Surat Cintaku Berwarna Pink, Putih dan Hijau Muda

my-suryaUntukmu surat cinta ku yang kedua. Putih dan hijau muda warnamu. Terkadang aku tidak mau membacamu lebih awal. Karena apa? Sebab ku masih ingin menuntaskan kisah bersama lembaran surat cinta-surat cinta ku yang lain. Mereka adalah lembaran yang lebih dahulu datang darimu. Karena kondisinya masih belum rapi setelah ku membacanya berulang kali. Ah, cinta memang begini. Terkadang sampai kusut membolak-balik hingga bentuknya tak sempurna lagi. Maka ku masih betah membersamainya. Walau terkadang ia membuatku ingin mengatupkan mata berkali-kali sebab sudah terlalu lama membersamainya. Beginilah kebersamaanku dengannya surat cintaku yang pertama, ia berwarna pink.

Padamu surat cintaku putih dan hijau muda. Maka ku pinta engkau bersabar sejenak lagi, yaa. Karena selanjutnya aku akan meraihmu. Untuk ku selami makna dan pesan yang engkau bawa buat ku. Pesan-pesan berisi kisah tentang ia. Yah. Walau pun tidak mudah mengerti, aku berusaha untuk mengeja susunan katamu tentangnya. Agar ku kelarkan pula semua isi mu. Setelah ku pahami, maka ku dapat pula melipatmu dengan rapi. Selanjutnya ku tepikan ke sisi meja. Dan kemudian ku raih lagi surat cintaku yang lainnya. Ia adalah surat cinta ku yang pertama.

Surat cintaku putih dan hijau. Masih saja. Saat ini aku belum mau meraihmu, lagi. Karena surat cinta-surat cinta pink ku banyak sekali. Dan saat ku membolak baliknya satu persatu, ternyata ada yang kurang. Ah! Lagi dan lagi begini. Ada saja yang membuatku tertegun. Karena ada potongan kata yang terputus. Atau karena ada beberapa lembar belum terkirim lengkap padaku. Kalau seperti ini, bagaimana ku bisa mengerti arti cinta yang tertuju padaku? Maka, ku hubungi semua yang terlibat dan berkaitan dengan surat cinta berwarna pink ku. Ku sampaikan padanya, bahwa surat cinta darinya belum lengkap. Masih ada beberapa lembar yang terselip, di sana, barangkali. Maka, ku mohon dengan pinta terbaik. Semoga beliau mengerti. Bahwa tanpa surat cinta pink, aku tidak dapat meneruskan membacamu, wahai surat cinta hijau muda dan putih ku.

Seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini, engkau surat cinta pink ku datang lagi. Namun dalam susunan yang lain. Yap, maksud ku temamu berbeda dari lembaran sebelumnya yang ku butuhkan. Maka, ku coba bertanya ulang. Ku sampaikan tentang keberadaan kawan pink mu yang belum bersamaku. Hingga akhirnya, beberapa lembar surat cinta pink pun sampai juga padaku. Sambungan dari surat cinta pink yang sebelumnya tak lengkap.

Hai, surat cinta pink, putih dan hijau muda ku. Di sini ku ingin kabari engkau, tentang keadaan yang ku alami saat kalian belum bersamaku. Tentang siapa saja. Ya, kalian semua…

Aku memikirkanmu… ada di mana, yaa? Saat aku memerlukanmu namun engkau tiada.
Aku mencarimu… ke mana-mana? Saat aku belum menemukanmu.
Aku menyusunmu rapi… dengan detail huruf dan abjad yang tertata. Saat engkau masih tersisa, namun belum bersama urutanmu.
Aku berusaha… untuk mendatamu berulang kali. Ketika ku menyadari, aku pun pernah khilaf menempatkanmu di antara lembaran yang lain.

Ai! Belajar lagi menjadi jeli dan teliti, aku kini. Seperti yang ibu pernah pesankan dulu. Untuk teliti, periksa lagi, hati-hati dan pintar. Jangan sampai ada yang terlewatkan, atau terselip-selip. Karena mereka semua berarti, bisik beliau di antara waktu kami saling bertukar informasi. Ya, di awal kebersamaan kita, aku masih selalu saja menanyai. Yang ini mana temannya? Ini mana kelanjutannya?

Hingga kini, engkau dan aku sudah semakin akrab dan kita bersahabat. Saat engkau tiada walau sehelai, maka aku pun mencari-carimu dan menemukan informasi. Kira-kira, ada di siapa yaa? Lembaran surat cinta pink, putih dan hijauku. Begini hari-hari ku kini…

***

Hai, hari ini aku ingin ceritai engkau tentang surat cinta bergarisku juga, yaa. Dia yang terkadang ku tulis untuk mengingatkanku tentang makna cinta. Ia yang ku isi dengan beberapa catatan singkat tentang dunia ini. Ia yang mau saja menerima dengan senang hati, segala yang ku sampaikan padanya. Ia tidak polos, namun bergaris. Berbeda denganmu; surat cinta berwarna putih, pink dan atau hijau muda. Kalian memang sangat cantik dan tertata dengan tulisan-tulisan bercetak. Namun surat cinta ku yang lain ini, berbeda. Ia bergaris-garis… aku suka garis-garisnya. Sehingga ku coreti ia semauku. Terkadang juga ku hiasi dengan gambar-gambar ga jelas, entahlah… bagaimana perasaannya saat ku perlakukan begini. Namun dengan begini ku menjadi tahu, apa yang ku pikirkan pada saat menghiasinya seperti itu. Olalaaa… bukan kurang kerjaan, namun karena ada pena di dekatku. Lalu ia nempel di sana. Itu saja. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close