Dear Mama | Mertua

Ucapan terima kasih setulus hati ku rangkai buat mama. Atas penjagaan terbaik mama buat beliau, jauh-jauh hari sebelum kami berjumpa. Atas perhatian berlebih yang mama beri, sejak dulu hingga saat ini kami bersama. Untuk kepedulian tak terduga yang mama semaikan, sedari kecil sampai beliau dewasa dan siap berumah tangga. Atas segala cinta yang mama tanam pada ruang hati beliau, hingga aku pun dapat mencicipi lezat buahnya. Untuk seluruh sayang yang mama semai pada jiwa yang beliau bawa, hingga hasilnya ku nikmati pula dengan bahagia. Wahai mama, engkau berharga sebagaimana ku menghargai ibunda.

Berkata hatiku saat ia menerima sebaris nasihat dari mama, bahwa yang menasihatiku adalah ibunda. Berseri jiwaku seketika ketika engkau menyampaikan ungkapan hatimu, karena segera ku mengingat ibunda. Tertegunku atas teguran yang engkau sampaikan dengan lembut, karena mengingatkanku kepada-Nya. Ya, sebab ku menyadari kebersamaan kita, pertemuan kita, perkenalan kita, adalah dengan izin-Nya semata. Maka segera pula ku kembalikan kepada-Nya ingatan ini. Supaya tenang dan tenteram hatiku. Ketenteraman yang ku rasakan meneduhkannya. Seperti teduhnya pandangan mama saat menasihatiku, memperhatikanku, memedulikanku, menyayangiku, mencintaiku, mensenyumiku, membuatku kembali senang.

"Peduli tanda sayang. Perhatian tanda cinta. Maka saat engkau memedulikanku, aku pun tahu engkau menyayangiku. Kepedulian yang tidak pernah ku duga. Perhatian yang tidak pernah ku sangka. Ya. Hanya meski oleh sedikit sapa, walau dengan sepatah kata tanya. Aku terharu, teringat-ingat, lalu, menuliskannya seperti ini, melegakanku. Karena dengan cara begini aku membalasnya. Meski engkau tak tahu. Walau engkau tidak akan pernah tahu. Bahwa sungguh memedulikanmu, memperhatikanmu, menanyai dan menyapamu selalu. Di sini, dari ruang hatiku, merindukanmu saat kita berjauhan dan mendoakanmu."

Buat mamamu, tertuju ungkapan terima kasihku. Sebagai wujud syukur atas hadirmu dalam perjalanan hidupku. Bersama beliau engkau bertumbuh besar hingga secakep ini. Melalui beliau engkau belajar menjalani hidup hingga sepintar ini. Di dalam asuhan beliau engkau beranjak usia demi usia hingga semenarik ini. Sehingga aku tertarik untuk menjadi bagian dari kehidupanmu pula. Bersama keyakinan, keteguhan dan kepercayaan yang mantab. Bahwa bersama kita bahagia. Hingga mamamu adalah mamaku juga. Aha, bahagiamu bahagiaku juga, begitu pun dengan sebaliknya. Saat engkau kecewa atas sikapku, kecewa itu juga milikku. Hu um. Betul. Karena aku, engkau, adalah kita sejak bersama. Maka, segala yang engkau rasa, menebar di sini ke ruang hatiku pula. Segala yang memenuhi ruang pikirmu dan engkau menyampaikannya, maka bagiku menjadi ingatan selamanya.

Wahai engkau, sejak awal kita memang asing. Namun keasingan tiada sejak kita bersama. Walau awal berjumpa, engkau masih asing bagiku. Engkau yang belum lama bersamaiku. Begitu pun denganku. Kehadiranmu baru beberapa waktu dalam hidupku. Oh, semua penilaianmu padaku, atas sikapku yang masih jauh dari prediksimu, aku memahami. Namun seiring waktu, sepanjang hari, kita akan saling dan terus mengenal. Berbagai kesukaan dan ketidaksukaan kita saling beritakan. Berbagai harapan, keinginan dan impian, kita saling percayakan. Berbagai kisah dan pengalaman, kita saling pertukarkan. Berbagai pesan, kesan, kita saling bagikan. Sehingga persamaan pemikiran yang tidak akan pernah tertemukan, mengingatkan kita bahwa kita ada untuk saling melengkapi. Sehingga perbedaan yang kita temukan, memberi kita kesempatan untuk saling memahami.

Belum terhitung tahun usia kebersamaan kita hingga detik ini. Sejak mama kita menjadi sama. Mamamu mamaku juga. Maka sepanjang kebersamaan kita ini, sangat banyak hikmah, pesan, nasihat, petuah pun harta karun yang ku peroleh dari beliau. Termasuk harta warisan sepanjang sisa usiaku, mewujud dirimu. Harta yang beliau titipkan padaku sebagai amanah baru. Harta yang ku peroleh tidak cuma-cuma. Namun ada yang rela mengorbankan dirinya demi aku. Ada yang melepaskan harta paling berharganya untukku kemudian menjadi bagian dari hidupku. Ada yang mau berbagi kasih sayang denganku. Sungguh, kemuliaan beliau terbitkan syukur di hari-hariku. Karena itu, aku menyadari siapa aku bagimu. Kami merupakan perempuan yang mempunyai hak darimu. Namun hak beliau, perempuan yang melahirkanmu, masih ku perlu tahu. Ku baca buku-buku tentang mertua. Ku selami lautan ilmu tentang menantu. Ku cari himpunan catatan tentang suami. Hingga dalam proses pembacaan, penyelaman, pencarian, tersebut, aku sering tersenyum… saat ku tahu, banyak sungguh yang belum ku tahu. Maka aku berjanji dengan diriku untuk membaca lagi. Lagi dan lagi, ku mengerti ilmuku tentang semua masih belum apa-apa. Karena ternyata sebuah ‘keluarga yang kita bangun’ adalah lembaga pembelajaran berikutnya. Maka selamanya… bersamamu, aku belajar lagi. Demi kebaikan kita semua. Demi hari ini yang penuh senyuman dan hari esok bersama harapan terbaik.

Karena belajar itu menyenangkan. Maka aku suka suka suka suka suka belajar. Cinta sangat. Seperti cintaku pada mentari yang terkadang bersinar cemerlang sepanjang siang. Namun kini, walau sinarnya tertutup awan, aku masih dan selalu mencintainya. Seperti itupun cintaku padamu.

Catatan ini untuk masa depan. Karena beberapa saat setelah ia tercipta, kesadaranku kembali. Kembali ke realita. Hahaaay, bangun lagi dari mimpi.

***

Today without you, mentari …
Engkau mentari di hatiku. Walau engkau tiada mensenyumiku saat ini, senyuman ini ku jaga masih menemani diri. Hingga ku rasakan indahnya hidup bersama senyuman.

For : Putra mama mertua, tolong sayangi mama… sebagaimana beliau menyayangimu sejak tiada. Karena senyuman mama sepanjang hari-hari beliau adalah senyumanku juga. Salam buat mama ku kirimkan lembut melalui semilir angin yang menepi di pipiku. Pipi yang mengembangkan senyuman saat ia mampir di sini. Senyuman ini buat mama, specially. #saatimpianmenjadisenyuman

🙂 🙂 🙂

Advertisements

6 Comments

        1. Aamiin, iya teh Mpus di waktu terbaik. Tujuannya biar bisa mengabadikan senyuman. 😀 Karena kalau begini rasanya bahagia ajhaa. Terima kasih yaa doanya, dan mampir menyapa. Semoga begitu juga dengan Teteh yaa, kips spirit ! Happy Day. 🙂

          Liked by 1 person

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s