Malu Bertanya Jalan-Jalan

“Jadikan kesempatan, waktu, berada di daerah asing sebagai wahana memetik ilmu baru.”

***

“Yha, pepatah lama Malu Bertanya Sesat di Jalan tidak berlaku di era ini. Karena zaman sekarang, Malu Bertanya Jalan-jalan,” celetuk sang kondektur. Saat aku baru saja masuk ke dalam bus ke empat dan kemudian bersiap-siap duduk di kursi yang masih kosong. Sedangkan di kursi-kursi lainnya, terlihat empat orang gadis belia, berpakaian sekolah. Mereka akhirnya ku ketahui, sedang jalan-jalan. Karena sebelumnya sempat malu bertanya sebelum naik bus. Hahaaa… 😀

Kejadian mirip dengan yang ku alami beberapa puluh menit yang lalu. Ketika aku harus berjalan-jalan juga. Karena malu bertanya? Walau aku sudah memberi informasi pada sang kondektur, di bus sebelum dan sebelumnya? Tapi ternyata tidak cukup. Kita harus bertanya, agar tak jalan-jalan. Tapi kalau mau jalan-jalan, …???     😆

Pada bus yang sebelumnya ku tumpangi, di awal naik, aku bilang begini, “Mau ke Tabek Gadang, ya Bang.” Saat bilang gitu, aku sudah berada di bus kedua.  Seraya menunjukkan tiket yang sudah ku peroleh. Sesuai dengan petunjuk dari sang kondektur bus pertama.

Aku naik bus kedua, di halte transit. Karena bus pertama yang ku tumpangi memiliki tujuan lain lagi. Tidak langsung ke tujuan yang ingin ku capai. Tentang hal ini, aku pernah mengalami. Bahwa saat naik bus di kota ini, kita bisa transit-transit dulu sebelum ke tujuan.

***

Ya, sebelumnya aku naik bus juga. Pada saat itulah aku memperoleh tiket. Di Bus Pertamabegini ku namai armada awal yang ku tumpangi. Aku sempat bertanya panjang kali lebar ditambah tinggi pada kondektur bus. Kondektur cantik berjilbab rapi. Sehingga ku leluasa bertanya dan kami pun bersenyuman. Aku senang, karena beliau baik dan memberi penjelasan rinci padaku. Aku suka dengan penjelasan beliau yang memuaskan. Aku bertanya, karena ini adalah perjalanan pertamaku dengan bus serupa. Dan rute yang ku tempuh juga pertama kalinya. So… sepanjang jalan-jalan yang kami lalui, merupakan pemandangan baru bagiku.

Setelah sampai di halte transit sesuai petunjuk sang kondektur cantik, bus pun berhenti. Sang kondektur bilang, “Nanti naik bus panjang biru, ya Kak. Bilang mau ke halte Tabek Gadang. Dari sana kakak naik bus no-O6” beliau memastikan lagi. Supaya aku tidak salah naik bus. Aku pun mengiyakan dan mengangguk. Lalu, turunku dari bus dengan perasaan senang, berbunga-bunga. Karena saat tiba di daerah baru seperti ini, pikiranku cerah dan terang. Hiyyaaa, sure.

Sesampai di halte transit, aku menuju tempat duduk yang tersedia. Tidak ada sesiapa di sekitarku. Halte sedang sepi. Namun bukan sunyi, karena masih ramai nuansanya. Sebab, kendaraan melaju berkejaran di jalan depan halte. Nah, untuk memeriahkan penantian bus, maka aku menikmati segelas es cendol yang ku bekal tadi.

Walau ini bukan perjalanan wisata. Namun ku hargai ia sebagai jalan-jalan sederhana dengan membawa bekal. Saat melanjutkan perjalanan di wilayah baru, tentu menjadi semakin berkesan. Karena kita tidak perlu kehausan dan atau kelaparan sepanjang jalan. ==>Ah, ini hanya kebetulan. Tadi aku dan teman-teman beli es cendol sama-sama, lalu punyaku belum habis. Dan aku harus melanjutkan perjalanan. Maka, ku bekal saja supaya tidak mubazir.

Tidak lama setelah sampai di halte transit, bus kedua pun datang.

Di atas Bus ke Dua. Aku pun duduk manis. Setelah memberi tahu pada sang kondektur tampan berlesung pipit, tujuan pemberhentian ku. Aku menikmati perjalanan, sambil memperhatikan sekitar. Aku menghayati setiap detik, seraya mensyukuri waktu. Aku tahu, perjalanan ini sangat berkesan. Karena aku sedang menjejak di rute baru. Dan tentu saja ada pemandangan baru di depan sana, untuk ku. Yuhu, bukan hanya untukku, namun untukmu juga, kawan.

Tanpa terasa, waktu berlalu. Semenit, dua menit, hingga sampai pada hitungan jam. Setelah beberapa penumpang turun dan naik silih berganti. Maka sampai detik berikutnya, aku pun mau memastikan jarak yang ku tempuh. Apakah masih jauh?

Lalu, ku bertanya pada seorang ibu baik di sampingku. Tentang tujuan pemberhentianku. Dan dengan ramah beliau bilang, “Tadi, di halte Ibu naik, halte Tabek Gadang.” Huhuhuuuu, aku kelewat halte, ternyata. Ibuuu, jadinya bagaimana? Aku mulai panik. Sedangkan pada sang kondektur tampan yang sedang berdiri di ujung bus, ku pandangi saja. Mataku berbicara, bibir tak mampu berkata-kata. Aku kelu. Dan solusinya adalah, aku ikut saja dengan bus sampai ujung, terus nanti pindah bus. Oh, lalaaa… “Baiklah, hiburku pada diri. Ia kembali tenang dan duduk manis seperti semula.”

Dan benar saja, di depan sana, di ujung tujuan bus, ada pemandangan rupawan yang tersedia. Ada pemandangan alam yang sungguh luar biasa. Aku bahagia, karena kelewat. Aku senang aja, karena ternyata ada hikmahnya. Kalau tidak ada episode kelewat halte, aku belum tentu dapat sampai di lokasi tersebut. Entah kapan aku ke sana. Ya, sering ku belajar untuk mengambil hikmah dan memetik sisi positif dari apa yang ada. Supaya ada kesan bermakna yang ku bagi. Semoga menjadi jalan bagiku untuk tersenyum lagi. Mensenyumi waktu dan membiasakan bersikap baik dalam berbagai situasi.

Beberapa saat setelah bus kedua sampai di lokasi tujuannya. Maka sang kondektur pun memberi instruksi agar kami pindah ke bus berikutnya yang siap beroperasi. Dan sebelum naik bus pindahan tersebut, aku konfirmasi ulang pada sang kondektur tampan berlesung pipit tadi. Untuk selanjutnya bagaimana lagi dan bagaimana lagi. Beliau menjelaskan rinci. Nanti, begini dan begini… Aku ingat sebuah informasi penting yang beliau sampaikan bahwa, “Sesampai di halte Tabek Gadang, aku harus menyeberang melalui jembatan penyeberangan. Lalu menunggu bus berikutnya di seberang, yaa. Dan nanti kasih tahu ke kondekturnya, yaa.”

Siip, sip, baik, oke, dech, terima kasih Bang,” jawabku penuh kebahagiaan. Karena aku sudah mendekati tujuan. Ingat waktu, ingat waktu, sudah terpakai di perjalanan panjang tadi. Sesungguhnya ini perjalanan penting, bukan hanya jalan-jalan.

Tidak berlama-lama berada di Bus pindahan setelah bus kedua, sampailah kami di halte Tabek Gadang. Benar saja, sang kondektur di bus pindahan, baik padaku. Lalu, aku pun turun, dan sempat bertanya pada beberapa penumpang. Kalau mau ke … (ku sebutkan posisi tujuanku) nunggu bus di mana, ya Bu? Ibu-ibu nya baik juga, dan memberi arahan supaya aku menyeberang lewat jembatan, lalu menunggu di seberang. Aha! Aku pun bergegas. Lari-lari dikit, karena aku tidak mau ketinggalan bus. Yang artinya, kalau sebuah bus sudah lewat, harus menunggu puluhan menit lagi. Padahal waktu terbatas.

Aku berlari, melangkah menaiki tangga jembatan penyeberangan yang lumayan ramai. Naik lagi, naik lagi, belok, naik lagi, sambil lari-lari. Ini baru sebuah awal, kawan. Lanjutkan perjalanan, bisikku pada hati. Kami pun bersenyuman. Lalu, tidak berapa jauh dari jembatan penyeberangan, ku lihat sebuah bus berwarna dominan hijau. Berteriakku di dalam hati. Betul, betul, seperti informasi yang sang kondektur bus pertama sampaikan, bahwa aku harus naik bus itu untuk sampai di tujuan akhir. Maka, dalam posisi masih di tengah jembatan penyeberangan, aku berlari lagi. Ini pengalaman berikutnya yang sangat mengesankan. Berkejaran dengan diri sendiri, mengajaknya untuk semangat. Dan beberapa detik berikutnya, aku duduk manis di dalam Bus ke tiga. Bus yang akhirnya menyampaikanku pada tujuan. Aku sampai di sebuah kantor pemerintahan di negeri ini. Untuk mengurus sebuah keperluan. Demi masa depan bangsa dan negara tercinta. Selanjutnya, urusan selesai, dengan baik, lancar dan senanglah hati. Sungguh senang. Tidak lama-lama. Sebentar saja, karena tidak banyak antrian.

Oiyaaa… aku di sini hanya beberapa menit saja. Sedangkan dalam perjalanan yang ku tempuh untuk sampai ke sini, sungguh lah lama. Inikah artinya bahwa : Proses memang lebih panjang dari hasil? Betul begitu kawan? Benarkah untuk mendapat hasil terbaik, kita harus menempuh proses dan perjalanan dengan waktu lama? Lagi, lagi ku bertanya. Untuk meyakinkan diri. Bahwa adanya proses untuk mengingatkan kita lagi, tentang hasil. Perjalanan mengingatkan kita lagi, tentang tujuan.

Perjalanan menjadi lama, karena kita tidak sering bertanya saat berjalan. Sehingga nyasar-nyasar dulu. Lalu akhirnya sampai juga.

Proses yang lama sebelum hasil, karena kita masih harus belajar banyak. Sehingga trial and error. Lalu akhirnya hasil muncul juga.

Urusan selesai.

Aku pun bersiap pulang.

Dalam perjalanan pulang, di Bus ke Empat, pepatah baru Malu bertanya jalan-jalan ku dengar jelas. Aha! Ini inspirasi, sebab aku baru saja mengalami. Terima kasih sang kondektur bus. Engkau mengingatkanku lagi, bahwa di zaman ini, malu bertanya membuat kita jalan-jalan. Bisa keliling kota, karena nyasar. Sebab enggak mau bertanya. Akibatnya, bisa kena marah mama… sebab telat pulang. Ini tidak berlaku untukku.

***

Untuk mempunyai pengalaman, terkadang kita harus mengalami langsung. Agar pengalaman paling berkesan kita miliki. Namun terkadang, dengan mengetahui pengalaman orang lain, kita pun dapat memperoleh pengalaman. Semoga pengalamanku tentang malu bertanya jalan-jalan ini tidak engkau alami, kawan. Karena ‘ingat waktu’. Ada tujuan penting yang kita tuju, saat melanjutkan perjalanan. Kan bisa ga sampai-sampai ke tujuan, khann? Kalau kita sering-sering nyasar? Maka, sering-seringlah bertanya kalau kita belum tahu. Apalagi masih berada di daerah baru yang berada di sana adalah untuk pertama kali. Bertanyalah lebih sering, tidak usah malu.

***

Untuk sebuah alasan, aku tidak mau menyalahkan sesiapa atas nyasarnya aku. Karena kalau pun akhirnya nyasar, aku tahu, di tempat tersasar itu ku menemukan pengalaman baru. Pengalaman yang sangat berkesan, dan menjadi bagian dari perjalanan.

Untuk sebuah alasan juga, aku bukan tipe orang yang cerewet untuk hal tertentu. Jadi, biasanya aku percaya saja. Kalau ku sudah memberitahu tujuan ku. Namun terkadang, kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Mungkin supaya kita mau berjalan-jalan lebih jauh, di alam-Nya. Dengan tujuan memetik ilmu di wilayah baru. Menemukan hikmah dalam waktu-waktu yang kita tempuh.

Demikian sekilas info, tentang perjalananku yang ku ingin ingat selalu. Perjalanan pada suatu hari yang lalu. Hari yang tidak akan pernah terulang lagi. Namun berkesan bagiku. Aku akan merindukannya lagi. Saat pergi-pergi, lalu tersasar di wilayah baru. Dari sana, ada inspirasi untuk kita semua. Bukan hanya untukku.

“Walau muter-muter ya, akhirnya sampai juga. Bonusnya inspirasi.” -Perjalanan dari Nangka ke Arengka via Arifin Ahmad, kembali lagi ke Nangka

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s