Semua Ini

Setiap orang punya sisi baiknya. Maka, kita perlu menemukan sisi baik tersebut, dengan cara kita. Agar ketika pada suatu waktu kita merasa ada yang berbeda, maka temukan lagi sisi baiknya. Ya, temukan sisi baik dari seorang yang berinteraksi dengan kita.

Di berbagai kesempatan terbaik, gemarlah menelusuri sisi baiknya. Lagi dan lagi, kembali dan berulang kali. Terlebih lagi saat kita ingin menjadikan orang lain sesuai kemauan kita. Ini tidak sepenuhnya bisa. Dan kalau pun bisa, mungkin peluangnya kecil saja. Karena berbedanya kepala, tentu berbeda pemikiran. Berbedanya wajah, tentu berbeda pula karakter. Berbeda orang, berbeda pula isi hatinya.

Dalam hati siapa yang tahu, maka menyelamlah selagi engkau mampu. Sedalam-dalamnya. Selami isi hatinya, maka engkau menemukan kebaikan darinya. Dari siapa saja yang berinteraksi denganmu. Temukan sisi baiknya. Agar engkau kembali tenang setelah jiwa bergejolak. Temukan sisi baiknya. Supaya engkau kembali senang setelah pikir menggelegak. Temukan sisi baiknya. Agar senyumanmu kembali terang setelah sebelumnya pipimu bengkak.

Yah, begitulah hidup. Sebagai insan sosial, kita berinteraksi dengan sesama manusia. Manusia yang berbeda pola pikir dan cara pandangnya. Kita berkomunikasi dengan karakter yang tidak pernah kita tahu isi hati sesungguhnya. Maka, siap-siapkan dirimu lebih awal. Untuk menemukan sikap terbaik yang engkau mampu. Bersikaplah sebagaimana adanya engkau, setelah menemukan sisi baik dari orang lain.

Saat engkau mendengarkan kata-kata yang kurang enak didengar, maka bersikaplah supaya engkau tidak melakukan hal yang sama. Mengapa? Agar kata-kata yang terdengar tidak semakin banyak kurang enaknya. Sedapat mungkin, belajarlah bertutur ramah nan tidak menyakitkan.

Ah, walaupun hatimu tersakiti atas ucapan yang engkau dengar, maka sekali lagi temukanlah sisi baiknya. Temukan sisi baik dari mereka yang menyakitimu dengan ucapan. Atau, bisa jadi saat engkau merasa sakit oleh ucapan, engkau sedang tidak siap untuk menerima? Maka, kembalilah pada dirimu sejati. Untuk apa engkau melangkah lagi saat ini? Apakah untuk mundur dan kembali? Atau karena engkau memiliki tujuan yang sedang engkau jelang? Ingat lagi, bahwa jangan pernah melangkah tanpa tujuan. Sedangkan hidup ini adalah rangkaian perjalanan. Sepanjang kehidupan masih berlangsung, maka engkau perlu terus berjalan, melangkah…

Saat engkau berkomunikasi, berinteraksi. Engkau tidak pernah tahu, bagaimana keadaan dia dan dirinya yang sesungguhnya di sana. Ya, diri yang berbeda denganmu. Walau pun ia ada di depan matamu dan engkau pandangi ekspresi serta rupanya. Tidak pernah engkau tahu, ada apa dalam dirinya. Tentang apa yang sedang ia pikirkan. Tentang apa yang sedang bergemuruh di dalam dadanya. Maka, kembali berpikir baik, bahwa setiap orang mempunyai sisi baiknya. Kalaupun saat ini engkau menemukan ketidakbaikan padanya, ingatlah lagi untuk berpikir ada kebaikan padanya. Kebaikan yang dapat engkau temukan.

Apalagi saat engkau berkomunikasi, berinteraksi tanpa bertemu muka. Hanya melalui nada suara. Engkau juga semakin tidak pernah tahu, bagaimana keadaan dia dan dirinya yang sesungguhnya di sana. Ya, diri yang berbeda denganmu. Ia yang tidak engkau pandangi ekspresi serta rupanya. Sehingga, tidak pernah engkau tahu, ada apa dalam dirinya. Tentang apa yang sedang ia pikirkan. Tentang apa yang sedang bergemuruh di dalam dadanya. Maka, kembali berpikir baik, bahwa setiap orang mempunyai sisi baiknya. Kalaupun saat ini engkau menemukan ketidakbaikan padanya, ingatlah lagi untuk berpikir ada kebaikan padanya. Kebaikan yang dapat engkau temukan.

“Kalau kita sudah tahu seseorang itu seperti apa, maka kita tidak akan apa-apa,” lagi dan lagi, aku sangat ingat pesan ibunda. Beliau menitipkan kalimat ini padaku dulu dan dulu sekali. Sudah lama. Beliau berpesan padaku, tentang hal ini, karena aku akan pergi djauh dari beliau.

Ya, raga kami akan berjarak tidak lagi sedepa. Saat kami tidak lagi dapat bersama seperti biasanya. Maka, sebelum melepaskan aku melangkah, beliau menitipkan kalimat ini. Kalimat yang menemaniku saat berinteraksi. Kalimat yang ku ingat lagi, seiring dengan ingatanku pada ibunda. Beliau yang sering membaikiku, walau terkadang tidak ku sadari. Beliau yang rela melepasku pergi jauh sekali, untuk melanjutkan langkah di bumi. Beliau yang memberiku kesempatan untuk melihat-lihat ‘negeri orang‘. Beliau yang memberiku kepercayaan, sehingga ku percaya dapat bertemu diri. Walau tidak mudah menemukan diri. Walau ada sepotong hati beliau yang ku ajak pergi bersama diri. Ai! dalam hal ini, ku merasa tidak pernah ‘sendiri’ lagi. Setelah ku menyadari, kami selalu bersama.

Ingatan pada ibunda, menguatkanku lagi. Ketika ku mulai rapuh. Saat hatiku luluh. Bahkan ketika ragaku mau runtuh ke bumi. Iya, beliau adalah salah satu alasanku di sini. Untuk memberikan secuplik bukti dan bakti. Beliau adalah salah satu alasanku juga, untuk kembali berdiri. Melangkah, berjalan dan berlari sesekali. Supaya ku sampai di lokasi yang ku impi. Supaya ku bertemu dengan orang-orang yang baik hati. Seperti doa beliau dalam berbagai kesempatan terbaik kami berkomunikasi, “Semoga engkau bertemu dengan orang-orang baik, membaiki, dan kebaikan mengelilingi, ya Nak.” Aku mengamini dan meyakini, ada kebaikan untuk diri, dari sesiapapun aku berinteraksi. Ada kebaikan untuk ku petiki, di berbagai komunikasi yang ku alami. Semua, ada hikmahnya. Aku yakin, sangat yakin.

“Seorang yang sejak terlahir, masa kecil belia, remaja… tidak banyak komunikasi. Lebih sering menerima tanpa banyak bicara. Aku menyadari diri. Sehingga sejak suatu hari, ku tidak sanggup lagi menerima saja. Aku pun ingin memberi. Memberi suara yang ku miliki. Supaya tidak penuh di diri ini. Karena bisa-bisa ku tidak bisa berdiri. Terus menerima, tanpa memberi. Tanpa bergerak, apalagi melangkah. Maka, ku mulai menemukan cara untuk menemukan diri. Ku urai segala yang ku rasa. Ku berai segala yang memenuhi ruang pikir. Aku belajar berbagi. Walau berbagi suara hati. 😀 Hhihiii. Dan ternyata ini sangat membantuku kembali berdiri, tegak dan melangkah lagi. Setelah ‘hati berkata ia luka’, setelah bulir bening permata kehidupan tak mampu lagi mengalir di pipi.”

Buat sesiapapun yang berkomunikasi dan berinteraksi denganku, terima kasih yaa. Untuk menitipku bait-bait inspirasi. Untuk ku bagi sebagai hadiah dari perjalanan. Untuk ku abadi sebagai kenangan dalam kehidupan. Sekali lagi, terima kasih. Terima kasih, untuk mengingatkanku lagi tentang diri. Untuk mengenalkanku pada duniamu. Dunia yang ‘mungkin‘ tidak pernah ku alami, kalau kita tidak berkenalan dan bersapa. Dan dengan adanya interaksi antara kita, maka secara tidak langsung ku memasuki duniamu. Begitu pula denganmu. Engkau pun datang di duniaku. Sehingga, kita adalah insan sosial yang saling bersinergi.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s