Lagi, Tentang Syukur

my-suryaYuks, kita kembali menghitung syukur. Syukur yang tidak berwujud, namun kita dapat mewujudkannya. Syukur yang terlihat dari keseharian kita. Syukur yang terpampang jelas pada aktivitas-aktivitas yang kita lakukan. Syukur yang tergambar jelas pada ekspresi dalam keseharian kita. Syukur yang sangat mudah kita deteksi dari diri kita.

"Akhir-akhir ini, aku sering menanya diri. Seberapa sering aku bersyukur?"

Ya, bersyukur atas hidup ini. Bersyukur atas kesempatan-kesempatan yang datang dan kemudian pergi. Syukur atas kesempatan yang selewat datang di depan mata, namun tidak aku rengkuh dengan segera. Syukur atas kesempatan kecil yang menyapa, lalu aku dekap seerat-eratnya. Syukur atas kesempatan yang belum datang-datang sehingga aku masih menjaga harapan atasnya. Syukur atas kesempatan yang mungkin tidak aku sadari, saat ia datang menghampiri. Syukur, atas banyak lagi hal-hal yang tidak mudah terdeteksi.

Syukur yang mengajak aku ke sini lagi, untuk menari-nari meski sekejap. Menarikan jemari walau sesaat. Karena aku pikir, masih bisa berkunjung ke sini, ada wujud syukur yang aku miliki. Maka, saat aku ada di sini, apakah yang aku lakukan? Apakah hanya mejeng-mejeng gak jelas, lalu tebar-tebar pesona? Haahaaahaaaa… 😀 Aku spongebob bermata dua.

Atau ada sebersit dua bersit kata hati yang tertinggal? Ah, sejauh ini aku masih dan selalu belajar lagi. Mengenali segala yang terjadi di sekitar dan kemudian merekapnya dalam tulisan. Seperti rangkaian motto hidup yang pernah aku rangkai dulu, di tahun-tahun berlalu. Motto hidup yang aku susun sedemikian rupa, kemudian beriringan dengan visi dan misi yang terjalin sambung menyambung. Yaph, kiranya yang aku lakukan dalam berbagai kesempatan waktu mampir di sini, selaras dengan visi dan misi tersebut. Walau belum seutuhnya sempurna, namun setidaknya tidak melenceng jauh, lah yaa. Oiyhaaa, sebenarnya apakah motto, visi dan misi yang aku susun dulu-dulu itu?????

Sempat pada beberapa waktu luang, aku mencari-carinya. Supaya aku teringatkan lagi dengan segalanya. Agar aku kembali ke jalur yang sebenarnya. Sebab, visi dan misi tersebut, bisa diibaratkan sebagai jalan yang aku lalui, untuk sampai pada tujuan. Berikut visi dan misi yang sering aku intip-intip. Karena ia menjadi rambu-rambu dalam melangkah. Rambu-rambu yang aku pasang pada sisi-sisi jalan yang aku lalui saat melanjutkan perjalanan. Rambu-rambu yang aku senyumi, karena ia ada untuk mengingatkan diri. Siiiip, sesekali flashback, kiranya menjadi pemicu semangat untuk melangkah lagi. Karena ia menjadi kaca spion dalam perjalanan hidup ini. Melihatnya sesekali, supaya teringat lagi. Memperhatikannya sebentar saja, kemudian fokus lagi pada aktivitas hari ini. Dengan tidak lupa memandang jauh ke depan.

Atas segala yang ada, apakah yang dapat aku syukuri? Bagaimana cara aku bersyukur? Salah satunya ya, dengan hadir lagi di sini. Meski sejenak, walau untuk merehat raga saat ia lelah melangkah.

Aku ke sini, untuk sejenak duduk berjuntai di sebuah bangku panjangnya. Seraya memperhatikan sekitar dan menikmati cemilan berupa sebutir donat. Atau, menyantap sebungkus keripik ubi kriuk nan pedas rasanya.

Yah, saat ini ku mampir ke sini menikmati sepoi angin bersemilir di pipi. Memperhati kendaraan yang berlari berkejaran saling mendahului. Menyaksikan pemandangan-pemandangan lucu yang sekelebat melintas di depan. Saat seorang laki-laki separuh baya menikmati gaya berjalan pura-pura tergelincir di penurunan landai sedikit licin, lalu tanggap bergerak dan berlari-lari kecil untuk menyeimbangkan badan lagi. Aku tersenyum simpul menyaksikan pemandangan ini.  Karena bagiku, ia menjadi lelucon menghibur diri. Karena jarang-jarang kan, ada pertunjukan di depan mata yang khusus tercipta buat kita sendiri? Dan momen ini menarik untuk ku abadi. Untuk mengingatkan diri lagi tentang penantianku di sebuah kursi besi. Di sini, di sudut halte bis.

Kemudian, aku juga mampir di tempat lain di sini. Aku melangkah. Melangkah untuk meneruskan perjalanan lagi. Karena kaki-kaki ini sangat gemar bergerak di atas bumi. Untuk ia susuri jalan-jalan beraspal, atau jalan berpasir lembab karena sisa hujan semalam. Ia suka juga menginjak genangan air yang dangkal, lalu menekan alas kaki lama sekali, dan kemudian menyisakan jejak di sana. Lalu beberapa saat berikutnya, kaki-kaki ini sudah melangkah lagi di jalan berikutnya yang berbeda.

Pun aku juga pernah mampir di sini. Di sebuah jalan lurus. Jalan yang masih kosong dan tiada sesiapa di sekitar. Nah, dalam kondisi ini, ku nikmati nuansa alam nan sunyi seraya memejamkan mata sesekali. Lalu menghirup segar udara pagi.

Di sini juga, aku senang bisa kembali lagi. Untuk memperhatikanmu yang asyik dengan duniamu. Engkau yang sedang duduk-duduk seraya menyeruput segelas teh manis hangat. Di sekitarmu juga terlihat sebungkus roti stroberi. Lalu, beberapa saat kemudian, engkau sibuk menikmatinya. Menggigit roti sedikit demi sedikit, lalu menyeruput teh sedikit sedikit juga.

“Ah, lama sekaliii habisnyaaaaaaa, gumamku di dalam hati. Saat ku perhati, engkau menikmatinya seraya memperhati gejet yang ada di genggaman tangan kiri. Sebuah pemandangan yang tidak asing lagi akhir-akhir ini. Seperti mereka-mereka yang ku perhati lainnya, engkau pun melakukan aktivitas serupa, ternyata. Bersantap sarapan pagi sambil memantau alat komunikasi.

Di sini, aku juga senang. Senang menyimak curhatan seorang, dua orang, bahkan beberapa orang teman. Bukan aku yang menjadi objek curahan hati, sebenarnya. Namun karena aku berada dalam lingkaran yang kami buat, maka aku pun mengikuti alur cerita mereka. Dari  curahan hati yang teman-teman sampaikan, aku pun mengerti. Bahwa, cara pandang kami berbeda-beda terhadap cara orang tua menjaga kami.

Yang satu dikekang habis-habisan oleh orang tuanya, sehingga harus curi-curi waktu untuk bisa lepas dan bebas berlari menjelajah bumi. Lalu yang seorang lagi mendapat tanggapan biasa-biasa saja dari orang tuanya, tentang pergaulan, tanpa perhatian berlebih. Tidak mengikat erat, juga tidak melepaskan bebas. Sedangkan seorang lagi, sangat pintar mengambil hati orang tua. Sehingga senanglah hatinya bisa kian kemari mengikuti kata hati. Dan yang seorang lagi adalah aku, yang begini adanya. Apakah kebebasan yang aku peroleh dengan begini? Atau apalah namanya yaa? Intinya, dari semua yang kami alami, ada satu titik yang sangat menentukan keberadaan kami di sini. Hingga kami dapat bersama, saling berbagi cerita tentang masa-masa muda yang berwarna, tentang hari-hari rumit nan pahit, hari-hari manis nan mengesankan, hari-hari teduh nan mencekam, hari-hari penuh kejutan mencengangkan, juga tentang rasa-rasa yang hadir. Terkadang sakit, terkadang menangis, terkadang tertawa, terkadang ceria berbahagia. Namun ujungnya menanti senyuman bersama kenangan yang tidak akan pernah hilang dari ingatan.

Di sini juga, dari sudut lain bumi tempatku berpijak. Aku sedang sibuk menjadi pendengar yang baik bagi sahabat tercinta dekat di mata. Ia yang dari segi usia, tidak berbeda jauh denganku. Ia yang sering ku bersamai dalam berbagai kesempatan terbaik. Ia yang menceritaiku tentang hari-harinya dengan keluarga. Ia yang menitipkanku pesan-pesan bermakna tentang rumah tangga. Ia yang secara tidak langsung, mengingatkanku pada semua impian-impian lama. Ia yang datang di depanku, bukan begitu saja. Namun untuk memberiku pesan bermakna berharga tinggi. Ia yang belum tentu membersamaiku seperti kebersamaan kami yang penuh kesan, kalau saja ku tidak mengambil sebuah kesempatan yang datang sekelebat di hari-hari lalu. Maka, aku bersyukur sering menjadi objek baginya untuk menyampaikan segala rasa. Hingga, kebersamaan kami ku jadikan sebagai salah satu jalan syukurku. Syukur yang membuatku tenang dan nyaman bersamanya, menghayati pesan-pesannya, menghiburi kegelisahannya, menguatkannya di tengah kelemahan mendera. Syukur juga yang menarikku untuk ‘memaksa’ diri mau berlama-lama membersamainya, demi menyelesaikan ia yang bercerita. Ya, di sini aku bersamai ia awalnya terpaksa, namun seiring  waktu menjadi tidak terasa. Ternyata kami sudah berjam-jam duduk berdua.

Agar kita mau menemukan jalan syukur, maka Dia beri kita ujian berupa-rupa. Ada yang indah coraknya sehingga kita bahagia menjalani. Namun terkadang seakan buram tanpa penerangan, supaya kita mau menemukan seberkas sinar di sana. Karena apapun yang kita alami, pasti ada makna. Tentu tersimpan hikmah dan pesan untuk kita. Mengingatkan kita lagi tentang syukur yang ‘mungkin’ terlupa.

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close