Ketika Rindu

my-suryaKetika rindu menyapamu. Maka sambutlah tangannya dengan lembut. Karena rindu itu halus wujudnya. Berhati-hatilah memperlakukannya. Karena ia tidak datang sering-sering. Namun hanya pada waktu tertentu saja. Misalnya, saat engkau sudah lama tidak bertemu dengan siapapun yang engkau rindu. Maka rindu datang menemuimu. Ia hadir untuk mengingatkanmu padanya. Lalu, engkau pun ingin menemuinya.

Ya. Rindu adalah wujud kecil dari keinginan untuk bertemu. Rindu yang tidak mempunyai rupa, sesungguhnya ia ada. Rindu yang terkadang memaksamu untuk melakukan berbagai cara agar dapat bertemu.

Walaupun jauh, meski memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sekalipun harus ada pengorbanan berdarah-darah untuk meluruhkan rindu. Maka engkau pasti melakukannya dengan tulus. Begitulah rindu. Ketika ia hadir, maka ia mampu menyulapmu menjadi seperti yang ia mau. Karena rindu itu sangat berarti bagimu teman, maka engkau mau menuruti maunya. Engkau pun melangkah, untuk menemui mereka yang engkau rindu.

Rindu. Memang ia tidak berwujud. Namun dengan kehadirannya, engkau dapat mewujudkannya menjadi nyata. Wujudnya adalah apa yang engkau lakukan terkait rindumu. Engkau mau bergerak, engkau berjalan, dan berjuang untuk mendekati mereka yang engkau rindu.

Rindu. Hari ini aku rindu sekali. Aku sangat rindu. Aku merindukan beliau, mereka, dia, dan termasuk engkau teman. Ya, aku merindukanmu sangat. Rindu yang ingin ku lepaskan, dengan cara menemuimu.

Menemuimu, bagaimana caranya? Engkau yang jauh di sana, tidak terlihat mata. Maka, menemuimu melalui rerangkai tulisan seperti ini, bisa juga, bukan? Sehingga kita masih dapat bertemu. Walau tidak bertatap langsung.  😉

Beginilah salah satu caraku mengelola agar rindu ku tidak semakin menumpuk, meninggi sampai membuatku sangat haru. Dengan begini, aku dapat tersenyum lagi. Dan kemudian melanjutkan langkah-langkah dengan perasaan ringan. Tidak lagi penuh oleh rindu seperti sebelumnya ku rasakan. Ya, begini ku belajar menyampaikan rindu yang ku alami. Belajar ku dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari hari ke hari, hingga hitungan windu pun lengkap sudah.

Yah, sewindu sudah ku belajar meruangkan rindu melalui rangkaian kata. Sewindu sudah ku berjuang untuk menyampaikan rinduku pada semua. Sewindu juga ku bertempur habis-habisan dengan satu kata ‘rindu’ yang terkadang menitipkan luka.

Ya, aku pernah terluka bersama rindu yang ku rasa. Karena ia (rindu) tiba-tiba datang menyapa, tanpa ku mengerti ia apa? Aku sempat bingung juga, karena tidak mengenalinya. Dan perlahan-lahan, aku mengenalinya. Kami bersapa lebih sering, bertukar rasa dalam waktu-waktu terbaik kedatangannya. Hingga kami pun menjadi akrab.

Akhirnya, aku pun sering bahagia bersamanya. Walau begitu, sedih pun tidak jarang ku alami saat ku sedang merasakan rindu. Namun yang paling berkesan dengan rindu yang ku rasa adalah, nuansanya.

Ya, karena nuansa rindu sungguh-sungguh –LuaR BiasA!-. Sehingga mau-maunya aku menyempatkan waktu untuk menepi-nepi ke sini, di sela-sela waktu ku melangkah. Ceritanya, mengabadikan rindu. Supaya ku tahu, siapa saja yang ku rindu, berapa lama ku merindu, termasuk aktivitas yang ku lakukan saat rindu menyapa. Beginilah aku, dengan adanya diriku.

Ya, aku mulai mengerti rindu, semenjak ku jauh dari mu. Setelah kita berjarak raga, tidak lagi sedepa. Dan dengan segala yang ku rasa, aku harus ‘mau tak mau harus mau‘ mengelolanya. Supaya rinduku tidak tersia. Namun ia bermakna. Agar rindu tidak hanya mampu membuat bendungan di kelopak mataku runtuh. Karena desakan kuat dari rongga dada yang sangat hebat. Lalu perlahan mengalir, menuju mata. Dan kemudian meneteslah permata kehidupan dengan bebasnya.

Dengan begini, akhirnya ku dapat tersenyum bersama rindu. Senyuman yang hadir, karena terkadang ku malu-karena aku tidak menyangka, ternyata aku begitu terhadap rindu, dulu. Senyuman yang hadir karena ku senang. Sebab ku berhasil mengelola rindu, terkadang. Senyuman yang hadir karena ku sedih, mengapa-rindu membuatku menangis pilu? Senyuman yang membuatku tertawa lepas, karena menyadari, bahwa aku pernah mengalami rindu yang membuatku hanyut bersamanya, dulu. Dan kini, ku tersenyum penuh makna, karena hari ini ada yang iseng –atau tidak sengaja? membaca catatan-catatan rinduku-.

Tanpa ku sadari, ia sibuk membolak-balik lembar demi lembar yang seharusnya hanya aku yang tahu. Karena di dalamnya ada catatan tentang rindu-rinduku.

Awalnya aku merasa asing. Namun setelah ku pikir-pikir, ah… biarlah. Memangnya rindu sebuah rahasia? Biarkan mereka tahu, engkau tahu, DIA dan juga dirinya tahu. Bahwa sesungguhnya aku pun miliki rindu yang berlebih untuk ku bagi. Karena rindu bukan hanya milikku, namun untukmu juga.

Rindu memang sebuah rasa. Namun ia ada bukan tanpa makna. Iya, kan yaa, yaaa, yaaa… 😀  Iya kan lah, ih, biar aku bahagiaaa. Hahaaa.

Seperti halnya engkau yang ‘katanya’ merindukanku. Lalu datang menemui. Sungguh, engkau pun miliki rindu. Kita sama. Maka, deal… kita saling menceritai tentang ‘rindu’. Untuk saling memberi tahu bahwa kita membawa rindu untuk kita bagi dan berikan pada yang berHAK menerimanya. Termasuk mereka, ia, DIA, dirinya, dan … tentu saja mentari yang jauh di sana. I miss you, dear.

… []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s