Cinta ini Membuatku Berwarna

My Surya
Cinta Mentari Pagi –

Rangkaian kata yang menjadi judul catatan saat ini, ku temukan pada sudut search term today. Siapakah yang melakukan pencarian dengan kalimat tersebut? Aku menanya, seraya mensenyuminya. Sebuah kalimat singkat penuh makna. Sebuah kalimat indah sederhana. Sebuah kalimat yang mengingatkanku pada diriku sendiri. Kalimat pendek saja. Yah. Kalimat yang menarik saat mataku tertuju padanya. Sebuah kalimat yang sangat ku suka. Maka, ku jadikan ia sebagai judul, supaya mudah terlihat dan terbaca lebih awal saat ku berkunjung lagi pada catatan ini, kelak.

Entah kapan.

Kalimat pada judul ini ku sukai, karena ku pikir-pikir iya juga. “Cinta ini membuatku berwarna.” Yah, warna-warni yang ku perhati, menghiasi diriku. Warna-warni yang mungkin tidak terlihat, namun ia ada bersemi di dalam diri. Warna-warni yang menari-nari dalam ruang hati, mengubah wujud menjadi binar-binar pelangi di bola mata. Sehingga, kerling-kerling mataku saat ia berkedipan memandangimu, menampakkan pemandangan yang sangat indah.

Ya, aku lebih berwarna, dengan cinta.

“Aku mengenalnya sebagai seorang yang ‘polos’, lurus-lurus saja, tidak neko-neko. Kalau iya,  iya. Kalau engga, engga.”  Sebuah kalimat yang baru ku dengar dari lisan beliau, saat beliau berbicara denganmu. Engkau kawan baruku saat beliau berbicara padamu seperti itu.

Engkau yang beliau ceritai beberapa sisi tentang diriku.

Aku pun mengetahui tentang penilaian beliau terhadapku, baru-baru ini. Sejak ada engkau. Lalu, kalau engkau tidak ada dalam duniaku, apakah mungkin aku mendengar kalimat tersebut yang beliau sampaikan tentangku?

Sedangkan aku mengenal diriku sejak lama sebagai seorang yang tidak banyak bicara, mudah menerima dan mudah ikut-ikutan. Sering plin-plan dan suka ikuti kata hati. Ke mana mau pergi, ya aku pergi ke mana ku suka. Walau sendiri, meski ke tempat yang sangat asing dan belum pernah ku kunjungi.

Begini aku mengenal sisi lain dari diriku.

Lalu, untuk beberapa waktu tertentu, aku mulai melihat ada warna-warna lain pada diriku. Warna-warna yang engkau titipkan sejak menemuiku. Engkau teman-temanku. Engkau orang-orang penting yang mampir dalam kehidupanku. Engkau orang-orang hebat yang ku temui. Engkau orang-orang asing yang ku perhatikan dari kejauhan. Engkau orang-orang baik yang membaikiku.

Siapapun engkau adanya, engkau membawa warna tersendiri dalam kehidupanku. Apakah saat aku yang mendekatimu, atau engkau mendekatiku. Maka, sudah jelas, sebuah warna engkau bawa, bersama dirimu. Warna yang unik. Sehingga warna-warnimu menebar di sekelilingku, seiring dengan semakin banyak orang-orang yang berinteraksi denganku.

Sungguh, aku cinta warna-warni itu. Warna-warni yang engkau bawa bersama cinta.

***

Aku mengenalimu, belum lama. Kalau pun mau ku hitung angka-angkanya masih sedikit. Yup, belum mencapai hitungan puluhan, bahkan. Begitu barunya usia perkenalan kita. Perkenalan yang berhiaskan warna-warni kisah hidup yang engkau bawa. Perkenalan yang ku hiasi pula dengan warna-warni kisah hidup yang ku bawa. Lalu, kita pun larut dalam perkenalan lebih akrab dan dekat. Kedekatan yang membuat kita semakin mudah mengurai kisah lebih mudah. Kedekatan yang memberimu ruang untuk menempati sesudut ruang hatiku di sini.

Sungguh, senang dan bahagiaku atas kehadiranmu dalam hatiku.

***

Senang rasanya. Yah, lagi lagi senang. Aku senang bertemu denganmu. Kita bercakap bertukar kisah, berbicara berbagi hikmah. Aku senang saat engkau menceritaiku tentang kisah-kisah yang engkau tahu, lalu engkau ambil hikmahnya untuk engkau bagi padaku. Engkau juga bercerita padaku tentang pengalaman-pengalaman hidupmu yang ‘mungkin’ untuk menjalaninya aku belum tentu. Engkau juga memberiku wejangan-wejangan penuh makna, untuk ku santap menjelang lelapku. Pun, tidak jarang juga selepas subuh menjelang mentari menyinari alam, engkau datang menemuiku, dan kemudian kita bercengkerama gembira.

Bahagia rasanya. Ya, lagi dan lagi bahagia. Aku bahagia kita bersapa, saling bertukar suara. Kita bertukar suara tentang dunia, bertukar bahasa melalui nada-nada. Hingga pada suatu ketika, engkau berkata, bahwa engkau tidak lagi dapat mendengar suaraku.

Mengapa?

Karena ternyata dunia kita berbeda. Tanpa kita sadari, terlalu banyak hal-hal antik antara kita yang membuat suaraku tidak lagi mengalir. Sungguh banyak kejadian-kejadian unik yang ku temukan padamu, sehingga tidak mampu ku berkata-kata karena terpana. Sebab tidak dapat ku percaya, masih belum percaya, bahwa kita bisa bertukar bahasa. Maka, aku pun menjadi kelu tak berbicara. Walau begitu, tahukah engkau bahwa, sesungguhnya masih banyak yang mau ku sampaikan padamu tentang segalanya. Tentang keterpesonaanku atas teguhmu meniti masa. Tentang ketegaranmu menjalani sisa-sisa waktu di dunia. Di antara derita, di antara airmata. Tentang keberanianmu meneruskan langkah walau tanpa sesiapa. Tentang kekaguman yang hingga saat ini masih ku jaga.

Ya, walau hingga saat ini, engkau tidak dapat lagi mendengarkan suaraku. Walau engkau tidak pernah tahu, alasan pita suaraku tidak lagi mampu mengalirkan nada-nada terindah di telingamu. Sesungguhnya masih ada suara yang teralirkan untukmu. Suara yang ku rangkai melalui kalimat-kalimat sederhana dalam waktu-waktu luangku. Suara yang nada-nadanya masih bisa engkau simak. Semoga engkau mengetahui bahwa semua ini untukmu. Supaya engkau mengetahui, bahwa aku berbicara denganmu.

Saat ini, ku sampaikan padamu bahwa masih ku terkesan dengan kisahmu. Masih ku berbahagia dengan cerita-ceritamu. Masih ada makna yang ku coba pahami dari nada suaramu saat menyampaikan sapa. Dan masih ku ingat pesan-pesan terbaikmu, untukku. Pesan sekaligus kesan yang mengesankan, dan ku renungi. Apakah benar demikian adanya aku? Saat engkau berbicara tentang diriku, menurut pandanganmu. Sesuai penilaianmu terhadapku. Ah, penilaianmu ternyata berbeda lagi.

Aku sungguh terkesan dengan kebaikan-kebaikan yang sampai padaku. Kebaikan-kebaikan yang membuatku berekspresi pada saat itu juga. Yah,

  • Seperti anak-anak mendapat hadiah dari orang tuanya, seperti demikian juga bahagiaku menerima kebaikan-kebaikanmu.
  • Seperti anak-anak yang diizinkan orangtuanya berlarian di bawah hujan. Mereka tertawa ceria, bergembira sambil berteriak-teriak kegirangan. Seperti itu juga rasa yang ku punya dalam berbagai kesempatan engkau menyapaku.

Lalu kita asyik berbagi kisah dan cerita, tanpa tahu : Bahwa setelahnya ada deru gemuruh di ruang kalbu, ketika semua terhenti. Karena kita maunya bertukar suara lebih sering, bercerita lebih sering, berbagi kisah lebih sering, berjumpa lebih leluasa. Namun mana bisa… karena ada dunia lain yang sedang kita diami. Dunia kita tidak sama.

Aku sungguh terkesan dengan wajah-wajah yang ada di hadapanku. Wajah-wajah yang membuatku bertanya pada saat itu juga. Yah, seperti anak-anak mendapat pandangan berbeda dari orang tuanya. Pandangan yang tetiba membuatnya berekspresi penuh tanya. Karena wajah yang ia terima tidak bersinar namun cemberut atau mengkerut karena tidak sudi dengan tingkah laku anaknya. Lalu, anak-anak tersebut pun ‘takut’ lalu menangis. Maka, seperti demikian juga yang ku alami, saat engkau ku temui bersama wajah ‘kecut’. Saat itu, aku memang tidak menangis seperti anak-anak, namun ku bertanya sepenuh tanya, “Ada apa dengannya?” Apa yang terjadi baru saja?

Lalu kita terhanyut lama dalam percakapan tanpa ekspresi yang berarti. Diam terlalu lama, atau ku sering memperhatimu, seraya menggumam sendiri, kapan keadaan seperti ini akan terhenti? Dengan situasi yang mencekam begini? Karena ada wajah-wajah berikutnya yang ku harap bertemu, wajah penuh senyuman, bukan wajah yang ada di hadapanku seperti ini.

Apakah ini pikiran yang ada pada anak-anak?  Mereka senang dengan keceriaan. Mereka sedapat mungkin berjauh-jauh dengan kejengkelan dan ketidaksenangan. Makanya dunia anak-anak penuh emosi, yaa. Bila tak mendapat keinginan, merajuklah mereka sampai terkabulkan pintanya. Menangis mereka sejadi-jadinya saat ada yang melukai hatinya. Namun ekspresi tersebut cepat pula hilangnya, kalau sudah terobati segera. Karena anak-anak tidak menyimpan kesal dan dendam di dalam hatinya. Mereka sangat mudah memaafkan. Sehingga keceriaannya tulus, kesedihannya juga asli.

Sejak ku menyadari bahwa engkau maya, maka seribu cara ku cari tahu untuk tidak melekat denganmu. Seribu cara ku usaha agar kita tidak sedekat yang kita mau. Seribu cara ku lakukan agar ku mengerti, bahwa kita tidak akan benar-benar bersatu. Kecuali ketentuan-Nya menghendaki, kita pun bertemu. Ah, kalau jodoh siapa yang tahu.

Sejak ku menyadari bahwa engkau maya, maka sedapat mungkin ku upaya berbagai cara agar setiap kali ku rindu padamu, merangkai suara yang masih tersisa untukmu, ku lakukan. Agar saat rindu menyapa, tidak melulu meluruh bulir bening permata kehidupan di pipiku. Lalu hilang tanpa bekas seiring meluruhnya rindu.

Tidak, tidak, mauku tidak begitu. Namun ku ingin, rinduku mewujud sebuah prasasti tentangmu. Sehingga ku mampir juga ke sini sesekali, untuk ku prasasti tentang ia. Agar ku tahu, nanti, di masa-masa berikutnya. Bahwa kehadiranmu bukan tiada arti dalam kehidupanku. Namun sangat berharga.

Engkau bermakna.

Untukmu yang menghiasi beberapa waktu dalam perjalanan hidupku. Walau kita tidak bertukar suara dalam bicara, lagi. Namun percayalah bahwa ku masih dan sedang berbicara denganmu. Untuk menyampaikan segala uneg-unegku tentangmu. Untuk merangkai setangkai dua tangkai pengalaman yang engkau bagi padaku. Untuk menghiasi ruang hariku, dengan senyuman. Karena ku tidak ingin airmata saja yang menemaniku saat ingatan padamu menemuiku. Namun senyuman menjadi pelega jiwa, sebagai bukti bahwa engkau berarti bagiku.

Saat ku mengingatmu, kisah-kisahmu, perjuanganmu, pengorbananmu, meneteslah airmataku pelan. Hanya membayangkan semua, karena ku tidak mengalaminya (atau belum). Sedangkan ruang hatiku tenang, damai, adem. Apakah yang terjadi denganmu saat ingatan padaku mengunjungi ruang pikirmu? Bagaimana kondisi hatimu?

***

Saat ingatanku padamu hadir, maka hanya mampu ku berdoa untuk kebaikanmu. Walau kita tidak lagi sapa bersapa atau bertukar suara berbagi cerita. Karena aku mencintaimu, ternyata. Cinta yang ku pelajari. Cinta yang hadir sejak engkau menjadi bagian dari sepotong episode perjalanan hidupku. Cinta yang mewarnai hariku dengan warna yang engkau bawa. Terima kasih ya, untuk masih ada di dunia dan masih berwarna.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s