teman-teman

 

Nah, selama di kota ini, baru sekali aku ke toko buku. Dan ke depannya ku ingin mencari cara untuk lebih sering mengunjunginya. Karena banyak manfaat yang kita dapatkan saat berkunjung ke toko buku, bukan? Makanya, ada niat di dalam hati, untuk mendekatinya, mesti tak sering. Walau ia jauh, namun saat kita mau mendekatinya, jarak bukan lagi alasan untuk pertemuan dan kebersamaan dengan teman-teman.

  1. Dari semua aktivitas-aktivitas yang membahagiakan di atas, yang lebih penting kita lakukan pada akhir pekan adalah, jangan lupa … Family Call Session. Karena mereka kita begini. Bersama doa mereka kita sampai di sini. Dalam harapan mereka, aktivitas kita lakukan lebih bahagia dari waktu ke waktu. Sampaikan salam rindu buat mereka, sepenuh jiwa. Ucapkan tulus dengan semangat. Semoga, walau jauh di mata, di dalam hati mereka selalu ada. Menjadi motivasi yang mencerahkan. Menjadi pengobat rindu dengarkan suara mereka. Sungguh, keluarga adalah tempat kita kembali. Walau bagaimana pun kondisi yang kita alami saat di perantauan, kabari mereka yang baik-baik. Sampaikan pada mereka, perkembangan yang kita alami dari waktu ke waktu. Supaya semakin mengucur deras doa-doa terbaik untuk kita. Mengucur pula rezeki mereka melalui kita, lebih deras lagi. Karena syukur, sebab tafakur. Semua ada untuk mengingatkan kita bahwa kehadiran kita perlu lebih bermakna dan penuh manfaat.

Di manapun berada, dari bagian manapun kita menyapa mereka. Rasakan kedekatan yang menyerta. Bukan hanya dalam sapa, namun di dalam hati, mereka bahagia di sana. Mereka membahagiakan kita. Hingga genaplah sudah kebahagiaan kita, dengan kebahagiaan mereka. Your happy is mine. My family is my everything. Walau beragam coba menggoda, untuk selalu ingat keluarga. Maka, ingatan tersebut kembali menguatkan kita. Teguhkan hati. Tegarkan jiwa. Untuk meneruskan perjuangan.

Kelak ada masanya kembali, rumah adalah tempat terindah untuk melepaskan segala gundah. Di sana, jannah menanti. Surga di dunia adalah keluarga yang bahagia.

***

“Wahai,

This slideshow requires JavaScript.

Ke mana pun engkau melangkah. Sejauh apapun tujuan yang engkau ingin capai. Sesibuk apapun beraktivitas di luar rumah. Jangan lupa berdakwah. Yah, berdakwahlah dengan indah. Seindah senyuman yang engkau tebarkan sumringah. Senyuman ketika lelah menerpa raga. Senyuman saat kelam menaungi semesta. Namun jangan lupa bahagia, senantiasa.”

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s