“Kalau engkau mutiara, maka kilaumu akan terpancar saat bersua dengan terik mentari yang sampai padamu. Engkau akan terlihat karena sinarmu yang asli.”

***

“Lebih baik kita bersedekah pada orang yang tepat, dari pada kita bersedekah pada teman-teman yang dekat. Sejenis traktiran-traktiran, sedapat mungkin, janganlah… Walau sedikit-sedikit, namun kalau sering, tentu jumlahnya banyak kalau sudah setahun, khannn?,” Hahaaa, 😀  benar juga, gumamku.

Aku tertawa seketika. Secuplik kalimat yang ku simak. Kalimat yang ku hayati. Ku dengarkan dengan hati. Lalu, aku pun mengiyakan. So, maaf ya teman-teman, untuk awal catatan yang seperti ini. Bukan bermaksud untuk tak meneraktirmu lagi. Namun ternyata aku baru tahu dan menyadari, ternyata sedekah kita harus pada orang yang tepat. Bukan malah pada teman-teman yang dari segi materi, ia malah melimpah. Tapi berpikirku lagi, bukankah teraktiran yang sesekali adalah wujud dari persahabatan sejati dan kebersamaan? Lagi-lagi ku membela diri. Seakan belum mendalami  kalimat pada awal paragraf ini. 

“Apapun yang kita inginkan untuk kita miliki, maka tidak ada cerita tidak kita dapatkan,”  Iya, aku membenarkan. Kalau kita benar bersungguh-sungguh. Kalau kita mau berkorban. Jika kita mau berjuang, berpeluh lelah, demi mewujudkannya. Atau melalui usaha sederhana yang kita rutinkan, misalnya dengan mengurangi biaya makan dalam sehari, jumlahnya setahunkan, maka kita dapat menyisihkannya sebagai tabungan.

Eh, tapi jangan sampai pelit pada diri juga, yaa.

Bisa, bisa, bisa, kalau kita mau dan benar-benar yakin. Maka kita dapatkan yang kita inginkan. Cara lainnya, yaitu, jangan beli barang yang tidak benar-benar kita butuhkan. Jangan belanja sesuatu yang diluar keperluan. Jangan tergoda untuk berbelanja dan berfoya-foya. Pintar-pintarlah dalam mengelola pengeluaran. Pandai-pandailah dalam mengatur alokasi biaya untuk kebutuhan.

“Tidak dapat tidak, tercapailah keinginan yang kita impikan. Aku sudah membuktikan,” tutup beliau seraya bangkit dan siap-siap meneruskan perjalanan lagi.

***

Betul-betul. Dalam kehidupan ini, kita mempunyai pilihan-pilihan. Pilihan-pilihan yang membawa kita pada pergerakan. Pergerakan yang kita berdayakan dengan segenap kemampuan. Kemampuan optimal yang kita lakukan demi memenuhi kebutuhan. Kebutuhan demi kebutuhan yang tidak sekali hadir, namun berkesinambungan. Silih berganti, ia datang menemui kita. Setelah satu tercapai yang berikutnya berkunjung, mendekati. Saat satu tergapai, yang lainnya menghampiri, menyalami. Dengan begitu, kita perlu meneruskan usaha lagi, seiring dengan kebutuhan yang datangi diri. Seiring dengan usaha, maka kita memenuhi kebutuhan demi kebutuhan, satu persatu.

***

Benar, terdeteksi jelas. Bahwa mereka, sesiapapun yang saat ini kita lihat berjaya, tentu di masa-masa dulu mereka penuh perjuangan dalam menaklukkan dirinya. Bersama kesedihan, kepedihan, kemelaratan, pun kesulitan yang menempa diri. Namun, semua menjadikan nyali mereka bangkit lagi, berusaha dengan sepenuh hati, berjuang tiada henti. Hingga tertemukan pada wajah-wajah berseri beliau saat menceritai, suara bening tanda kelegaan hati. Saat mengisahkan tentang peliknya zaman-zaman berdikari. Saat menguraikan cerita tentang awal perjalanan di perantauan. Saat menguraikan pengalaman tentang kesusahan. Ah, benar adanya. Mereka yang sukses, adalah mereka yang bangkit lagi berdiri, lalu menatap mentari dan berkata lantang, “Ku akan tersenyum secerah sinarmu di kemudian hari.”

Aku tertawa-tawa karena geli, saat menyimak kisah yang beliau sampaikan. Seorang laki-laki muda dan usianya ternyata tidak jauh berbeda denganku. Namun saat ini sudah punya rumah sendiri, beristri dan beri kami pengalaman berarti.

Yups, beliau bercerita di sela-sela waktu kebersamaan kami. Beliau yang menemui kami di sini. Siang hari. Saat mentari bersinar terik. Beliau yang mungkin tak menyadari, sudah menitipkan inspirasi. Karena secara tidak langsung kehadiran beliau mensenyumkanku saat ini. Tersenyumku karena dengan logat khas daerah yang kental, beliau bercerita di hadapan kami. Cerita seperti di atas, yang ku simak dengan sepenuh hati. Maka, kalau ada kebaikan di dalamnya, semoga menjadi amal jariyah buat beliau. Namun saat tidak tertemukan makna berarti di dalamnya, kembali lagi pada diri pribadi. Sesungguhnya ku sedang mencoba menghayati kebersamaan kami. Ya, dengan memetik inspirasi, lalu merangkainya dalam catatan, begini.

Awal kehadiran beliau tadi, dengan ekspresi loyo dan langkah gontai. Ku sambut beliau dengan senyuman seraya menanyai kabar terkini. Lalu, mengalirlah kisah seperti air mengalir. Berhiaskan juga ekspresi yang tidak mudah ku prediksi. Sungguh ternyata, ada kisah di balik sesosok pribadi. Benar, benar, setiap kita punya cerita dalam menjalani hidup ini.

Engkau yang menitipiku pesan begini, menjadi mentari di ruang hati. Sebab, dengan segala yang engkau sampaikan, tercerahkan ia lagi. Terbuka lagi ruang pikir tentang cara memandang hidup ini. Teruslah bersinar, di manapun engkau berada. Memberi tanpa engkau tahu, ada yang terberi. Bercerita tanpa engkau duga, ada yang menerima.  Karena yakinlah, selama niatmu baik, maka kebaikan yang engkau terima.

Selama engkau berbagi, maka kebahagiaan yang engkau bawa. Dan kebahagiaan itu terlihat jelas dari ekspresi beliau saat meninggalkan kami lagi. Wajah berseri penuh senyuman. Kerling bola mata yang penuh makna. Dan beliau pun berlalu dengan bahagia yang tidak dapat ku terka, dalamnya. Sebab bahagia ada di dalam hati, terpancar pada wajah. Dan kebahagiaan ku saksikan dari wajah beliau yang tersenyum. Senyuman cerah, berbeda dari ketika beliau datang tadi.

Selamat jalan mentari, untuk menyinari . . .  (lagi).

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s