Dari Sini, Ku Mengamatimu

Jalan mendaki engkau tempuh kini. Tidak ada duri melukai kaki. Karena engkau menggunakan pengaman untuk kaki-kaki yang engkau sayangi. Pun, engkau tidak peduli belukar melukai karena engkau melangkah dengan hati-hati.

Sempat ku melihatmu menyingsingkan ujung celanamu hingga setinggi lutut. Untuk merasakan dingin air membasahi setengah kakimu ketika tadi menyeberangi sungai. Sungai yang aliran airnya tenang.

Ku yakin, rumput liar lengket di sepanjang kaos kakimu. Saat engkau berjalan tanpa sepatu. Ya, engkau tidak peduli lagi. Karena engkau sedang menghayati langkah-langkahmu. Engkau menikmati setiap detik dalam perjalananmu.

Dari kejauhan, aku terus memandangimu. Ku lihat sekali lagi melalui teropong yang membantuku. Sehingga parasmu terlihat jelas sekali. Aku benar-benar yakin bahwa itu adalah engkau. Engkau yang lama ku perhati. Dan hari ini masih sama. Engkau datang lagi. Ku amati dengan teliti, seluruh gerakan kakimu saat mengayun. Yes, benar engkau yang sedang mendaki. Namun ku tahu, bahwa engkau tidak sedang menuju ke batu ini. Batu yang sedang ku duduki. Karena ketika hampir dekat ke sini, engkau tetiba sudah tidak terlihat lagi. Hai, adakah tempat terindah selain di sini yang sering engkau kunjungi? Tempat yang tidak ku ketahui?

Aku sedang duduk manis di atas sebuah batu besar di tempat yang lebih tinggi. Tempat yang sudah beberapa hari ini rutin ku kunjungi. Tempat yang ditumbuhi ilalang di sekitarnya. Ilalang pendek, setinggi lutut. Dan ia terus saja bernyanyi untukku, setiap kali semilir angin meniupnya syahdu. Aku suka, nyanyiannya yang khusus untukku. Aku yang sedang membawa uraian airmata saat menuju ke sini. Lalu, tetesannya mengenai daun ilalang yang ku dekati.

Aku tidak sengaja membasahi daunnya yang gemulai. Namun aku juga tidak kuasa menahan airmata agar tidak menetes lagi. Sehingga, aku pun tidak peduli, tentangnya yang menjadi saksi. Bahwa sebelum duduk di batu ini, aku sempat berjalan di antara helai daunnya.

Memang begini kebiasaanku. Saat raga ku tidak dalam kondisi terbaiknya. Maka, airmata mudah mengucur. Airmata yang datang begitu saja. Ia muncul dari sudut mata kiri, lalu merembes ke pipi. Kemudian jatuh cepat ke bumi. Terkadang di pangkuan, sesekali ke daun ilalang yang ku dekati.

Aku tetap melangkah, saat airmata menetes lagi. Ramai, dan tidak dapat ku bendung. Hingga kini, saat ini. Saat ku memerhatimu yang sedang melanjutkan perjalanan Engkau yang terlihat sangat hati-hati ketika melangkahkan kaki. Engkau yang tidak menyadari, bahwa aku memerhatimu sejak tadi.

Teruslah melangkah, kawan. Melangkahlah dengan teliti. Meski bukan ke sini. Karena engkau memiliki tempat terbaik, walau tidak terlihat olehku. Dan aku tidak mau menyelidiki, ke mana engkau pergi. Karena ku tidak mau mengalihkan perhatianmu dari aktivitas menghayati alam. Karena ku tidak mau juga, kehadiranku mengganggumu.

Sungguh, sungguh, ku semakin percaya kini. Bahwa dengan melakukan yang engkau sangat sukai, sampai tahap mencintai, maka engkau tidak akan peduli lagi dengan sekitar. Adakah benar pikirku tentang hal ini? Buktinya, engkau tidak mengetahui keberadaanku. Aku yang memperhatimu. Engkau yang penuh keseriusan. Engkau yang sibuk dengan langkah-langkahmu.

***

Aku masih di sini. Duduk manis di lokasi yang agak tersembunyi. Karena aku pun tidak mau ada yang mengganggu ketenanganku saat menikmati hening ini. Ya, dengan begini, dapat ku hayati segala yang ku rasai. Termasuk semilir angin menepi di pipi. Pipi yang mengering juga. Karena airmataku sudah tidak mengalir lagi. Ia telah berhenti.

Berada di tempat sunyi seperti ini, memang sering ku jalani. Walau mesti harus menempuh perjalanan jauh sekali. Aku pun tidak peduli. Karena di sini, ku menjadi lebih dekat dengan alam. Dekat dengan sinar mentari. Dekat dengan kesejukkan. Di bawah sebatang pohon rindang, di atas batu pipih lebar memanjang. Aku selonjoran, menghayati pemandangan di sana… Memandangi mu yang sedang melangkah… Mengamati. Just it.

***

Esok, ku akan datang lagi di waktu yang sama. Seperti hari-hari yang lalu. Supaya ku dapat menyaksikanmu yang sedang melangkah, mendaki, menuju lokasi yang engkau tuju. Dari sini, ku dapat menatapmu melalui sebuah teropong di genggaman tanganku. Bukan memata-matai, namun menjadikanmu sebagai salah satu inspirasi. Terima kasih ya, untuk melangkah di lokasi terdekat denganku. Dengan begini, aku punya objek untuk ku ceritai. Hihii. 😀

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close