Di kotamu, tanggal 2 Januari…..

Aku mulai merangkai catatan ini setelah Maghrib. Selepas senja. Dengan sisa-sisa airmata yang masih membekas di lembaran pipi. Dalam kondisi mata terasa berat. Masih berat. Namun hatiku perlahan lega. Jiwaku ringan terasa.

Eh, tetiba airmata mengalir lagi, saat awal paragraf kedua ini ku rangkai. Airmata yang mengalir, menderas, menitipkan titik-titik beningnya di atas pangkuanku. Airmata yang semakin deras, mengguyur, seperti derasnya hujan tadi pagi.

Gerimisnya sungguh ramai. Kecil-kecil dan ringan, namun turun tiada henti. Sehingga untuk melanjutkan langkah-langkah kaki ini, perlu ku pakai payung. Payung berwarna merah hati, maroon.

Selangkah demi selangkah, kami bergerak. Sepayung berdua, kami. Sebab kami sejalur, walau berbeda lokasi aktivitas. So, menebengi teman dengan payung merah hati, aku laksanai. Sangat romantis, bukan? Aih! Sepertinya ini pagi paling romantis yang ku alami. Setelah hampir enam bulan di kota ini, tadi hujan turun sangat deras sejak pagi. Ya. Benar. Aku sangat ingat. Sebelum-sebelum ini memang hujan turun juga pagi hari, namun tidak pernah sederas ini. Sehingga untuk meneruskan perjalanan dengan jalan kaki, tidak pernah berpayung ria seperti pagi tadi.

***

Sebuah persimpangan, kami dekati. Simpang tiga. Dan berhubung lokasi aktivitas kami berbeda, maka kami pun berpisah sampai di sini. Temanku akan ke kanan, sedangkan aku ke kiri. Berikutnya, temanku akan melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota, sedangkan aku teruskan berjalan kaki.

"Oke, see you Kak," pamitku lalu melanjutkan langkah-langkah kaki. Sedangkan temanku masih berdiri di bawah kanopi sebuah toko, menanti angkutan kota. Beliau tersenyum penuh arti setelah ku menawari untuk menunggui sampai angkot yang akan beliau tumpangi datang. Supaya beliau masih bisa berlindung di bawah payung merah hati, saat menyeberang jalan menuju angkot nanti. Karena posisi beliau berseberangan dengan jalur angkot. Berhubung di seberang sana tidak ada tempat berteduh.

"Tidak usah, lanjut aja. Nanti kakak lari-lari aja," lebih kurang begini tanggapan beliau. Lalu memintaku lanjutkan perjalanan. Aku pun manut dan kemudian berlalu.

Di bawah payung merah hati, di antara rerintik hujan yang menderas pagi, aku melangkahkan kaki. Melangkah berhati-hati, agar tidak menginjak genangan air. Melangkah pasti, dengan memperhati sekitar kaki. Supaya tidak terjatuh ke selokan, atau tersandung bebatuan. Melangkah sepenuh hati, mensyukuri sejuknya alam ini. Melangkah di bawah hujan, merenungi setiap tetesnya. Hujan sebagai salah satu fenomena alam yang menenangkan hati.

Melangkahku lagi, sesekali membentangkan tangan kiri lebar-lebar. Sehingga titik-titik hujan menempel di telapaknya. Sedangkan tangan kanan tetap dalam kondisi awal, memegang tangkai payung dengan kuat. Sesekali juga, pegangan beralih ke tangan kiri. Selanjutnya tangan kanan yang mengembang, melebarkan diri. Membuka jemari, hingga ia pun merasakan tetesan air yang sejuk di telapaknya.

Asyik. Enjoy. Senang. Aku bahagia melangkahkan kaki. Hingga semua terhenti seketika.

Aku terdiam sejenak. Aku tertegun. Saat sebuah mobil cantik berwarna silver melintas di samping ku dan …………. ……………. ………… ….. terjadilah sebuah tragedi. Tragedi yang membuatku kelu. Bibirku mengatup. Sedangkan dua bola mata mengikuti arah mobil berlari. Ia hanya memandang, mengantar pergi sang mobil dan pengemudi hingga hilang dari pandangan.

Hati, hati, hati bagaimana? Ia malah tak berkutik. Tenang-tenang saja.

"Hei!!!!", ku sapa ia beberapa detik kemudian. Sapaan lembut, tapi berenergi. Namun hati masih terdiam.

Apakah ia tidak menyadari? Kondisi pakaian ini yang basah separuh badan?

Beberapa detik sebelumnya…

"Byuuuuurrrrr….", cipratan air dari sisi jalan yang menggenang, membasahi setengah badanku. Air menggenang yang tidak ku perhati dari kejauhan, tadi. Air menggenang yang saat ku berada di dekatnya, malah memandikanku, setengah badan. Dari pinggang ke kaki. Air menggenang di pinggir jalan yang ku lalui. Jalanan yang juga dilalui oleh mobil cantik berwarna silver.

Jalanan milik bersama. Aku melangkah di trotoar, sedangkan mobil di jalan lebar. Lalu, siapa yang salah dalam hal ini? Apakah aku sebagai pejalan kaki? Atau pengemudi mobil cantik berwarna silver yang mengendarai? Kami sama-sama memakai jalan umum. Jadi? Ya, terimalah wahai diri. Penerimaan sebagai konsekuensi dari pejalan kaki. Ke depannya, kalau berjalan di bawah hujan, apalagi hujannya deras sebelumnya, hati-hati yaa. Berbisikku pada diri, di sepanjang perjalanan kami.

Aku melanjutkan perjalanan pagi dengan sepenuh hati. Sama seperti sebelumnya. Ku langkahkan kaki dengan teliti. Menghindari lobang, menghindari bebatuan di sepanjang jalan. Menepi saat ada kendaraan. Menyeberang saat jalanan sepi. Sesekali, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Memperhati segala yang ada, menikmati indahnya alam ini. Sungguh, pagi ini sejuk sekali. Kesejukkan yang bertambah-tambah. Kesejukkan berganti dingin.

Dingiiinnnn…. dingiin zekallee. Namun ku afirmasi diri untuk tetap hangat. Walau setengah badanku basah. Ah, terkadang aku begini. Tidak apa terdzalimi, kalau pengemudi menyengaja. Atau mungkin pengemudi tadi tak sengaja. Beliau mungkin tidak melihat seorang pejalan kaki sedang melangkah di samping genangan air. Pas sudah! Ini musibahkah? Ku harap ini menjadi hikmah. Semoga berujung shalehah… yaaa, amiin ya Allah.

Dalam kondisi pakaian basah, aku bergumam menemukan makna. Ku tanya diri dan sekeping hati. Apakah ia sudi dengan keadaan ini? Berbasah-basahan lalu kedinginan? Karena aku tidak bawa baju ganti. Kecuali hanya sepasang kaus kaki yang memang sudah ku persiapkan sebelum berangkat. Karena ku memprediksi kaus kaki yang ku pakai semula akan basah semua oleh air di sepanjang perjalanan. Kaus kaki krem sebagai ganti yang ku simpan rapi di dalam tas.

Dingin, basah, masih ku alami hingga beberapa jam kemudian. Dengan tidak merasai dingin. Dengan mengatakan bahwa hari ini ku tidak boleh rusak oleh tragedi tadi. Dengan berkata pada diri, bahwa Senin pagi ini adalah hari yang indah. Dengan sekuntum bunga senyuman yang ku jaga mekar di wajah, ku teruskan melangkah. Hingga akhirnya sampai juga di bawah atap tempatku beraktivitas beberapa waktu terakhir. Di bawah atap sukses yang membangunkanku saat terlelap dalam mimpi siang. Di bawah atap sukses yang tidak ku datangi tanpa usaha. Namun ada perjuangan, juga pengorbanan untuk mencapainya. Ada niat sebelum mendekatinya. Dan saat kedekatan kami seakrab ini, ku syukuri lagi hari ini. Syukur yang menjadikan segala proses yang ku tempuh saat menujunya menjadi ringan. Syukur ini yang ‘mungkin’ menenangkanku sepanjang jalan sejak tragedi kebasahan ku alami. Hingga sore menjelang. Aku pun lupa kejadian pagi tadi. Sampai pakaianku kering di badan. Setelah duduk manis seharian menjalani waktu yang berkesan.

Sepanjang hari, pagi hingga sore pun berlalu. Aku pun bersiap kembali. Masih sama seperti berangkat, pulang ku jalan kaki lagi. Namun bukan melewati jalan pergi. Karena ku ingin menyaksikan perjalanan berbeda hari ini.

Hati-hati ku melangkah. Berseri-seri di wajah. Kering pakaian yang tadi basah. Senang kembali ke rumah. Rumah tempat menenun segala gundah. Meluruhkan semua resah. Menumpahkan rasa yang siap meluah. Bersenda gurau dengan penghuni rumah. Pun, menjadi tempat terindah untuk beribadah. Walau sesungguhnya, tempat ku kembali adalah persinggahan, ku jadikan ia rumah.

Di rumah, ibadah berlanjut. Seiring waktu, sendu menerpa kalbu. Ku ingat perjalanan sehari tadi. Untuk ku evaluasi segala langkah. Hingga sampai ingatan pada kejadian pagi yang membuatku basah.

Ya Allah… Engkau Maha Pemurah, mohon… ku mohon… mohon ampunkan yang salah, beri hidayah hamba-hamba-Mu yang sedang melangkah, menjadi sebaik-baik khalifah. Hingga kembali kami bersua di jannah… saling bersenyuman sumringah. Karena ada bungah merekah menghiasi wajah. Ya Allah… semua ada hikmah, bisikku di antara tetesan airmata membanjiri wajah. #After-Shalah-Magrib

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s