Dapek nan di Hati Indak Dapek Bakandak Hati

Dapek nan di hati, indak dapek bakandak hati, begini nasihat orang tua-tua kami di ranah minang. Maksudnya adalah, saat kita dapatkan semua yang menjadi keinginan hati kita secara sempurna, namun kita tidak dapat melakukan segalanya sekehendak hati. Karena begitulah kehidupan mengajarkan kita. Kehidupan yang kita jalani saat ini dan masih berlangsung.

Saat kita dapat menjalankan segala sesuatu sesuai kehendak hati kita, namun kita tidak dapatkan semua yang menjadi keinginan hati kita. Itulah kehidupan, beginilah pepatah yang orang tua ajarkan sejak mula. Maka, untuk menjadi pribadi yang bijaksana, sering-seringlah menyimak petuah tetua. Untuk menjadikan kita pribadi yang sahaja berendah hati dengan yang ada. Untuk mengingatkan kita supaya tidak jumawa namun gemar mengenal diri. Semoga, langkah-langkah kita untuk menjadi insan yang taqwa, Allah permudah, yaa.

Maka berdo’alah begini, “Ya, Allah pertemukan aku dengan jodoh yang penuh kebaikan. Baik untuk dunia dan akhiratku.” Suara ramah beliau masih terdengar olehku hingga saat ini. Ketika beliau sudah menjauh pergi. Entah akan kembali lagi atau kami sudah tidak dapat bersua. Makanya, untuk mengabadi secuplik pesan beliau siang ini, ku ingin mampir lagi di sini. Kemudian ku curhati diari, sebagai perwakilan diri. Tentang segala yang ku rasa, tentang segala yang ada. Tentang dunia yang nyata. Ya, ini bukan mimpi, kawan. Apalagi untuk menduga-duga. Karena semua ada dan terjadi untuk mengingatkan kita, tentunya.

Aku terharu mendengarnya. Ada gemuruh di dalam dada. Sedangkan di kedua kelopak mataku bendungannya siap tumpah. Namun tidak ada airmata yang keluar. Hanya desau airmata yang ku rasa, memenuhi ruang mata. Berat, semakin berat terasa. Desakan yang berasal dari dalam dada, mendorongku untuk segera meluahkannya.

Segera, ya, segera. Sebab kalau ku biarkan diriku berlama-lama dengan kondisi yang sama, airmata akan tumpah juga. Namun aku tak ingin semua berlangsung saat ini. Aku tidak ingin menangis lagi, untuk hal-hal tak jelas. Namun kalau untuk sebuah alasan pasti, aku rela mengalirkan bulir bening permata kehidupan ke lembaran pipi, kapan pun. Ya, dengan alasan yang jelas saja, yaa. Bukan untuk saat ini. Aku belajar tegar dan mendewasakan diri, ceritanya. Hihii. 😀 Maka ku tertawai saja diri sendiri, lalu kami merangkai kalimat lagi.  Eiya, apakah orang dewasa dan tegar itu tidak penangis?  Atau tidak pernah menangis? Atau tidak mau menangis?

Aku masih terharu, saat beliau bersiap melangkah untuk meninggalkanku. Aku terharu karena beliau masih sempat memandangiku. Beliau yang menyampaikan sebuah kalimat di awal catatan ini, saat kami bertukar informasi hari ini. Sebuah kalimat yang tidak asing lagi, di telingaku. Karena seingatku, aku pernah mendengarkan kalimat serupa, semirip dan memang begitu bunyinya, dari seseorang lainnya. Beliau adalah ibunda.

Dulu, beberapa tahun yang lalu. Kalau tidak salah, dua tahun. Aku menerima kalimat tersebut dari ibu, saat ku jauh dari beliau. Ketika ku masih berada di perantauan dan kami bertukar suara. Ketika itu, siang hari. Ya, siang hari seperti ini. Saat ibu menasihatiku dari jauh. Saat beliau memberiku wejangan tentang kehidupan. Ketika beliau memberiku bait-bait nasihat penuh arti. Dan satu kalimat diantaranya adalah kalimat tadi. Kalimat yang ku resapi benar-benar, setelah mendengarkan dari beliau. Kalimat yang ku hayati sepenuh hati, setelah ia sampai di indera pendengaranku. Kalimat yang membuatku meyakinkan diri dari hari ke hari. Bahwa kalimat yang beliau sampaikan benar adanya. Kalimat yang ku kunyah-kunyah sebagai cemilan di waktu-waktu luang. Kalimat yang ku jadikan pencuci mulut setelah waktu makan usai. Kalimat yang ku minum berteguk-teguk, saat ku haus dalam perjalanan. Pun kalimat tersebut ku hiasi dari hari ke hari, di dinding hati. Sampai akhirnya, kami berteman setiap hari. Kami bersenyuman seringkali.

Ya, kalimat tersebut kembali ku terima hari ini. Saat siang begitu terik, mentari bersinar kuat. Aku terharu saat menerimanya. Karena yang menyampaikan padaku bukan orang biasa. Namun beliau adalah seorang bapak yang sudah lanjut usia. Beliau adalah bapak panutan bagiku di sini. Beliau yang sering menyelipkan nasihat-nasihat bernas dalam berbagai kesempatan kami bertukar informasi. Beliau yang sudah banyak mengecap asam dan garam kehidupan. Beliau yang ahli dalam hal pernasihatan. Beliau yang sahaja, rendah hati, pun kaya harta, aslinya. Namun beliau berpenampilan sederhana.

Senang dech, bertemu figur orang seperti beliau. Senang dech, bersamai beliau dalam kesempatan terbaik kami bertukar suara. Aaaah, aku sungguh masih ingin menangis saat ini. Bahkan saat ku sedang berusaha meluruhkan segala isi hati melalui kalimat. Cara yang biasanya ku lakukan untuk meredupkan gejolak di dalam dada ku. Agar jiwa ku damai lagi, supaya pikiranku tenang lagi. Namun kini, sampai pada detik ini, aku sungguh ingin menangis. Sure. Ai! Cengeng ya, aku memang begini.

Sebagai seorang yang masih sedang melanjutkan perjalanan di dunia ini. Bersama kehidupan yang masih berlangsung. Maka sedapat mungkin ku belajar lagi dan lagi. Belajar dari yang dekat pun yang jauh. Berjuang menata hati, pun pikiran. Berusaha untuk menjadikannya lebih baik dari hari-hari yang lalu. Maka, saat begini kondisi yang ku alami dulu-dulu sekali, maka ku segera menangisi. Aku segera meluruhkan bulir bening permata kehidupan di pipi. Kemudian terasa lega di hati. Sejuk ia kembali. Namun kini, ku berusaha mendata diri.

Lagi dan lagi, sering ku mengintrospeksi diri. Dengan cara bertanya padanya, pun bertanya pada sekitar. Kira-kira, apa yang salah dari diri? Sampai keadaan begini ku alami? Sampai saat ini begini kondisi yang ku jalani? Bukan untuk mencari-cari alasan untuk membela diri. Namun supaya ku tahu, sejauh apa ia menjadi tahu diri. Untuk tetap bersyukur dengan yang ada. Untuk belajar bersabar dengan yang tiada.

Sering-sering ku melangkah di bumi. Melanjutkan perjalanan untuk memperhati banyak ciptaan-Nya yang bertebaran di bumi. Untuk menjadi jalan kembalikan ingatanku lagi pada Ilahi. Semoga, dengan begini, merupakan salah satu jalan ku kembali. Kembali pada diri yang sejati. Bukan malah menjadi tidak mengenali diri. Bukan. Bukan. Karena aku masih menyadari. Siapa aku dan mau ke mana? Bagaimana cara menjadi lebih baik dari dirinya kemarin? Bagaimana supaya hari esok menjadi lebih baik juga? Aku masih belajar tentang hal ini. Maka, dalam banyak kesempatan terbaik, ku tanya diri, ku tanya sesiapa pun yang ada di sekitar. Apakah begini yang ku inginkan?

Terkadang yang ku inginkan, namun belum menjadi kenyataan.

Terkadang yang tak ku inginkan, bertebaran, berdekatan dengan diri. 

Lalu, aku bisa apa dengan segala yang ada?

Aku bukan berdiam diri, bukan juga tak berusaha. Namun dengan kembali menyadari diri, akhirnya lega ku rasa. Ada rasa nyaman dan tenang mendekati jiwa. Aku bahagia, dengan segala yang ada. Sebahagia-bahagianya. Karena aku memang tidak pernah sendiri. Karena aku bersamamu.

Kita sama.

Engkau pun sama, teman. Engkau tidak sendiri dengan problem-problem yang engkau alami. Maka, tersenyumlah menjalani masa. Semua ada maknanya. Ku titip pesan ini untuk sahabat baikku yang suka galau dan masih bergalau dengan diri. Kelak tiba masanya, di masa yang tepat, engkau pun merasai yang orang rasakan, seperti curhatmu di awal malam kemarin. Sabar ya, sedikit lagi… Allah tak pernah ingkari janji. Engkau harus yakin dan ikhlaskan. Sekali lagi, tersenyumlah, karena aku bersamamu. Walau diriku satu, jadikanku seribu di matamu. Sehingga semangat yang engkau peroleh melaluiku, menjadi beribukali lipatnya, setiap kali kita berpandangan. 

Ku lihat bening matamu penuh ketulusan, di sana terpancar harapan terbaik. Ya, masih ada harapan di bola matamu yang lentik. Jaga ia bersamamu, dan teruslah berjalan, melangkah dan berdoa. Bila tiba masanya, ku ingin bola matamu tetap berbinar cerah seperti saat kita berbagi kisah tentang diri. Tetap tulus yaaa, as I known your best self.

Seperti halnya yang ku alami, ternyata aku tidak sendiri. Sungguh dan benar adanya. Bahwa, setelah bertukar kisah, setelah berbagi informasi, bertukar cerita dan pikiran. Ternyata, nun di luar sana, keadaan serupa dengan diri, juga ada yang mengalami. Walau cerita kami tidak sempurna samanya, namun mendekati. Semirip-mirip pinang dibelah dua, kalau mau kita perbandingkan yaa. Maka, aku kembali mau tersenyum dan mensyukuri yang ku jalani.

Aku melangkah lagi dengan anggun di bumi ini. Sebab, semua pasti ada hikmahnya kalau ku mau memetik makna. Semua ada maksud-Nya, kalau ku kembalikan kepada-Nya. Aku masih belajar. Belajar lebih banyak lagi, tentang segala yang engkau tahu dan ku belum ketahui.

Ku masih belajar tentang yang ku tahu, agar lebih paham lagi. Sebab ku menyadari, lembaran hari yang kita jalani adalah kesempatan untuk diri. Supaya ia mau mengukir kisah bersamanya. Kisah yang kita hiasi dengan sikap kita saat menjalaninya.

“Jangan paksakan diri untuk tidak menangis, kalau engkau mau menangis. Karena air mata ada, untuk menunjukkan bahwa engkau tak setegar itu. Kalau hanya tidak menangis engkau bilang lebih tegar, bukan, bukan. Justru ketegaran sejati adalah saat jiwamu masih mau meneruskan perjuangan, wajahmu masih mau tersenyum, setelah mengalirnya bulir permata kehidupan di pipi.”  -Di ujung catatan ini, tangisku pecah. Karena aku punya hati, seperti engkau yang juga menangis. Alasanmu, karena engkau punya hati, sepertiku. Kita sama, masih sama. Tidak berbeda. Ah, setelah ku pikir kita memang ‘tidak berbeda’.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

One thought on “Dapek nan di Hati Indak Dapek Bakandak Hati

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s