Tentang Teman Sejati

Teman 1
Teman 1

Syukur. Ya, kembali ku saat ini ke sini adalah membawa syukur. Syukur yang ingin ku bagikan. Syukur yang tidak terlihat pandang. Karena ia tanpa wujud, memang. Walau begitu, ku ingin menjadikannya ada. Salah satunya, yaa, dengan cara mampir di sini, lalu memberainya dalam rangkaian tulisan. Tulisan-tulisan singkat mewujud paragraf sederhana. Paragraf-paragraf yang semoga bermakna. Makna yang bisa menulari sesiapa saja yang ia sapa. Sapaan lembut, sapaan hangat, sapaan penuh cinta, sapaan yang sampai ke hati. Karena aku merangkainya dengan hati.

Hati. Ya, hati-hati sangat ku merangkai kalimat demi kalimat ini. Hati-hati yang mengingatkanku selalu untuk berbaik sangka sebelum ia tercipta. Hati-hati yang ku tata dengan semaksimal upaya. Supaya ada yang terberi dengan hati ini.

Memberi. Aku masih belajar memberi dan berbagi. Dengan kembali ke sini, aku belajar berbagi. Berbagi yang ku miliki? Atau memberi sebagian titipan yang ku terima. Ya, setelah menerima dan ku rasa bermakna, maka ku ingin membagikannya. Supaya kebahagiaan melingkupi sesiapa saja di sana. Mereka yang menerima. Sama seperti yang ku alami saat menerima.

Senang sangat senang, ku bahagia dengan menerima pemberian yang sampai padaku. Dalam bentuk apapun itu. Apakah sebaris kalimat motivasi, seuntai kisah dan cerita tentang perjalanan diri, sebuah kata tentang makna yang terpetiki dari kehidupan seseorang di sini. Mereka yang menemuiku atau aku yang menemui mereka. Maka, kembali ku ke sini adalah dalam rangka mengabadikannya. Supaya mereka yang baik padaku, ku ingat menjadi abadi. Ku abadi beliau di ruang hati. Lalu, semoga mengalir kebaikan demi kebaikan yang beliau beri, melaluiku. Entah sampai di mana nanti. Ku hanya ingin menjadi jalan agar kebaikan mereka semua tidak terhenti hanya sampai pada diri ini. Namun akan lebih banyak lagi yang tercerahi. Supaya semakin banyak lagi kebaikan membersamai pribadi-pribadi lain di sana. Di luar sana, ku ingin mengabadi tentang semua.

Semua yang ku terima, tidak ingin ku nikmati sendiri. Segala yang ku rasa, ku ingin membagi pula. Apakah bahagia yang menenangkan hati. Atau juga kesed-ihan yang menggerogoti hati. Aku tidak ingin mengalaminya sendiri. Sebab, kalau ku bagikan, ada senyuman yang menemani. Baik saat ku menyadari kekonyolan diri. Ketika ku menyadari keluguan jemari. Atau saat ku mensyukuri keberadaannya bersama kami. Maka dengan melakukan aktivitas berbagi seperti menulis di sini, ku rasakan lagi bahagia setelah derita mendera jiwa. Ku tertawakan diri sendiri setelah bulir-bulir airmata membasahi pipi. Karena ternyata, semua komedi dalam kehidupan ini tidak abadi.

Ada hari kita bahagia. Ada masa kita ceria. Pun ada selingan duka menghiasi masa. Begitulah warna-warni kehidupan di dunia. Maka jangan kaget atau terpesona terlalu lama. Cukup nikmati saja, dengan terus menjaga hati. Memperhatikan kondisi terbarunya. Apa yang kita laksanai, apakah dengan membawanya serta? Hati yang di dalamnya berkumpul cinta. Cinta yang saat mendengar tentang ia, maka aku menjadi bahagia. Lalu, mengembang senyuman di pipiku segera. Senyuman yang menghiasinya dalam beberapa waktu terbaik.

Lakukan sesuatu dengan hati. Cintai apa yang kita lakukan. Niatnya semua demi kebaikan. Untuk menjadi lebih baik. Untuk meneladani kebaikan. Sebab, niat baik mengikuti segala laku. Kesungguhan terlihat dari pribadi. Kepribadian tercermin pada ucapan, sikap dan perbuatan.

“Aku melakukan aktivitas dengan sepenuh hati. Sejak dulu. Saat masih muda. Ketika melakukan aktivitas, aku mencintai, benar-benar mencintai yang ku kerjakan. Hingga hasilnya ku panen saat ini. Setelah puluhan tahun kemudian.
Teman 2
Teman 2
Benar, pada saat dulu, ku tidak mengharapkan balasan atas kebaikan yang ku lakukan. Namun semua ku terima saat ini.
Pamrih? Ah, aku tidak terpikir ke sana sejak lama. Aku tidak mengharapkan kebaikan ku terima saat ku berbuat baik. Aku tidak menginginkan balasan kebaikan serupa pada saat itu juga. Akan tetapi aku percaya, semua pada waktunya. Saat kebaikan memang menjadi hakku, maka akan menjadi milikku juga. Begini ku meyakinkan diri. Aku kuatkan hati, ku percayai benar-benar. Dan benar adanya, terbukti. Maka, saat ini ku bercerita, karena aku ingin engkau, mereka yang ku temui, pun memetik hasil yang serupa. Pengalaman ini tidak ku sampaikan padamu seorang, saja. Namun sesiapa saja yang ku temui, ku kisahkan hal serupa. Tentang mencintai aktivitas yang kita kerjakan. Maka, kita ringan melangkah saat menempuh jarak menuju tempat aktivitas, tenang saat bergerak menjalankan aktivitas. Tidak ada beban, namun menikmati.
Aku menyampaikan semua ini bukan untuk menyombongkan diri, namun berbagi pengalaman.”

Beliau, adalah seorang yang sedang duduk manis di dekatku. Seorang yang berpengalaman dalam kehidupan ini. Beliau yang bekerja keras semenjak lama. Beliau yang berjuang walau tidak semua menerima. Beliau yang keras pada tempatnya. Beliau yang tegas pada waktunya. Dan juga akrab serta dekat dengan teman-teman pada waktunya.

“Sampai saat ini, aku punya teman-teman baik. Teman-teman sejak kecil, bahkan sejak kelas satu. Aku punya satu teman baik. Kami akrab dan baik sampai saat ini, di usiaku yang sudah bertambah, tak lagi muda.
Saat kelas lima, aku juga punya teman baik. Sekarang sudah menjadi orang sukses dan berada. Di masa es em pe pun sama. Aku punya satu teman baik. Sekolah menengah atas juga, ada teman baikku. Kami masih baik sampai saat ini. Di kuliahan juga, teman baikku ada.
Saat ini teman baikku sudah menjadi orang sukses dan berjaya. Namun saat berjumpa, kami tidak memperbincangkan kekayaan satu dengan lainnya. Akan tetapi menyadari, bahwa kami masih sama seperti saat sekolah dulu. Sama-sama dekat dan akrab, terlepas dari apapun jabatan dan predikat yang melekat pada diri saat ini.
Aku punya teman dekat orang kaya juga. Namun kedekatan kami bukan karena harta. Kedekatan kami adalah karena kepribadian yang sama. Kami saling menjaga, saling menghargai. Dan hargaku tidak dapat ternilai dengan angka-angka hingga berjuta-juta. Karena ku posisikan diriku tidak dapat terbeli. Begini cara kami berteman. Hingga teman-teman sejak masa kecil dulu bahkan, masih terhubung baik sampai saat ini.
Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan teman sebangku masa es de dulu. Entah kenapa, kami bertemu di kota ini. Lalu ku traktir ia, teman baikku. Kami berpelukan, setelah lama tidak bertemu.
Saat ia datang ke kotaku, maka aku traktir teman baikku. Dalam hematku, sesekali bertemu dan meneraktir teman, boleh. Namun kalau setiap hari bertemu, lalu meneraktir selalu, ini tidak baik. Begitu pula kalau aku berkunjung ke kota teman baikku, maka mereka yang meneraktir aku. Sungguh, pertemanan kami tidak terbatas oleh waktu.”

***

Teman-teman
Teman-teman

Beliau berkisah di hadapanku, dengan sesekali mengembangkan senyuman di pipi. Aku pun menyimak penuh senyuman. Seraya mengingat-ingat pesan penting untuk ku abadi.

Pesan tentang teman, ini penting. Pesan yang beliau beraikan dengan penuh harapan. Serta kesan-kesan dalam pertemanan.

“Di masa depan nanti, kita pasti membutuhkan teman. Teman yang ada di dekat kita saat kita membutuhkan. Teman sejati. Sebab, kita tidak dapat mengharapkan anak sebagai teman setelah kita tua nanti. Bisa kita lihat di sekitar kita saat ini, kenyataan yang terjadi. Anak-anak tidak selalu ada di sisi, bukan? Begitu juga dengan pasangan hidup, apabila ia meninggal lebih dulu? Bagaimana? Apabila suami meninggal lebih dulu dari istri? Apabila istri kembali ke negeri akhirat lebih awal? Maka, temanlah yang menjadi bagian dari kehidupan kita nanti,” beliau menambahkan dengan ekspresi sulitku mengerti. Ekspresi asing.

Aku pun berpikir, lalu siapakah teman yang selalu ada di sisi? Teman yang tidak pergi-pergi? Ada saat ku membutuhkan? Teman yang sejati? Teman yang abadi? Teman yang bukan hanya imajinasi?

***

Saat ku masih ada di dunia untuk melangkahkan kaki, menggerakkan jemari, mungkin teman-temanku banyak di sini. Namun saat ku meninggal nanti, siapakah teman yang masih setia menemani? Siapakah teman yang masih mau berada di sisiku dan menjadi sahabat sejati? Siapakah ia, teman yang sesungguhnya? Ku menanyai.

Aku percaya, kehidupan kita tidak hanya di dunia ini. Seperti halnya beliau yang menceritaiku tentang adanya kehidupan berikutnya. Beliau, adalah seorang teman yang mencerahiku lagi tentang hal ini. Tentang tujuan segala laku. Tentang tujuan segala sikap. Tentang menemukan makna saat beraktivitas.

***

Beliau melengkapi di ujung kebersamaan kami hari ini. Dulu dahulu sekali, untuk menilai seseorang pertama kali melalui kualitas intelektualnya yang tinggi. Berikutnya, seiring dengan perkembangan teknologi, semakin banyak orang-orang yang pintar. Semakin menjamur para lulusan dari perguruan tinggi dengan titel bergengsi. Semakin tinggi kualitas intelektual yang mereka miliki. Sehingga kebanyakan tersebut pun mengganti/mengubah penilaian terhadap seseorang.

Bergantinya menjadi, kualitas emosional. Yah, kemampuan dalam bersosialisasi mendapat peringkat tertinggi pula. Sehingga mereka yang mempunyai kemampuan emosional mumpuni, mempunyai peran dalam berinteraksi. Dan semakin ke sini, ke sini, penilaian pada seseorang bukan hanya lagi pada kemampuan emosionalnya. Namun pada kepribadian yang melekat pada diri. Kepribadian yang menjadi karakter. Karakter yang sangat menentukan perilaku. Apakah mereka baik, atau bukan.

“Hidup ini pilihan. Kita tidak dapatkan yang kita mau semuanya. Makanya, menjadi tahu dirilah. Pandailah mengenal diri. Berkorbanlah satu hal, jika memang ia menjadi bagian dari pilihan. Sebab, kita tidak selalu bisa bersama-sama melakukan sesuatu yang kita mau. Ada waktunya, teman pergi menjauh, lalu kita jadi sendiri… Maka, kenalilah siapa teman yang sejati. Teman sesungguhnya. Ia yang tidak pergi-pergi. Yang selalu dekat, di hati. Pikirkanlah. Temukanlah ia. Nikmati hari-harimu bersamanya. Bersenyumanlah, berbahagialah.”

Saat teman sejati belum kau temukan, maka temukan ia di dalam dirimu sendiri. Saat teman sejati sudah kau bersamai, maka perlakukan ia sebagaimana dirimu sendiri. Sebaik-baiknya, semampumu. Agar saat ia pergi nanti, engkau tidak menyesali apapun.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Teman Sejati

  1. Cinta punya bnyak teman sejati. Teman kul, tmn kampus, tmn main…mreka sll ada bhkan pd saat plg mnyedihkan dlm hdup Cinta…dan itu prsaan yg bgtu indah, sungguh tak prnah mrsa sndirian di dunia ini. Menyenangkan sampai terharu 😊

    Like

    1. Selamat yaa Cinta, 🙂 Bersama teman-teman memang menyenangkan. Semoga teman-teman kita sehat selalu yaa, bahagia di manapun mereka berada.
      Salam buat teman-teman cinta yaa… 😀

      Liked by 1 person

      1. Aamiin, terimakasih doanua…smga doanya kmbali kpd yg mendoakan, aamiin 😇

        Like

        1. Aamiin, iya sama-sama Cinta…. 🙂

          Liked by 1 person

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close