Bagiku, tetangga penting sekali. Tetangga yang sehati. Tetangga yang sejati. 😉

***

Namun saat semua masih mimpi? Tentang tetangga yang berhati baik, aku mendamba. Sudah sejak lama, lamaaaa sekali. Dambaan yang membawaku mengingatnya selalu. Ingatan yang memberi ruang pada tetangga untuk menempatinya.

Ya, di manapun aku berada, tetangga adalah ingatanku lebih utama. Apalagi saat pindahan ke lokasi baru. Maka, di lokasi yang belum pernah ku berada tersebut, tetanggalah yang pertama kali ku cari. Karena sejak kami berdekatan, kami menjadi saudara yang paling dekat. Mengapa? Karena tetangga adalah pengganti keluarga saat kita jauh dari mereka.

Ya, tetangga yang paling tahu lebih awal kondisi kita, ketika keluarga belum sampai menemui kita. Misalnya saat kita meninggal, sakit, atau butuh pertolongan mendadak, wallahu a’lam bis shawab. Maka membaiki tetangga adalah keutamaan. Berbagi dengan tetangga adalah kewajiban kita. Walau bagaimanapun, tetangga adalah mereka yang sangat dekat dengan kita.

Beberapa hari yang lalu, aku teringat dengan tema ini. Sehingga aku ingin mengurai tentang tetangga ‘lagi’. Setelah pada catatan sebelum-sebelumnya pun aku pernah menyinggung-nyinggung ‘sedikit’ tentang tetangga. Mungkin sudah lama. Makanya, sejak ingatan hadir lagi beberapa hari yang lalu, aku masih menyimpannya dalam ingatan saja. Karena ku pikir, sudah ku ungkap keinginanku tentang pertetanggaan. Namun semakin ke sini, aku keingat-ingat terus. Ingatan yang mengajakku untuk segera merangkai catatan tentang tetangga ‘lagi.’ Walau begitu, aku masih bersikukuh untuk tidak membahas tetangga. Hingga akhirnya … kesempatan itu tiba. Aku harus sudah mengurainya, segera. Harus. Tidak bisa lagi ditunda.

Aku memang begini. Akan selalu keingatan dengan sesuatu yang ku ingat, kalau ku belum menuliskannya. Maka, setelah menuliskannya, sejenak ku menjadi lega. Kelegaan yang menelurkan senyuman pada ruang hati. Kemudian menetas di pipi. Aku tersenyum dan senang-senang saja, saat sebuah catatan hadir. Apakah dalam bentuk curahan hati, atau sekadar menebar uneg-uneg tak jelas. Ah! Apapun yang terjadi, semua ada untuk mengingatkanku lagi tentang keadaan yang ku alami. Termasuk dengan catatan saat ini. Ya, catatan ini adalah tentang tetangga.

Aku di sini, jauh dari keluarga. Aku di sini, belajar hidup bersama warga sekitar. Warga yang ku temui sejak ku merantau ke kota ini. Kota yang asri, dengan penduduk beragam ras dan berbeda keyakinan. Ada suku Melayu, Batak, Minang, Jawa, Sunda pun keturunan Tionghoa, dan sebagainya. Mereka adalah tetangga-tetangga ku di sini. Walaupun keyakinan kami berbeda, namun tidak menghalangi kami untuk berinteraksi satu dengan lainnya. Sehingga sejak sampai di sini, aku kembali ingat bahwa semua pasti ada hikmahnya. Supaya ku mau menjadi pribadi yang mengerti, menghormati, sayang menyayangi, dan tentu saja sebagai cara belajar bersosialisasi lagi.

Tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Terkadang memang begini. Aku sering merenungkan akhir-akhir ini. Termasuk keberadaanku di sini. Tiba-tiba sudah berbaur dengan karakter-karakter insan yang sungguh beragam. Semua mengingatkanku akan negeri tercinta ini. Negeri yang terdiri dari kumpulan pulau-pulau, perbedaan ras, golongan dan kepercayaan. Negeri yang masih ku tempati. Negeri yang indah dengan perbedaan yang ada bersamanya. Negeri yang tidak akan pernah ku lupa. “Indonesia, tanah air beta.”

Kembali lagi ke tetangga. Di sini kami berinteraksi seperti apa adanya. Saling menghormati dan membantu. Saling mempercayai dan tidak mengganggu. Saling menolong dan memahami satu dengan lainnya.

Semoga, tetangga-tetanggaku sehat selalu. Terima kasih untuk kebaikan demi kebaikan yang engkau bagikan. Walau kebersamaan kita belum terhitung tahun. Namun sudah banyak kesan yang engkau selipkan di dinding hatiku. Tentang keramahanmu, tentang penjagaanmu, tentang ketulusanmu, tentang keceriaanmu. Semua ku perhati, sejak awal kita bertemu. So, engkau menjadi menarik bagiku.

Engkau tetanggaku. Siapapun engkau. Berapapun usiamu. Bersamamu ku temukan inspirasi selalu. Ada ekspresi lucu, manis, anggun, pun misterius. Yups! Dengan karaktermu yang beraneka, aku belajar untuk memahami. Selama memperhatimu, ada saja yang ku petik hikmahnya. Baik saat kita berkomunikasi berhadapan, maupun saat ku perhati engkau ketika kita berjauhan.

Salah seorang tetanggaku Cerii pernah bilang begini, “Bahwa kunjunganku adalah untuk bersilaturrahmi.” Hihiii…  😀 Okelaahh, dengan begitu kita pun menjadi akrab dan tidak sungkan lagi. Bisa saling pinjam-meminta-(itulah gunanya tetangga)-juga sharing informasi (tapi bukan rumpi tanpa arti).

Pergaulan bertetangga kami tetap dalam batasan kesopanan dan tetap menjaga keyakinan masing-masing. Sehingga kerukunan antar umat beragama senantiasa tercipta. Hidup damai, aman dan tenteram bersama bertetangga. Hidup! para tetangga. You are my neighbour. Terkadang kami berkunjung ke rumahmu. Terkadang engkau berkunjung ke rumah kami.

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s