Walau Sendiri, Tetap Baik

“Tetaplah baik, meskipun membaiki diri sendiri. Karena kita tidak pernah tahu, siapa yang akan ia baiki atas kebaikan kita padanya. Sebab kebaikan itu menular. Talinya tidak pernah terputus pada satu orang. Namun bersambung dan sambung menyambung lagi, pada yang lain. Dan kebaikan itu akan kembali padamu, yakinlah.”

***

Ya, begitulah hidup. Terkadang kita menanggapinya dengan serius. Sehingga membuat kita terkejut-kejut atas keadaan yang kita temui. Terkadang kita menanggapinya acuh tak acuh. Sehingga membuat kita tertinggal dari kemajuan. Terkadang kita menanggapinya penuh ketenangan. Sehingga membuat kita semakin yakin, bahwa semua terjadi atas kehendak-Nya.

Begitulah hidup memberi kita ujian, tantangan, bahkan pelecut diri agar terjaga lebih sering. Supaya kita tidak terlena dan terbuai dengan yang ada. Namun senantiasa ingat, bahwa hidup adalah sebuah perjalanan. Perjalanan yang sedang kita tempuh dan kita berada di sana. Perjalanan panjang yang belum kita tahu batas waktu sampai di tujuan. Perjalanan yang berlangsung setiap hari, setiap saat. Perjalanan yang mengingatkan kita lebih sering, kalau kita mau mengingatnya. Perjalanan yang bukan tanpa makna, tentu saja.

Hari ini, aku kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan bersama seorang teman. Teman lama yang masih bersama. Teman sejati yang selalu sehati. Teman baik yang sering kali membaiki. Teman seperjuangan yang masih berjuang bersama-sama denganku, hingga detik ini.

Dalam perjalanan, kami selingi dengan berbincang dan bercakap. Saling bertukar pikiran dan berbagi perasaan. Termasuk saling mengingatkan tentang nasihat demi nasihat yang kami peroleh dari orang tua. Nasihat dan pesan yang tidak kami peroleh begitu saja, namun karena sebuah alasan. Karena orang tua sangat mencintai kami dan sayang tiada terkira. Maka, sesekali ku bagikan pada sahabat tentang nasihat-nasihat dari orangtuaku. Begitu pula dengannya. Ia sahabatku, pun memberiku nasihat-nasihat yang orangtuanya berikan padanya. Sehingga kami pun sama-sama memperoleh nasihat yang sama, walau dari orangtua yang berbeda. Ya, begitulah kami saling bersinergi. Untuk mengikatkan bakti pada orang tua. Salah satunya adalah dengan mendengarkan nasihat, dan mematuhi perintah, serta menjauhi larangan orangtua. Kami masih belajar tentang hal ini.

Sepanjang perjalanan yang kami tempuh, sesekali kami tertawa lepas. Ya, kami tertawai saja segala yang kami rasa. Kami tertawai juga segala yang kami jumpa. Termasuk terhadap kondisi yang selama ini kami tanggapi dengan serius. Maka bersama, kami belajar menertawai diri kami. Diri-diri yang sedang berjuang untuk mengalahkan dirinya sendiri. Untuk menjadi lebih baik dari dirinya yang dulu. Untuk menjadi lebih baik hari ini, esok dan nanti. Kami yang masih mempunyai harapan untuk hari esok yang lebih baik. Hari esok yang penuh kebaikan dan dikelilingi oleh orang-orang baik. Seperti baiknya orang tua pada kami. Beliau, membaiki kami tanpa alasan. Sungguh mengesankan. Lalu, kami pun terharu bersama, saat mengenangkan pengorbanan orang tua untuk kami. Pengorbanan yang terkadang kami abaikan, kami lupakan, kami tidak sadari. Ah… betapa tidak berartinya penyesalan.

Kami, sebagai teman seperjalanan, sering menempuh jalan yang sama. Sesekali berbeda arah dan tujuan. Sesekali kembali lagi di jalan yang sama. Sesekali juga ingin mengambil jarak untuk dapat merasakan arti kebersamaan yang sesungguhnya. Dan ternyata, bahagia itu ada saat kita bersama-sama. Sedangkan ketika jarak membentang antara kami, maka luka di hati yang terasa. Periiih, bila sehari saja tidak bersua. Adakah ini yang namanya pertautan rasa?

Baru saja, kami selesaikan satu perjalanan lagi. Perjalanan di bawah terik sinar mentari siang. Perjalanan tanpa langkah-langkah kaki. Namun berjalan dengan sekeping hati. Ia melangkah dengan hatinya, sedangkan aku pun sama. Langkah-langkah yang sangat kami hayati. Langkah-langkah yang mengantarkan kami pada arti perjuangan. Langkah-langkah yang mengingatkan kami makna berbagi kebaikan. Sahabat yang baik, ia sangat baik padaku. Dan dalam perjalanan kami, aku kembali teringatkan, bahwa sesungguhnya dengan berbagi kebaikan, kita menjadi lebih bahagia. Setingkat lebih bahagia dari pada tidak berbagi.

Ku lihat sahabatku mulai bahagia, lagi. Karena dalam perjalanan yang kami tempuh, ia menyediakan dirinya untuk membaikiku. Kebaikan yang ku selami, merupakan kebaikan yang asli. Bukan pencitraan, atau berharap pujian. Bukan, bukan. Namun tulus dan bersama jiwa yang suci.

Wahai, semoga beliau sering menerima kebaikan yang lebih baik dan banyak lagi. Sebagaimana beliau membaikiku sejak awal pertemanan kami. Sampai saat ini, beliau tidak berubah, karena memang begitu adanya ia. Seorang yang baik hati.

Terima kasih kawan, untuk menjadi bagian dari kisah perjalananku. Tanpamu, aku tidak tahu bagaimana cara sampai ke sini. Walau saat ini, beberapa saat setelah kita berpisah tadi, aku kembali melanjutkan perjalanan, sendiri. Tanpamu di sini, karena engkau pun perlu meneruskan langkah-langkahmu di jalan yang telah engkau pilih.

Engkau, hati-hati di jalan yaa, sampai berjumpa lagi. “Semoga dalam perjalananmu, engkau bertemu dengan kebaikan-kebaikan, selalu…,” doaku untukmu.

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close