Terima Kasih untuk “Rindu”

Untukmu. Ya, engkau. Siapakah engkau sesungguhnya? Engkau yang mengajarkanku tentang rindu. Engkau yang menitipkannya untuk membersamaiku. Engkau yang menelusup ke dalam ruang hatiku. Lalu menyemaikan sejuk tanpa ku tahu. Engkau yang diam-diam menyelinap tanpa suara. Engkau yang betah berlama-lama di sana di ruang hening dan sunyinya.

“Hai, mengapa engkau tega berlama-lama di sesudut ruang hatiku ketika tiada sesiapa di sana?,” aku bertanya.

– Engkau bilang, “Karena aku merindukanmu”.

“Cukup! Cukup! Cukuuuuuuup!,” Aku mulai jengah dengan alasanmu yang masih itu-itu saja. Alasan yang membuatku tega meneriakimu dalam keluku. Padahal bukan ini yang ku mau. Untuk ku perlakukan engkau yang ternyata sedang merindukanku. Tapi aku, sesekali memang mau mementingkan egoku. Setelah ku tahu. Siapa aku dan dirimu.

“Kita berbeda,” bisikku. Bisik yang ku lantunkan melalui dua kata. Menyampaikannya, ‘ku rasa’ sangaaaaat lirih. Namun terdengar jelas olehmu, ternyata. Haha. 😀 Aku tertawai diriku yang alpa. Aku tertawai ia yang tak perasa. Padahal sering ia bilang kalau hatinya sensitif tentang rasa.  Suara tawaku sungguh mengusik, yaa? Hingga membuatmu terlonjak dari duduk manismu.

Engkau tidak percaya. Ya, terlihat dari ekspresimu yang tertangkap oleh indera penglihatanku.

-“Serius?,” tanyamu kaget. Namun hebatnya, nada suaramu sangat tenang.

“Haah? Gimana, gimana?,” tanyaku tak mengerti. Aku sedang banyak pikiran. Sehingga melantur tak karuan. Hingga membuatmu demikian terkesan dengan dua kata saja yang ku sampaikan. “Kita berbeda.”

-“Iya, yang tadi serius, yaa…,?” engkau memelankan suaramu.

Suara khas yang sangat ku kenal. Ia menyejukkan ruang hatiku. Ruang yang semakin dingin saja sejak engkau datang. Ruang yang terkadang sunyi tanpa penghuni. Nah, saat ia dalam suasana sunyinya, engkau mengintip, lalu masuk. Sehingga kedatanganmu tiada yang mengetahui. Termasuk aku. Aku yang semestinya menjaga ruang hati dengan sebaik-baiknya. Namun, engkau terlalu cekatan. Engkau sudah punya keahlian. Terlihat dari gerak-gerikmu ketika ku memergokimu yang tiba-tiba sudah ada di ruang hatiku.

“Iya,” jawabku tanpa mengerti yang engkau maksud. Aku tidak menyadari, kata yang ku sampaikan padamu sebelumnya.

-“Baiklah,…” ucapmu melembut.

Kemudian engkau langsung berlalu. Dan tidak menoleh lagi, padaku. Mungkinkah karena engkau menyadari perbedaan kita? Atau karena engkau kecewa.

“Engkau sedih, yaa… Huuuwwaaaa. Kebahagiaanmu, bahagiaku. Percayalah.”

***

Perih ku rasakan di ruang hati. Seakan ada yang menariknya kuat. Ini ku alami saat terakhirmu meninggalkannya. Periiih, ku alami. Sungguh menyakitkan. Karena saat engkau sudah menjauh, aku mendapati sesuatu di sana. Engkau meninggalkan rindumu. Rindu yang mendekatiku, menatap penuh arti, menyampaikan suara tanpa berkata. Pada wajahnya terpancar seberkas sinar. Sinar yang menyilaukan mataku. Silau yang ku usaha tutupi dengan punggung tangan kananku. Lalu, ku dekati ia perlahan. Ku perhatikan benar-benar seluruh parasnya. Ia sangat cantik, menarik, dan mensenyumiku.

“Aku adalah rindunya yang ia sampaikan untukmu. Terima aku ya. Tolong jaga aku dengan baik, ya. Karena kini kita bersama. Aku mewakilinya membersamaimu. Jika memang, kehadirannya bukan untuk membersamaimu.” Ia menyapaku dengan suara renyah, ceria, dan membuatku tersenyum.

Dalam waktu-waktu berikutnya setelah engkau berlalu, ia menyampaikan banyak cerita dalam kebersamaan kami. Terkadang cerita tentang luka, suka, bahagia, dan bahkan juga kesedihan pemiliknya. Cerita yang membuat rindu terkadang terisak, menangis, sesenggukan, atau tersenyum dan bahkan tertawa. Rindu yang berhiaskan aneka rasa. Rindu yang mengajakku untuk mengalami hal yang sama, sepertinya. Hingga kini, saat ini, ku bersamai ia. Ku jaga rindumu dengan cara terbaikku. Maka, tenanglah di sana. Karena ia dan aku, kami baik-baik saja. Walau tiada bersamamu.

Tentang rindumu yang membersamaiku. Oo…, ternyata seperti ini rasa yang engkau bawa saat mengunjungi ruang hatiku, ya. Seperti ini yang engkau alami hingga engkau menemuiku, ya.

O, begini ya, ternyata ‘rindumu’. Aku pun mulai mengerti. Walau tidak sepenuhnya mengerti semua. Namun aku belajar tentang rindu, darimu. Engkau yang datang diam-diam, kemudian pergi dan berlalu

Terima kasih, ya. Ku menjaga rindumu ini. Ia tertinggal bukan karena engkau terburu saat berlalu pergi meninggalkanku. Namun engkau sengaja meninggalkannya agar ku tahu rasa rindumu? Betul, begitu? Dan kini aku benar-benar menikmati kebersamaan kami. Terima kasih, terima kasih, terima kasiiiiiiih…  ~ tidak terhingga.

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close