Melangkah pagi hari dengan semangat, adalah sebentuk syukur ku kepada-Nya. Berjalan lagi dan melangkah dengan anggun, menjadi sebentuk terima kasih ku pada orang tua. Beliau yang mengizinkanku melanjutkan perjalanan, walau kami berjauhan. Maka, segala yang ku laksana untuk kebahagiaan beliau. Mensenyumkan beliau melalui cerita yang ku bagi. Cerita-cerita yang beliau simak dengan antusias, membuatku mengalirkan kisah dengan lepas.

Lepas. Hanya pada beliau ku mampu bercerita selepas ini. Setelah ku alami segala yang ku jalani. Ku bagikan pada beliau kisah-kisah yang ku temui, termasuk sesiapa saja yang menemani. Baik yang memberiku inspirasi, maupun yang menitipku setetes kritik dan juga peringatan. Supaya apa? Agar ku ingat, bahwa saat ini ku sedang meneruskan perjuangan di bumi. Agar tidak terbang tinggi ke angkasa ku punya pribadi. Padahal diri ini masih menjejak bumi. Agar kembali tahu diri dan mengerti situasi, bukan malah lupa diri dan tidak mengenalinya. Beliau sering mewanti-wanti tentang hal ini.

Sungguh. Sungguh, beliau bahagia saat ku ceritai. Bahwa di sini ku bertemu orang-orang yang baik hati. Baik yang muda usianya maupun yang sudah berusia lanjut. Namun dengan senang hati mengingatkanku lagi tentang cara berinteraksi. Sungguh akhirnya ku mengerti, bahwa doa-doa beliau senantiasa menemani. Saat ku tersudut di jalanan berduri, maupun berlari di jalanan datar beraspal. Semua ku jalani bersama ingatan pada beliau yang sering membaiki.

Orang tuaku senang sekali, saat ku berbagi pada beliau tentang hari-hariku di sini. Beliau gembira dan tersenyum lega, kala ku sampaikan tentang nasihat-nasihat berarti yang ku petiki. Begitu pula dengan kebersamaan kami yang akrab. Beliau menjadi tidak meragukan lagi. Bahwa di sini aku berada di lingkungan yang baik.

***

Akhir-akhir ini, aku menjadi lebih dekat dengan adik laki-lakiku. Ya, dia yang sudah jauh-jauh hari berada di kota ini. Kota yang jaraknya tidak dekat dengan kampung halaman kami. Namun lumayan lah. Karena untuk pulang dan pergi membutuhkan waktu sehari penuh untuk kembali.

Dia, sebut saja Oddy. Oddy adalah adik laki-lakiku satu-satunya. Oddy juga anak terakhir dari orang tua kami. Sehingga saat pertama kali Oddy merantau ke sini, dapat ku mengerti bagaimana kondisi psikis orang tua kami. Ditambah lagi dengan kami kakak-kakaknya yang lain, juga merantau ketika itu. Yap, kami beterbangan ke lain negeri. Namun kondisi sendiri tidak lama beliau alami. Karena beberapa waktu setelah Oddy merantau untuk pertama kali, kakakku Onna kembali ke rumah. Dan tidak berapa lama kemudian, beliau pun menikah dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang pernah merantau juga, dan semenjak pulang ke kampung halaman dan menikahi saudara perempuanku, beliau tidak merantau lagi. Sehingga, mereka berdomisili di kampung halaman. Hingga saat ini sudah mempunyai dua orang putri yang lucu-lucu. Suatu kondisi yang melegakan kami. Karena orang tua kami tidak sendiri lagi. Banyak yang menemani. Sebagai penghibur beliau di kala sepi. Sebagai peneman beliau agar tidak sunyi. Semoga hari tua beliau berseri-seri dan semakin berbinar dari hari ke hari.

***

Pada masa kecil kami dulu, orang tua kami adalah petani. Petani yang rajin dan tekun sekali. Sehingga wujud bakti kami pada beliau saat masih kecil adalah dengan belajar dan berprestasi di sekolah. Alhasil, di ujung tahun ajaran, tidak mengecewakan beliau. Karena ada yang kami bawa sebagai hadiah buat beliau. Yaitu nilai-nilai cantik tanpa warna merah. Berikut prestasi sebagai siswa yang baik.

Sejak kecil pula, kami semua belajar untuk saling melindungi. Kami belajar tentang kekeluargaan dan makna persaudaraan. Kami belajar tentang arti kakak dan adik dalam keluarga. Walau tidak jarang terjadi ‘pergulatan’ yang membuatku pernah histeris. Ketika dua kakakku terlibat ‘pertengkaran hebat’ dan hampir terjadi ‘pertumpahan darah’. Entah mengapa ini terjadi? Seingatku, mereka pernah berperang dengan senjata ‘kampak’. Hahaaaaa. 😀 Sungguh lucu saat mengenangkan. Dan ujungnya adalah perdamaian. Begitu mudah mereka berdamai, setelah ku menangis dan berteriak ketakutan. Ini tragedi yang sesekali teringat olehku, tentang masa kecil kami. Namun kini, saat kami sudah besar segini, tiada lagi yang namanya perseteruan. Yang ada saling merindukan saat berjauhan. Saling mendoakan ketika raga tidak bertemuan.

***

Akhir-akhir ini aku berada di sini. Menyusul adikku yang sudah lebih dahulu merantau di kota ini. Sedangkan sebelumnya, adikku menyusul paman kami yang sejak lama merantau ke kota ini, namun gaaaaaaaaaaaa pulang-pulang. Alias sudah menjadi penduduk di sini. Maka sebagai bagian dari family, kami mengikuti jejak beliau untuk menjadi perantau sejati. Dan merantau ke kota yang lumayan dekat dari kampung halaman kami ini, menyenangkan sekali. Karena kami bisa pulang kampung sering-sering. Heheee, tentu saja kalau liburan lebih dari sehari. Sebab jarak tempuh perjalanan darat dari kota ini ke kampung halaman kami perginya tujuh sampai delapan jam saja, pulangnya juga sama.

Jarak tempat tinggalku dan adikku di kota ini, tidak terlalu jauh. Sehingga kami saling kunjung-kunjungan dalam berbagai kesempatan terbaik. Tentu saja di sela dan jeda waktu terluang. Yang lebih sering, adikku mengantar ‘sesuatu‘ ke kostanku. Dan aku pun senang saja, mendapatkan hadiah-hadiah cantik, seperti : sebungkus camilan, sekarung tissue, atau pun lembaran money, peralatan masak dan sebagainya. Intinya, dalam berbagai situasi kami saling berbagi. Walau kecil dan sedikit, namun mengesankan. Sebuah keadaan yang menyenangkan dan aku suka. Sebagai gantinya, terkadang, ku kirimi juga Oddy menu masakan sederhana hasil ‘percobaanku‘. Setelah sekian lama menjadi asisten sef Onna. Ooolalaaaa, indahnya berbagi.

Terima kasih ya Allah, menghimpun kami dalam keluarga. Walau tidak selalu dekat di mata, namun beliau semua selalu dekat di hati. #keluargabahagia

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s